
Adiba mulai menggesekkan biolanya dengan alunan yang begitu merdu sampai membuat merinding para penonton. Leo tersenyum senang melihat adiba yang begitu tenang saat menggesekkan biolanya. Leo mengambil posisi saat gilirannya tiba, dia mulai berduet dengan adiba.
Mereka benar-benar membawakan lagunya dengan menghayati dan mendalami peran masing masing. Adiba saling melemparkan senyum dengan leo, Elsa jadi panas dingin sendiri saat menyaksikan mereka di atas panggung.
"Ihh kenapa harus sama dia sih yo."
"Apa sih sa, diem aja deh enak tau lagunya."
"Lo yang diem." Elsa geram dengan kedua sahabatnya karena bisa bisanya mereka menikmati lagunya adiba.
"Wah gila enak banget suaranya tuh cewek." Banyak puji pujian dari para maha siswa dan juga maha Siswi lainnya.
Adiba sukses membuat mereka terpukau dengan hasil penampilannya bersama leo. Acaranya berlansung hingga sore hari, mereka di banjiri dengan berbagai ucapan selamat dan pujian. Adiba sangat senang tidak sia sia mereka rutin latihan setiap harinya, dan hari ini mereka mengambil hasilnya.
"Makasih banyak ya kak untuk semuanya."
"Semuanya, maksudnya." Tanya leo pura-pura tidak paham.
"Untuk semua yang kakak lakuin, mulai dari latihan sampek yang tadi mau nemenin aku hehe." Adiba tidak tau harus berkata apa, yang pastinya dia sangat senang dan lega.
Leo pun mengajak mereka untuk singgah ke kantin sebentar, adiba dan rina mengikuti dengan senang hati. Mereka hanya memesan minum saja karena tidak ingin berlama-lama disini. Hari akan semakin gelap adiba dan rina berpamitan pada leo sebelum beranjak untuk pulang.
"Kak kita duluan ya takut terlalu gelap."
"Aku anterin aja gimana." Leo menawarkan untuk mengantarkan mereka pulang.
"Gak udah deh kak, kami bisa kok pulang berdua makasih banyak ya kak." Adiba tidak enak bila harus di antarkan oleh leo.
"Yaudah kita pamit ya kak, bye." Rina melambaikan tangannya pada leo.
Leo hanya tersenyum menyaksikan mereka yang perlahan menghilang dari pandangannya, hari ini sangat mengesankan baginya. Leo sangat senang karena bisa membawakan lagu favoritenya bersama adiba.
Dia pun juga segera pamit untuk pulang, karena ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada kedua orang tuanya. Leo buru buru pergi dari sana tapi ketika leo ingin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Elsa datang menghadang.
"Yo aku nebeng ya."
"Enggak aku buru buru, minggir." Ketus leo yang tidak suka dengan kehadiran Elsa.
__ADS_1
Entah mengapa jika bersama perempuan lain sikapnya jadi judes dan tidak selembut ketika dia sedang bersama adiba. Leo tidak ingin ambil pusing dia segera menancap gas mobilnya dan berlalu dari sana.
"Udah lah sa lupain aja leo, makan hati aja lo." Ujar Sintia.
"Tau deh kesel gue." Mereka juga meninggalkan kampus dengan menggunakan mobilnya Sintia.
Setelah mengantarkan rina pulang, adiba memutar balik mobilnya untuk menuju butik tantenya. Sudah beberapa minggu dia tidak mengunjungi butik karena jadwalnya yang begitu padat saat di kampus.
Sesampainya disana adiba langsung di sambut dengan pelukan hangat dari tantenya, adiba memilih untuk beristirahat sebentar disana sebelum kembali mengecek hasil designnya.
Butik milik tantenya selalu ramai dengan pembeli, karena selain menyediakan barang ready dia juga selalu menerima pesanan dari customer nya.
Selama ada adiba disana tantenya juga sedikit terbantu dengan desain yang dibuat oleh nya. Adiba juga sengaja mendatangi butik fahira karena sudah lama dia tidak mengunjungi nya, rasa tangannya sudah gatal ingin segera bertempur dengan alat designnya.
