
Adiba dan juga rina masih asik rebahan di atas kasur, karena mereka sedang haid jadi mereka bebas untuk bermalas-malasan. Namun mereka sedikit terganggu dengan suara para santriah di luar.
"Diba kamu dengar gak."
"Setau aku sih itu suara berhitung dalam bahasa arab rin."
"Liat yuk." Mereka segera bangun dan keluar dari rumah ummi ustad ali.
"Ahsubu kunna hatta khamsah( Saya hitung kalian sampai 5) Waheed, inani, stalasah, arbaah, waa khamsah." Teriak seorang santriah yang merupakan kakak pembimbing kelas atas dari mereka.
"Man taakhar kumna ( Siapa yang terlambat tolong berdiri)." Ujarnya kembali dalam bahasa arab.
Terlihat kebanyakan yang berdiri adalah anak anak kelas satu dah juga kelas 3 yang biasanya di cap sebagai santriah bandel.
"Ila saffu awal limaza taakhar( Untuk anak kelas satu kenapa kalian terlambat)."
"Kami telat ngantri di kamar mandi ukhty, maafkan kami." Walau merasa kasihan namun yang namanya membimbing harus tetap tegas.
"Ba'da tushall ibhas jasusataini( Selesai shalat nanti carikan dua kesalahan santriah)."
"Naam ukhty."
"Ijri(berlari lah)." Khusus untuk anak kelas satu mereka semua berlari menuju mesjid.
Dan tinggallah anak kelas tiga, santriah pembimbing yang bernama amna tersebut sampai menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1
"Limaza daiman taakhar ya ukhty (Kenapa kalian selalu terlambat wahai adek adekku."
Amna tidak tau harus memberikan hukuman apalagi untuk mereka, karena semua hukuman telah mereka jalani. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya yang terasa berdenyut karena mereka.
" 'Adah ukhty ( seperti biasa kak)."
"Masyiktunna, Wa al an ijrina (Terserah kalian lah, sekarang berlari lah)." Namun mereka masih berjalan dengan santai tanpa berlari.
"Ijri ukhty ijri." Karena merasa kaget mereka akhirnya berlari sambil cekikan.
"Ada ada aja kelakuan mereka." Untung amba lagi haid jadi dia tidak harus memikirkan dirinya sendiri.
Adiba dan rina terlihat asik tertawa sambil memegang perut mereka, dari tadi mereka asik melihat para santriah yang sedang di hukum oleh kakak kelasnya.
"Kayaknya seru ya diba hahaha aku jadi pengen jadi santriah."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam." Jawab rina dah adiba.
"Boleh ikut gabung." Tanya amna sungkan namun langsung di ajak masuk oleh mereka.
"Ayo kita ke kamar aja." Ajak adiba.
"Ukhty kegiatan kayak tadi emang udah sering ya." Rina menanyakan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Iya ukhty, biasalah anak baru jadi mereka masih belum bisa mengatur waktu dengan baik." Adiba dan rina mangut mangut.
"Yang terakhir tadi anak kelas berapa."
"Oh itu anak kelas tiga, mereka memang bandel. Anak yang lagi pada masa puber memang susah di atur ukhty." Jelas amna yang terasa sudah seperti seorang ibu.
"Wah seru ya, jadi pengen mondok rasanya."
"Seru sih emang, tapi bagi kami yang sudah senior agak capek ngurusin mereka." Keluh amna.
Mereka bertiga terlihat sangat akrab dah bayak bercerita berbagai macam hal. Dan begitu lonceng berbunyi, mereka segera bersiap menuju aula karena pentas akan segera di mulai.
Adiba dan rina selalu menjadi pusat perhatian di sana, bukan hanya karena terlihat asing namun juga karena kecantikan alami yang mereka miliki. Mereka terlihat sangat tenang saat memasuki aula, leo juga senyum senyum sendiri melihat adiba yang tampak begitu tenang dan terlihat anggun.
"Hush liatin apa sampek cengengesan begitu. " Leo hanya menggelengkan kepalanya saat di tanyai oleh temannya.
Khusus saat pentas di komplek putri, santri putra di larang untuk menyaksikan begitu pun sebaliknya. Kecuali bagi kakak senior dan juga para ustad, karena dengan adanya senior dari santri putra maka acaranya juga akan sedikit membantu bila terjadi sebuah kesalahan atau insiden yang tidak di inginkan.
Adiba dan rina terpilih untuk menduduki kursi santriwati senior, mereka duduk berdekatan dengan para ustazah.
Malam ini akan di mulai dengan pentas drama yang akan di isi oleh anak kelas lima, acaranya berjalan dengan sangat lancar tanpa kendala.
Mereka juga sangat menikmati dan juga mengagumi cara didik ustad ali yang dapat membuat santri santrinya merasa betah berada di pesantren.
Walaupun tinggi dengan ilmu agama, namun beliau juga dapat menyesuaikan segala sesuatu pada tempatnya.
__ADS_1
#Bersambung