
Aku terlelap entah sudah berapa lama, setidaknya itu bisa mengurangi rasa mual dan peningku. Akupun tidak tahu apakah selama aku terlelap Naya dan Gia tetap ada menemaniku, atau mereka beranjak
meneruskan misi Gia.
Perlahan aku membuka mataku, kulihat Gia masih terlelap diseblahku dan Naya sedang asik membaca novel barunya
“ehhhh Ssa, kamu sudah bangun? Gimana sudah mendingan?” Naya menyadari jika aku telah terbangun
"sudah lebih baik Nay” aku menjawa pertanyaan Naya sambil merubah posisiku menjadi duduk sambil bersandar
“euhhhh kamu uda bangun sa? Jam berapa sekarang?” Gia menyusul bangun
“baru jam 13.45” Naya menjawab singkat
“lumayan bisa tidur siang disekolah, 45 menit yang berharga, sering-sering aja sekolah ngadain acara seperti ini hehhe” Gia tersenyum kegirangan
“pantesan ya anak-anak suka ada yang bolos jam pelajaran atau pura-pura sakit padahal numpang tidur di UKS, ternyata nikmat hehehhe” tambahnya lagi menikmati keadaan
“iyah harusnya sering-sering aja, biar aku bisa focus baca novelnya” Naya menyahut sependapat dengan Gia
‘Tok-tok-tokk terdengar suara ketukan pintu
“siapa itu yang dateng?” Gia penasaran
“mungkin ada peserta yang sakit kali jadi dipindah kesini?” aku menjawab realistis
“ngga mungkin, aku sudah berkeliling saat kamu d ruangan tadi, UKS tidak terpakai, posko kesehatannya dipindahkan ke ruang kelas supaya lebih luas” Gia menyanggah ucapanku
“biar aku liat dulu” Naya beranjak membuka pintu
Saat Naya membuka pintu rupanya itu adik kelas atau junior kami di excul yang mengetuk pintu, terdengar samar dari dalam anak itu berbicara dengan Naya
“selamat siang ka Naya”
“iyah siang, ada apa ya de?”
“ka, tadi Ibu Ning pembina excul meyuruh aku untuk mencari ka Arsa, aku tadi ke kelas kaka, tapi kaka tidak ada, terus kata teman-teman kaka, ka Arsa ada di UKS makanya aku langsung kesini”
“ohh gitu, Arsa ada ko itu di dalam, temui saja tidak apa-apa”
“aku menitip pesan saja boleh ka?”
“boleh”
“tadi ibu Ning berpesan supaya ka Arsa menemui Ibu ning di sanggar excul”
__ADS_1
“ohhh baiklah nanti kaka sampaikan ya, hanya Arsa saja?”
“ka Naya dan ka Gia juga deh”
“loh Arsa aja atau kami bertiga nih jadinya?” Naya menjahili, membuat bingung adik kelas itu
“kaka bertiga deh” anak itu menjawab kebingunan sambil malu-malu
“oke deh, nanti kami akan ke sanggar, trimakasih banyak ya”
“sama-sama ka, aku permisi dulu ya” anak itu berpamit meninggalkan UKS, Naya kembali masuk menghampiri kami
“Siapa Nay? ada apa?” tanya Gia yang sedari tadi sudah kepo
“junior excul, tadi dia berpesan katanya kita disuruh ibu Ning ke sanggar”
“ko tumben, perasaaanku jadi tidak enak begini ya” jawab Gia merasa khawatir
“jangan dulu khawatir Gi, kitakan belum tau kenapanya, santai saja, ayo kita temui ibu Ning supaya tidak penasaran” aku mencoba menenangkan Gia
Kami bertiga beranjak meninggalkan UKS setelah membereskannya, agar tidak meninggalkan jejak jika kami sedari tadi berada disini.