"Kamu sudah bangun sayang."
"Iya tan, aku ganti baju dulu ya kebetulan aku juga sedang haid." Fahira mengangguk dan meninggalkan adiba yang ingin berganti pakaian.
Selesai berganti pakaian dia segera menuju ruangan tempurnya, adiba tersenyum dengan bahagia karena dengan membuat desain baru bisa sedikit mengobati rasa rindunya kepada kedua orang tuanya.
"Makasih tan." Adiba memilih untuk makan terlebih dulu karena kebetulan dia juga belum makan.
"Nantik pulangnya di antar kak abi ya sayang." Fahira mengelus kepala adiba dengan sayang.
"Oke tan."
"Enggak mau ya, tadi pagi aja aku di tinggalin." Jawab abi cepat yang membuat mereka segera menoleh ke arah pintu.
"Dasar jelangkung, kapan datangnya kak." Adiba hampir tersedak karena kedatangan abi yang tiba-tiba.
"Hehe dari tadi sih." Abi mengambil alih sendok suapan adiba dan menyuapkan ke dalam mulutnya.
"Kak abi ihh itu punyaku loh." Adiba cemberut karena abi merampas makanannya.
"Heheh jangan marah dek, ma aku ke atas dulu ya" Abi meninggalkan adiba yang cemberut dan menaiki tangga untuk menuju ke kamar atas.
*
__ADS_1
*
*
Begitu sampai leo menyuruh security untuk memarkirkan mobilnya di garasi, leo langsung masuk ke dalam dan mencari mamanya.
"Bik, mama kemana ya kenapa gak ada di rumah."
"Tadi pergi sama bapak den." Leo heran melihat bibik yang menunduk ketika menjawab pertanyaan darinya, tangannya juga bergetar.
"Apa ada masalah yang serius." Tanya leo mengintrogasi dengan melipat kedua tangannya di dada.
Perlahan dia mendekati bibik tersebut hingga membuatnya semakin gemetaran.
"Maaf den bibik tidak bisa mengatakannya karena pesan dari bapak, permisi."
Sebelum leo semakin menjadi jadi bibik segera pergi ke kamarnya, leo malah kesal karena bibik meninggalkannya sebelum memberi jawaban yang memuaskan atas pertanyaannya.
"Yaelah malah pergi lagi, kira kira ke mana ya papa sama mama pergi."
Karena tidak ingin berlama-lama untuk berpikir, leo memutuskan untuk masuk ke kamar dan merebahkan diri di kasur. Dia tersenyum bahagia membayangkan kegiatan tadi sore sewaktu di aula. Bayangan wajah dan suara adiba begitu terngiang-ngiang di kepalanya hingga membuat dia jadi tersenyum senyum sendiri.
"Adiba, nama yang indah seindah wajah dan perilakunya. Andai kita seiman pasti kamu langsung aku jadikan pacar."
Karena kedua orang tuanya tak kunjung pulang leo memilih untuk pergi sebentar, dia juga sangat bosan berada di rumah terus.
"Apa gue pergi ke mesjid itu aja kali ya, siapa tau nantik ketemu ustad itu lagi." Gumam leo.
Dia pun segera bersiap untuk pergi ke mesjid yang di maksud, ternyata suasana ketika malam sangat berbeda di saat siang hari. Banyaknya santri yang berlalu lalang membuat nyali leo sedikit menciut, apalagi pakaian yang mereka kenakan sangat berbanding terbalik dengan dirinya.
Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sesekali pandangannya juga mengarah ke arah para santri yang sedang membaca alquran, ada juga yang sedang berbicara dan terlihat ada juga yang sedang menghafal.
"Mereka sangat terlihat bersih dan sopan dengan cara berpakaiannya." Leo melirik dirinya sendiri dari spion mobilnya.
Dia masih berada di dekat mobilnya karena tidak berani untuk masuk ke dalam.
#Bersambung
__ADS_1