Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Ulah Elsa dan kawan-kawan


__ADS_3

Leo menemui Elsa dan kawan-kawannya yang sedang berada di taman belakang kampus, Elsa juga sangat terkejut dengan kedatangannya leo secara tiba-tiba.


"Hai tumben kesini mau ngapain." Tanya Elsa sinis.


"Jangan banyak tanya lo, cepat ikut gue ke ruang rektor sekarang." Titah leo dengan murka.


"Apaan sih gak jelas banget emang mau ngapain ke ruangan rektor." Elsa masih berkilah walaupun sebenarnya dia sudah tidak tenang dengan keadaan ini.


Kawan kawannya juga sudah bisa menebak apa yang akan leo lakukan setelah ini, mereka semua perlahan lahan menuju tangga karena inginnya melarikan diri.


Elsa juga ingin melakukan hal yang sama seperti kawan kawannya namun tangannya sudah keduluan di cekal oleh leo. Dia pun tidak bisa mengelak lagi selain mengikuti leo ke ruangannya rektor.


Tok tok tok. .


"Permisi pak."


"Ada apa leo."


"Ada yang ingin saya bahas pak, apa bapak punya waktu ruang."


Elsa ******* ***** jemarinya karena merasa sangat gugup saat ini. Leo menyuruhnya untuk duduk lewat pandangan matanya, Elsa begitu kesal tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Jadi begini pak. . . ."


Leo menceritakan semuanya kepada rektor apa yang terjadi di pagi ini, terlihat jelas raut wajah marahnya saat menatap Elsa.


"Apa benar begitu elsa." Dia hanya bisa menunduk dan memilin ujung roknya.


"Jawab saya elsa." Sentak rektor dengan murka yang membuat elsa sampai terkejut hingga dia mendongakkan wajahnya.


"I_iya Pak maafkan saya pak." Ucapnya memelas.


"Keterlaluan. Leo kamu boleh keluar biar Elsa jadi urusan saya."


"Baik Pak permisi."


Leo pun meninggalkan ruangan rektor dan memilih kembali ke kelasnya. Sekarang satu masalah selesai dia pun sedikit tenang setelah menyerahkan Elsa kepada rektor, biar masalah ini bisa menjadi sebuah pelajaran baginya.


"Dari mana lo yo."


"Ruang rektor." Mendudukkan bokor di kursi.


"Ngapain ke sono, ada masalah serius."


"Biasa si Elsa bikin ulah, ren stop ya buat nanyak nanyak lagi gue mau ke perpus."


"Yeee si beo main cabut aja." Reno kesal karena leo main tinggal begitu saja.


Leo memilih untuk ke perpus karena memiliki tujuan, semalam tidurnya benar-benar terganggu setelah mendengar tauziah dari seoarang ustad lewat youtube.


Siang ini dia akan memfokuskan dirinya untuk mendengarkan semua ceramah dari ustad tersebut. Hatinya begitu bergetar di saat dia mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran yang begitu merdu dari salah satu qori cilik yang diketahui adalah anak dari ustad tersebut.


Leo duduk paling pojokan karena tidak ingin di ganggu oleh siapapun termasuk sahabatnya. Perlahan-lahan leo mulai mencari tau tentang islam, mulai dari cara memeluk agama islam hingga seterusnya.


Dia begitu semangat dalam mencari tau, hingga tanpa sengaja dia menemukan salah satu ulama yang dikenal sebagai pemilik salah satu pondok yang berada dekat dengan kampusnya.

__ADS_1


"Pesantren al iman, kayaknya besok aku harus ke sana." Gumamnya dengan mantap.


Sejarah islam begitu rumit untuk di pahami nya banyak teka teki yang masih belum bisa dia pecahkan. Walau nantinya keluarga akan murka karena keputusan yang dia ambil, leo sudah tidak perduli lagi. Banyak yang masih belum dia ketahui dan ini juga sebuah pilihan untuknya dan masa depannya nantik.


"Apapun yang akan terjadi pokoknya gue harus bisa memecahkan teka-teki ini."


"Hufft jangankan memahami kandungan islam, agama gue sekarang aja gue gak tau jelas gimananya. Kasian nanti yang jadi istri gue huff." Leo menjambak ujung rambutnya karena begitu bingung dengan situasinya saat ini.


Karena vidio yang dia tonton sudah selesai dia segera beranjak dari sana, tujuannya saat ini hanya menghambat adiba ke kelasnya.


"Wushh diba, pangeran ada di depan pintu tuh." Tina sengaja menggoda sahabatnya.


"Is apaan sih rin jangan ngada ngada kamu. Yaudah yuk samperin kak leo." Adiba menarik tangannya rina.


"Hai kak nyariin siapa."


Leo mengernyit heran sambil menaikkan sebelah alisnya karena pertanyaan adiba.


