Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Pertemuan.


__ADS_3

Adiba hanya bisa menyibukkan dirinya dengan semua urusan butik karena hanya dengan itu dia bisa melupakan rasa sedihnya. Adiba mengusir pikirannya dengan mencoba menjait beberapa helai gaun anak anak, namun tak sengaja jari tangannya terkena jarum. Adiba hanya bisa mendesah kasar, walaupun mencoba untuk mengusir pikirannya tentang Leo. Namun hatinya tetap tidak bisa sinkron dengan pikirannya bayang bayang wajah Leo masih saja membekas di ingatannya.


"Permisi buk." Adiba hanya membuang nafas dan menoleh ke arah karyawannya.


"Iya kenapa."


"Apa ibuk sedang tinak enak badan. Sebaiknya biar kami saja yang mengerjakannya, ibuk istirahat saja di dalam."


"Tidak apa, kamu bisa melakukan pekerjaan yang lain."


Karyawan yang bernama Anna pun meninggalkan Adiba dan kembali bergabung dengan rekannya yang lain. Mereka semua tidak tega melihat keadaan Adiba yang seperti putus asa, Abi datang menemui Adiba. Namun saat melihat keadaan adiknya dia pun menjadi sedih, terlebih Rina yang notabe adalah sahabatnya.


"Kak aku gak tega liatnya, kasian Adiba." Abi menghela nafasnya.


"Apa kamu punya nomor Leo, mungkin kita bisa membantu."


"Enggak punya kak, tapi sosial media kayaknya bisa kita coba dulu."


Abi dan Rina pun tidak jadi menemui Adiba, mereka mencoba untuk mengkoneksi Leo terlebih dulu. Adiknya benar benar terlihat rapuh tidak biasanya Adiba seperti ini, yang mereka takutkan Adiba akan menjauh dari mereka semua.


"Eh pak Abi mau kemana." Sapa Angga saat mereka berpas Pasan di luar.


Angga juga ingin menemui Adiba tapi ternyata dia malah bertemu dengan Abi dan tunangannya. Dengan cepat Abi pun menarik tangan Angga dan membawanya pergi dari sana, dia tidak ingin bila Adiba akan semakin emosi bila melihat keadaan Angga.


"Maaf sebenarnya ada apa ya. Kenapa tangan saya di tarik tarik." Protes Angga.


"Maaf Angga sebaiknya jangan dulu temui Adiba, berilah dia waktu untuk sendiri dulu."


"Tapi dia tunangan saya pak Abi, bukankah wajar jika saya ingin menghiburnya." Angga kekeh dengan keinginannya.


"Pak Angga bisa gak jangan keras kepala, Adiba lagi sedih sekarang." Rina jadi kesal dan ikut nimbrung.


Abi menoleh ke arah Rina yang terlihat kesal, dia pun tersenyum samar melihat wajah kesal kekasih. Rina memang tidak suka berbelit-belit jika ingin mengutarakan sesuatu Abi hanya bisa menggelengkan kepala.


"Saya tau makanya saya datang untuk menghibur, apa salah."


"Salah besar. Dia sedih juga gara gara anda, saya gak yakin jika pertunangan kalian terjadi atas dasar sama sama suka." Angga gelagapan mendapatkan tudingan dari Rina.

__ADS_1


"Em kalian jangan ikut campur ini masalah kami, jangan menjudge orang sesuka hati." Setelah berkata seperti itu Angga pergi dari sana dan tidak jadi menemui Adiba.


"Ekhem puas banget kayaknya." Sindir abi.


"Ih aku kesal kak. Gara gara dia Adiba dan Leo jadi salah paham, kasian mereka udah lama LDRan pas ketemu kok gini amat." Ujar Rina sedih membayangkan bagaimana kecewakan mereka.


Apalagi Leo pasti merasakan kesedihan yang sama, bahkan sangat sakit mungkin. Saling setia sampai bertahun-tahun tapi akhirnya harus kembali menelan rasa sakit. Dari awal mereka menjalin hubungan selalu ada saja rintangan, mereka selalu terluka.


Dulu papa dari Leo yang bersikeras memisahkan mereka hingga bertahun tahun lamanya, dan sekarang Adiba hampir di miliki laki laki lain.


********


"Assalamualaikum warahmatullah."


Leo selesai menunaikan empat rakaatnya di waktu ashar, dia kembali memanjatkan doa pada sang pencipta. Dengan segala harapan agar diberikan hati yang ikhlas atas apa yang sedang menimpanya sekarang. Hari ini dia akan bertemu dengan salah satu pemilik saham di cabang perusahaannya.


