Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Ujian hati


__ADS_3

Adiba benar benar kesal dan marah terhadap elsa, bisa bisanya dia berkata hal sekotor itu kepadanya. Ternyata attitude seseorang bisa blank seketika jika sedang berhadapan dengan orang yang salah, pengalaman hari ini menunjukkan bahwa apa yang dikatakan oleh Abang dan kedua orangtuanya memang benar adanya.


Adiba sekarang percaya jika larangan orang tua adalah sesuatu yang harus di percaya dan di patuhi. Lelah hati menghadang sifat temperamen Elsa yang di luar dugaannya, ternyata rasa ingin memiliki begitu Leo begitu besar dalam dirinya. Entah semenjak kapan dia mengagumi Leo, dia hanya bisa beristighfar dalam hati karena kejadian tadi benar-benar menguras emosinya.


"Astagfirullah ya Allah, astagfirullah jadi main tangan kan akunya." Adiba mendumel sendiri.


"Enggak apa apa Diba, Btw tadi kamu keren banget loh." Ujar Rina cekikikan.


"Is kamu ini, aku jadi merasa bersalah sekarang tau." Adiba merasa tidak tenang dan serba salah.


Kini mereka duduk di dalam mobilnya Adiba dan hendak pulang, hatinya begitu berdebar dan terasa panas.


Eittssss sittt Dum.


"Ya ampun Diba AWAS." Teriak Rina panik.


Gara gara pikiran yang kacau Adiba jadi tidak fokus untuk menyetir, dan dia tidak sengaja menabrak mobil yang ada di depannya.


"Ya Allah Rin gimana ini." Tanya Adiba panik sambil melepas seat belt yang ada pada dirinya.


"Aku juga gak tau Diba, kira-kira marah gak ya yang punya mobilnya." Rina juga tak kalah paniknya.


Adiba keluar dari mobilnya dan menghampiri pemilik Mobil yang dia tabrak barusan, terlihat seorang laki-laki yang memegang kepalanya karena melihat keadaan mobilnya yang sudah lecet.


"Permisi, maaf saya tidak sengaja pak." Ujar Adiba to the point.


Laki laki tersebut yang mendengar seseorang meminta maaf pun mendongakkan kepalanya, niat hati ingin marah tapi tidak jadi setelah melihat bidadari cantik yang ada di depannya.


"Em enggak papa kok masih bisa di perbaiki." Ucapnya tenang.


"Saya jadi gak enak, saya ganti aja ya pak maaf sekali lagi." Ujar Adiba masih panjk dan tidak tenang.


Tapi laki laki tersebut malah mengeryit heran mendengar panggilan Adiba untuknya, apa dia setua itu sampai gadis tersebut harus memanggilnya dengan sebuatan 'pak' .


"Hei nona apa saya terlihat setua itu di mata anda." Tanyanya kesal.


"Hah memangnya ada yang salah dengan panggilan saya pak." Tanya Adiba lagi.


"CK, pak lagi. Saya masih muda kali sembarangan main panggil pak aja." Ketusnya tidak terima.


"Hehe maaf kalau bikin bapak kesal." Ucap Adiba tanpa sadar kemudian dia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Laki-laki tersebut melotot ke arahnya dengan berkacak pinggang, Rina yang ada di dalam mobil pun semakin panik dan takut untuk keluar.

__ADS_1


"Jadi saya panggilnya apa dong." Tanya Adiba bingung.


"Perkenalkan nama saya Abigail, dan ini kartu nama saya." Laki-laki yang bernama Abigail tersebut memberikan sebuah kartu nama kepada Adiba.


"Abigail myeesha Abraham." Adiba membolak-balikkan kartu nama tersebut, namun nama Abigail seperti tidak asing baginya.


"Ahahahaha bingung kamu, ya ampun dek ini kak Abi anaknya Tante Fahira." Ucap Abi tertawa.


Kemudian Adiba langsung memeluk kakaknya, hampir saja dia menangis karena begitu gelisah dan takut. Dan ternyata yang ada di depannya adalah kakak sepupunya, dia begitu lega dan bahagia.


"Hiks kakak jahat, hampir aja aku stres kak." Adiba memukuli Abi di dadanya.


" Aw sakit dek, galak amat sih neng." Kemudian Abi mengusap kepalanya Adiba dengan gemas.


Rina jadi bingung melihat pemandangan yang ada di depannya, tadinya terlihat tegang. Tapi sekarang malah asik pelukan dan laki laki tersebut juga dengan beraninya mengusap kepalanya Adiba. Karena begitu penasaran, Rina pun keluar menghampiri Adiba dan Abi.