Letak sanggar excul disekolah kami berada di bagian belakang sekolah, dan terdapat kolam ikan kecil juga disana, atau kami biasa menyebutnya empang
Aku lihat suasana sekolah masih ramai, bahkan lebih ramai dari yang aku saksikan pagi tadi, ramai sorak-sorai para supporter yang menyemangati idolnya, terdengar pula dari pengeras suara, komentator yang mengomentari pertandingan sepak bola layaknya di televisi
Kami bertiga terus berjalan menuju sanggar, sambil sesekali menyapa dan sedikit bercengkrama dengan teman-teman yang kami jumpai, sesampainya di belakang sekolah ternyata tidak sedikit pula anak-anak yang sedang berkumpul di sanggar exculnya masing-masing
“hey mau ke sanggar?” seseorang menyapa kami, dia teman kami hanya saja excul kami berbeda
“hay iya nih, kemana yang lain masih pada ngumpul ko pergi?” aku menjawab sambil bertanya ramah padanya
“iyah mau kedepan dulu beli cemilan biar ngumpulnya lebih asik” jawabnya tertawa
“wihhh mantap, bolehlah boleh” jawabku so asik
“yauda duluan ya” dia bergegas pergi berburu cemilan
“ok” aku menjawab singkat
Sampai pada akhirnya kami masuk ke dalam sanggar excul kami, ada banyak teman-teman dan adik-adik junir kami disana, tapi tidak nampak senior-senior kami, selain jumlah senior kami yang minimalis mereka juga sudah tidak begitu aktiv digiatan karena harus focus untuk ujian, paling dibeberapa kegiatan yang mengharuskan mereka hadir saja atau jika mereka senggang mereka akan datang.
“selamat siang bu, Halloo semua” kompak kami bertiga menyapa Ibu ning dan teman-teman
“siang” “haiiii” suara bu ning dan teman-teman menjawab kompak
__ADS_1
Aku segera mendekati Ibu Ning, Ibu Ningpun segera merespon kedatanganku
“gimana tadi sa, lancar olimpiadenya?” Ibu Ning membuka percakapan dengan menanyakan olimpiade yang pagi tadi aku ikuti
“waduhhh mabok bu, tapi semoga lancar sampe akhir sih, heheh” aku menjawab sambil bercanda
“syukur deh, ikut ibu dulu yu sebentar” Ibu Ning lanjut mengajakku masuk kedalam ruangan Pembina didalam sanggar
Aku menganggguk mengikuti langkah ibu Ning
“duduk Ssa” ibu Ning mempersilahkan ku
Aku duduk di kursi panjang tepat dihadapan Ibu Ning
“maaf bu, ada apa ya bu? Ko tumben ibu mengajak saya berbicara tertutup seperti ini” aku bertanya keheranan
“begini sa, mengenai perlombaan kita minggu depan, dari semenjak undangan perlombaan disebar ibu sudah mengajukan proposal kepada kepala sekolah, sesuai usulan darimu jika kali ini kita mendaftarkan dua regu, regu pertama sebagai regu inti, regu kedua berisi anak-anak junior, usulanmu baik ingin
mengenalkan, atau mensimulasi junior-juniormu agar mengetahui tehnik perlombaan secara langsung, maka ibu menyetujui dan memasukan biayanya kedalam anggaran yang ibu ajukan ke kepala sekolah”
“lalu bu”
“tapi kepala sekolah mengapprove biayanya hanya untuk 1 tim saja dengan alasan karena excul kita jarang membawa banyak penghargaan saat pulang, sejujurnya itu memang fakta, kita bisa membawa pulang banyak piala saat kamu mengikuti perlombaan tahun lalu itu loh Ssa bersama senior-seniormu, ya walaupun kita belum berhasil membawa pulang juara umum”
“emang tidak bisa dinegosiasi lagi bu?”
“sudah ibu lakukan Ssa, tapi sampai hari ini kepala sekolah belum merubah keputusannya”
“bu sopan tidak jika saya ingin berbicara dengan kepala sekolah?”
“kamu ingin bicara apa Ssa?”
“suatu hal tentang excul kita dimasa depan bu”
“selagi itu baik dan disampaikan dengan cara yang baik, boleh-boleh saja Ssa”
“ibu mau menemani saya?”
“boleh, tapi kamu ingin bicara apa, lagipula kepala sekolah sedang sibuk dengan acara hari ini, sudah pasti jika kita bernegosiasi lagi itu tidak akan didengarnya Ssa”
“tenang saja bu, saya tidak akan memaksakan kehendak pada kepala sekolah, tapi saya ijin membawa junior 2 orang boleh bu”
“tentu boleh Ssa, tapi ibu jadi penasaran seperti ini Ssa” bu Ning tersenyum sambil tetap kebingungan
“ibu akan mengetahuinya nanti, ayo bu kita temui kepala sekolah sekarang” aku mengajak ibu Ning, ibu Ningpun bergegas
__ADS_1