Leo sudah rapi dengan pakaian kantornya dan langsung menuju tempat yang telah di booking untuk melaksanakan meeting. Dirinya sangat terlihat tampan dan begitu rapi dengan pakaian yang di kenakan, banyak pasang mata yang memandang terutama kaum hawa yang memandang kagum kepadanya.


Leo langsung menuju meja yang juga telah di hadiri beberapa rekannya, namun satu di antara mereka yang merupakan seorang gadis cantik terus menatap dirinya. Leo bersikap biasa saja dan seakan tidak perduli dengan tatapan gadis tersebut.


"Sampai di sini perjumpaan kita kali ini, semoga kerja sama kita terus terjalin dengan baik." Leo menyambut baik jabatan tangan rekannya.


Perempuan yang bernama gebrina terus menatap ke arahnya dan dia begitu kagum melihat sesosok Leo. Baru kali ini dia bertemu langsung dengan CEO tempatnya bekerja, ternyata masih sangat muda dan juga tampan.


"Nona gebrina apa anda baik-baik saja." Rangga membuyarkan lamunan gebrina.


Leo hanya tersimpul dia sangat paham arti tatapan yang di berikan oleh gebrina, namun Leo tidak ingin mengambil pusing. Karena nama sang kekasih masih melekat sempurna dalam hatinya, Leo juga menyambut baik uluran tangan gebrina.


"Terima kasih atas kerjasamanya nona gebrina."


"I_iya pak sama sama." Jawabnya dengan gugup.


Rangga meninggalkan meja meeting dan tinggallah Leo dan juga gebrina, Leo masih menikmati kopinya sambil mengecek beberapa email melalui ponselnya. Sesekali gebrina mencuri pandang ke arahnya, Leo sadar namun dia mencoba abai.


"Kak kita ngapain ke sini, aku masih mau melanjutkan jaitannku." Protes Adiba.


Abi masih melihat ke dalam restoran, yang di carinya masih belum ketemu sedangkan Adiba sudah mengomel sedari tadi. Namun pandangannya tertuju pada meja paling pojok, Abi menarik tangan Adiba dan membawanya kesana.

__ADS_1


Deg. . .


Adiba kaget melihat Leo yang sedang bersama dengan seorang gadis, pikirannya mulai kacau segela pikiran buruk melintas di pikirannya. Apalagi gadis tersebut tampil dengan pakaian yang lumayan terbuka, hatinya mulai panas dan matanya terasa panas.


"K_kkak ada apa ini." Tanya Adiba denagn suara tercekat.


Abi juga bingung karena ini semua di luar dugaannya, yang dia tau jika Leo sedang melaksanakan meeting di restoran ini. Pasti perempuan yang sedang bersamanya adalah rekan kerjanya, dan Adiba pasti akan salah paham.


"Antar aku pulang." Adiba menekankan kata katanya.


"Dek. Itu Leo kalian bisa saling bicara jangan menghindar terus, ayok kita kesana." Adiba menepis tangannya Abi dan berlari dari sana dengan air mata yang mulai berjatuhan.


"Aduh kacau kenapa perempuan itu masih aja duduk di situ." Abi kesal melihat Leo yang masih berada di sana dengan perempuan tersebut.


"Assalamualaikum Leo."


"Waalaikumsalam kak Abi." Leo menyalim tangannya Abi


"Dia siapa." Tanya Abi menggunakan ekor matanya.


"Maaf nona gebrina apa bisa tinggalkan kami berdua." Dengan cepat gebrina mengangguk dan segera pergi dari sana.


Abi duduk tepat di tempat yang di duduki gebrina tadi, Leo menatap Abi dengan berbagai pertanyaan.


"Maaf Kak apa ada sesuatu yang membuat Abi sampai harus menemuiku." Abi mengangguk.


"Iya ini tentang adikku, Adiba." Dadanya langsung berpacu dengan cepat mendengar nama Adiba di sebut.


"Ada apa dengannya kak, apa Adiba baik baik saja." Abi menggeleng.


"Dia masih mencintai kamu, dan sekarang dia sedih bahkan enggan bertemu dengan siapapun."


"Maaf kak, dia telah bertunangan akan tidak baik jika aku mendekatinya."


"Dia bertunangan atas dasar jebakan bukan karena kemauannya." Kening Leo mengkerut.


"Maksudnya."

__ADS_1


"Angga yang menjebak Adiba, dia datang dengan membawa seluruh keluarganya. Dan akhirnya pertunangan terjadi agar keluarga Angga tidak malu, kamu pasti paham seperti apa maksud ku."


__ADS_2