"Hei kenapa kalian malah asik pelukan di sini, dan dia siapa sih Diba." Tanya Rina panjang lebar.


"Hehe ini anaknya Tante aku ternyata, dia baru pulang dari luar negeri." Jelas Adiba dengan cengengesan.


Rina pun hanya ber oh ria saja, walaupun sempat bingung tapi yasudah lah.


"Oh yasudah lah, jadi pulang kan kita." Tanya Rina.


Abi heran mengapa Rina biasa saja saat melihatnya, biasanya kalau ada perempuan yang melihatnya pasti senyum senyum sendiri. Tapi temannya adeknya yang satu ini malah biasa saja, dan seakan tidak perduli.


"Hei pak, kalian bisa ketemuan lagi di rumah kan. Saya buru buru karena ini mau magrib." Rina kembali membalas dengan ketus jugak.


"Pak bapak, emang saya bapak kamu. Saya punya nama ya ubur-ubur." Abigail kesal saat Rina memanggilnya dengan sebutan pak juga, pantesan dia begitu cuek saat melihatnya. Ternyata gadis itu pikir kalau dia adalah bapak bapak.


Adiba menertawakan Abigail yang terlihat sangat kesal terhadap Rina, begitu juga dengan Rina yang juga kesal karena Abigail memanggilnya dengan sebutan ubur-ubur.


"Hei pak tua saya punya ya, enak aja mau nyamain saya sama ubur-ubur." Ketus Rina kesal.


"Makanya saya juga punya nama, bukan pak tua." Jawab Abigail.


"Emang udah tua kok." Ejek Rina.


"Ishh ka__."


"Udah udah, Rina nama kakak aku Abigail bukan pak tua." Adiba menengahi percekcokan mereka.


"Dan ini sahabat aku kak, namanya rina." Ujar Adiba lagi memperkenalkan Rina.

__ADS_1


Dan akhirnya Adiba dan Abigail berpisah pulang dengan mobil masing masing karena Rina terus mendesaknya.


"Oke, makasih besti udah mau nganterin. See tomorrow." Rina memeluk Adiba lebay sebelum turun dari mobil.


"Ih dasar besti lebay." Cibir Adiba.


"Enggak papa dong besti sendiri." Dan Rina pun masuk ke dalam rumahnya.


*


*


*


"Pantesan Adiba sama cewek tadi manggil aku bapak bapak, ternyata karena pakaian ku ini." Gumam Abigail saat melihat dirinya di cermin.


Adiba sedari tadi sudah berdiri di pintu kamarnya Abigail sambil cekikikan sendiri karena melihat Abigail.


"Ahahahhaah ngaoain sih kak kayak cewek aja." Ledek Adiba dan berjalan masuk ke kamar Abigail.


"Kamu kenapa gak bilang kalau aku masih pakek gamis ini tadi." Tanya Abigail.


"Ya aku pikir itu memang style kakak, makanya aku yes aja." Jawab Adiba santai.


"Pantesan kalian tadi manggilnya bapak, iş kurang asem memang." Ujar Abigail sambil melepaskan jam tangannya.


"Memang asem kak kan belum mandi, makanya mandi dulu sana nantik ketemuan di meja makan ya." Ujar Adiba dan akhirnya keluar dari kamarnya Abigail.


Begitu waktu jam makan malam tiba, mereka semua berkumpul di meja makan, kecuali Abigail dia masih belum turun.


"Bik, bisa panggilin kak Abi bentar." Tanya Adiba pada art yang lagi menuangkan minum untuk kakeknya.


"Abi, maksud kamu Abigail." Tabya kakeknya.


"Hehe iya kek, tadi sebelum magrib kak Abi baru nyampek." Jelas Adiba.


"Sekarang mana dia." Tanya kakek.


"Aku disini kek, apa kabar kek Abi kangen." Abigail muncul tiba-tiba dari belakang dan langsung memeluk kakeknya dari belakang.


"Alhamdulillah kamu Sampai dengan selamat nak, kakek senang sekarang kakek ada nemenin." Ucap Kakeknya penuh haru.


"Saya permisi ke belakang ya tuan." Pamit art.

__ADS_1


Dan mereka menikmati makan bersama sambil bercerita dan tertawa bahagia, kakek Abraham begitu bahagia karena sekarang mereka sudah bertiga. Pasti rumahnya akan sedikit rame dengan adanya pertengkaran kecil antara Adiba dan Abigail.


#Bersambung


__ADS_2