"Nyariin kamu bocah, yuk ke ruang latihan besok pentas nya di mulai." Adiba manyun karena leo mengatainya bocah.


Mereka pun segera menuju ke ruangan musik untuk melakukan gladi bersih.


"Kak aku ambil lagi turki aja ya."


"Terserah kamu aja asalkan besok kamu tampil dengan baik."


"Oke." Adiba mengambil biola miliknya dan mulai menggesekkan dengan perlahan-lahan.


Leo terlihat sangat menikmati gesekan biola adiba yang sangat menghipnotis pendengarannya.


"Biasa aja kali kak liatinnya." Sindir rina cekikan melihat ekspresi leo.


Leo tersadar karena celotehan rina di sampingnya yang juga sedang menyaksikan adiba.


"Hehe rin, adiba kenapa bisa fasih begitu ya nyanyinya."


"Orang dia memang asli orang turki kak." Jawaban rina membuat leo kaget dan tidak percaya.


"Jangan asal kamu aku nanyak serius ni."


"Yaudah kalau gak percaya, bukan masalah juga buat aku."


Prok prok prok. . .


"Keren bestie mantul tul tul pokoknya." Adiba tersenyum mendengar penuturan rina yang memujinya.


"Makasih rin, semoga aja besok aku gak malu maluin ya."


"Enggak bakal pokonya, good luck." Rina mengacungkan dua jempolnya.


Leo menghampiri adiba dan memuji bakatnya adiba sangat senang ternyata leo menyukai penampilannya.


"Good luck buat besok, jangan mengecewakan tampil sebaik mungkin oke." Ujar leo tersenyum.


"Hehe makasih kak."

__ADS_1


Karena mata kuliah sudah selesai mereka memilih untuk pulang, leo juga segera pamit karena dia mempunyai suatu urusan penting.


Adiba dan rina segera menuju parkiran kampus, namun jalan mereka di hadang oleh Elsa dan kawan kawannya.


"Heh mau kemana lo." Elsa mencekal lengannya adiba.


"Mau pulang apa kita punya perjanjian." Tanya adiba, yang membuat Elsa semakin geram.


"Gak ada luas puasnya ya lo pada, mau gue laporin lo."


"Heh lo diem, gue gak punya urusan sama lo." Elsa menunjuk rina agar diam dan tidak mencampuri urusannya.


"Urusan adiba urusan gue jugak ya, dasar brandal lo pada."


Di saat Elsa ingin menjambak rambutnya rina, tangannya langsung di cekal oleh abi yang datang secara tiba-tiba ke hadapan mereka.


"Lepaskan tangan kamu." Tegas abi yang membuat Elsa segera menarik kembali tangannya.


Elsa tercengang melihat kehadiran abi yang berada di depannya, ketampanannya begitu terlihat jelas.


"Apa ada masalah." Tanyanya yang membuat Elsa gelagapan.


"Maaf anda siapa." Elsa bersikap baik di depan abi yang membuat rina ingin segera muntah.


"Saya dosen baru disini, apa kalian punya masalah yang serius." Elsa bersikap kalem di depan abi, matanya begitu terhipnotis dengan ketampanan abi dan juga perawakannya yang terlihat tegas dan berwibawa.


"Enggak pak saya hanya menegur adik kelas saya supaya tidak membuang sampah sembarangan." Ujar Elsa tersenyum lembut.


Abi mengeryit heran karena di sekitaran mereka sama sekali tidak ada sampah dan juga tong sampah.


"Hei bohong lo dasar buaya betina, bisa banget lu ya carik muka." Rina sangat kesal karena Elsa memfitnahnya.


Abi ingin tertawa mendengar ucapan rina yang menyebut Elsa sebagai buaya betina, namun dia juga harus bisa menjaga image depan maha siswinya.


"Memang iya kan rin kamu tadi buang sampah sembarangan."


"Iya lo yang mau gue buang ke TONG sampahnya." Rina menekankan kata katanya karena begitu kesal terhadap Elsa.


"Sudah sudah kalian boleh pergi, jangan membuat keributan di sini."


"Iya Pak permisi." Elsa dan kawan kawannya segera meninggalkan mereka.


Dan tinggallah mereka bertiga di sana, abi menoleh ke arah rina yang masih mengomel di samping adiba.


"Hei bocah itu mulut apa rem blong, ngoceh mulu perasaan." Abi berkacak pinggang di hadapan rina.


"Bukan urusanmu pak tua, yuk diba males banget di sini."


"Eh tunggu dulu, aku yang nyetir." Abi segera merebut kunci mobil milik adiba.


Dan karena tidak punya pilihan lain, mereka akhirnya pulang bertiga dengan di setirin abi.


Jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🥰🥰


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2