Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Dilema.


__ADS_3

Semenjak pertemuannya dengan Abi beberapa hari yang lalu, kini Leo semakin gundah dan masih belum menemukan jawabannya. Haruskah dia menemui Adiba yang notabenya adalah seorang tunangan dari rekan kerjanya, Leo tidak ingin membuat keluarga Adiba salah paham terhadapnya.


Tapi hatinya juga tidak akan tenang jika terus berdiam diri seperti ini, kesuksesan yang dia miliki juga karena tekadnya untuk memiliki Adiba. Dia adalah sumber kesuksesan nya saat ini, tidak ingin menjadi pengecut akhirnya Leo memutuskan untuk datang ke rumah besar keluarga Adiba.


Untuk segala konsekwensinya dia akan menerimanya, Leo hanya ingin membuktikan jika dirinya benar-benar serius.


Malam itu dengan di dampingi oleh ibunya, Leo mendatangi keluarga Adiba.


"Semoga Allah permudah kan semua urusanku, jika nikmat cinta ini masih membekas dalam hatiku. Maka permudah kan semuanya ya Rabb, aku hanya akan mengikuti semua alur yang telah engkau janjikan."


"Amin nak semoga mereka mau mendengarkan mu." Ibunya ikut mengaminkan dan memberikan semangat untuknya.


"Assalamualaikum." Ucap Leo saat berhadapan dengan Abi yang baru saja akan membuka pintu untuk keluar.


"Waalaikumsalam Leo, buk Aisya silahkan masuk." Abi kaget dan tidak menyangka jika Leo akan datang malam ini juga.


Namun dia juga senang karena adiknya di cintai oleh seperti Leo. Dengan senang hati Abi memanggil seluruh keluarganya untuk menemui Leo di ruang keluarga.


Kini ruang keluarga telah ramai, hanya Adiba yang tidak hadir karena dia masih dalam perjalanan pulang dari butiknya.


"Assalamualaikum semuanya, perkenalkan nama saya Muhammad Luthfi Ibrahim."


"Bukankah Abi memanggil mu dengan sebutan Leo." Dia hanya tersenyum.


"Benar pak, sebelum memeluk Islam nama saya adalah Benedict Leonardus. Dan perkenalkan yang di samping saya adalah ibu saya yang bernama Aisyah."


Mereka semua bingung dan saling menatap satu sama lain, Abi pun ikut menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


"Maaf jika membuat kalian semua bingung, mungkin Adiba atau kak Abi pernah menceritakan tentang saya."


Kakek Abram mulai paham dan tersenyum, ternyata pemuda yang ada di hadapan mereka saat ini adalah kekasih dari cucunya.


"Kenapa baru kembali, apa kamu mengetahui tentang pertunangan cucuku." Leo menoleh ke arah kakek Abram dan mengangguk.


"Saya baru mengetahui semuanya kemarin kek, di hari pertama saya menginjakkan kaki kembali di Indonesia."


"Maafkan saya semuanya, sebenarnya saya adalah kekasih dari Adiba. Hubungan kamu sangat rumit, namun percayalah saya benar-benar tulus sangat menyayanginya Adiba."


"Adiba berani melanggar larangan saya hanya karena kamu, apa itu yang di sebut tulus." Kini ayah Adiba ikut bertanya.


"Maafkan saya om, Adiba adalah perempuan baik baik. Tidak sekalipun dia melanggar amanah dari om, itu semua karena paksaan dari saya yang begitu mengagumi putrinya om. Dia adalah inspirasi terbesar saya, 5 tahun kami berpisah dan selama itu saya hanya menghabiskan waktu untuk berjuang agar menjadi seperti sekarang ini."


"Maaf jika saya lancang, bolehkan saya bertemu dengan Adiba."


"Untuk pantas mungkin belum bisa di bilang pantas om, tapi saya akan berusaha."


"Maaf jika saya ikut berbicara, saya mohon tolong jangan pisahkan mereka lagi. Selama ini mereka sama-sama menderita banyak sekali cobaan dalam hubungan mereka hiks hiks saya sebagi ibunya merasa sangat sedih."


Keluarga Adiba tercengang, mereka bingung harus seperti apa.


"Assalamualaikum aku pulang." Semuanya menoleh ke arah pintu.


Adiba kaget melihat kehadiran Leo di rumahnya, Leo juga ikut bangun dan melihat Adiba. Mereka sama-sama mendekat, namun masih saja berjarak beberapa meter, Leo hanya bisa menatap dengan sedih begitupun sebaliknya.


"Kenapa baru datang hiks hiks." Adiba tidak kuasa menahan rasa sedihnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Diba hiks, tolong jangan menangis." Ingin sekali dia memeluk kekasihnya namun Leo masih sadar dengan status mereka yang bukan mahramnya.


"Setiap detik aku selalu mengharapkan kamu untuk datang, hiks hiks tapi kamu tidak pernah datang ataupun memberikan kabar."


"Begitu pula dengan aku Diba, semuanya terasa berat bagiku. Kamu ingatkan dengan janji kita, aku akan datang jika aku telah sukses dan pantas untuk berada di samping kamu." Adiba mengangguk.


"Maafkan aku Leo, sekarang status ku adalah. ."


"Aku mohon jangan katakan apapun, aku hanya ingin bertanya. Apakah perasaan kamu masih sama seperti dulu, tolong katakan Adiba." Adiba semakin terisak dan tidak kuat melihat kerapuhan Leo.


Mereka semua yang berada di sana ikut sedih melihat kedua sejoli ini, mereka juga kagum melihat bagaimana cara mereka berbicara dan saling melepas rindu melalui tatapan.


"Apakah rasa itu masih sama, pertunangan tidak akan menjamin untuk bersama. Adiba aku mohon yakinkan hatimu, bermunajat lah pada Allah melalui istikharah mu."


"Hiks hiks aku masih mencintaimu Leo, tapi bagaimana caranya biar bisa terlepas dari pertunangan ini hiks hiks, aku merasa tertekan karena aku tidak mencintai nya."


"Kek, papa. Hiks hiks jangan paksa aku untuk melanjutkan pertunangan ini, maaf jika aku membangkang. Aku dan Leo saling mencintai kami sudah lama saling menunggu, tolong jangan pisahkan kami lagi hiks hisk."


"Nak tenangkan dirimu, semuanya harus di obrolkan kita tidak bisa memutuskan semuanya sendiri. Bicarakan masalah ini dengan nak Angga, kalian temuilah dia besok dan katakan semuanya Abi akan menemani kalian."


"Apa ini benar pa, kek." Mereka mengangguk.


Adiba memeluk papa dan kakeknya dengan senyum bahagia, dia sangat bahagia akhirnya mereka mau memenuhi permintaan nya. Begitu juga dengan Leo dia menoleh ke arah ibunya yang juga ikut menangis.


Tidak sia sia dia datang menemui keluarga Adiba, ternyata mereka begitu baik dan begitu terbuka. Adiba dan Leo saling pandang dengan binaran bahagia, keduanya masih sama sama meneteskan air mata.


Rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu, menjalani hubungan tanpa kepastian karena pertentangan dari papanya Leo. Keduanya masih sanggup dan tidak pernah mengeluh, hanya pada Allah keduanya mengeluh dan saling mengungkapkan perasaan.

__ADS_1


Ternyata rencana Allah lebih indah, keduanya sama-sama bersyukur karena bisa di pertemukan kembali.


__ADS_2