
Pergi dari rumah memang bukan pilihan yang terbaik, namun keadaan yang memaksanya untuk pergi. Setelah sampai di apartemennya leo segera merebahkan dirinya di atas kasur dan mencoba untuk memejamkan matanya sejenak. Pikirannya begitu lelah memikirkan keadaan hidupnya yang tidak jelas, bahkan kedua orang tuanya saja tidak pernah menyuruhnya untuk beribadah ke gereja, mereka sibuk dengan hidup masing-masing.
Hari berganti hari telah leo lalui dengan kehidupan yang serba sederhana, kegiatannya masih sama dia tetap melanjutkan studinya. Kedekatannya bersama adiba juga semakin membaik, mereka sering menghabiskan waktu berdua.
Niat ingin memperbaiki diri malah terlupakan akibat tugas yang menumpuk, apalagi sisa tabungannya yang juga semakin menipis. Leo harus bisa membuka sebuah usaha ataupun mencari pekerjaan untuknya bertahan hidup. Olin juga sering mengunjungi putranya dan menawarkan uangnya, namun leo tidak pernah mau menerima dengan alasan ingin mandiri.
Siang ini dia mengajak adiba untuk pergi ke sebuah tempat yang sering dia kunjungi ketika dia merasa gundah. Adiba dengan senang hati ikut pergi bersama leo, karena selama kedekatannya dengan leo. Lelaki tersebut tidak pernah bersikap aneh padanya, leo sangat menghargainya sebagai seorang perempuan.
"Wah indah sekali danaunya kak." Adiba tersenyum melihat suasana danau yang masih begitu asri dan sejuk.
"Iya tapi masih indahan wajah kamu diba." Gombal leo yang membuat adiba tersipu.
"Dasar kak leo mah." Adiba menutup wajahnya menggunakan tas miliknya.
Mereka asik mengobrol tentang banyak hal, adiba begitu senang karena bisa berduaan dengan leo. Begitu pun dengan leo yang juga merasakan hal yang sama seperti adiba, mereka saling menatap satu sama lain.
Jantung leo berpacu begitu cepat di saat pandangan matanya bertemu dengan adiba, ternyata adiba sangat lah cantik saat di pandang secara dekat begini. Baru kali ini leo bisa melihat wajah adiba secara dekat begini, karena dulu adiba selalu menundukkan kepalanya di saat ada yang ingin melihatnya.
"Diba kamu tau gak."
"Enggak kak, kan belum di kasih twu." Leo menepuk keningnya.
"Makanya dengerin dulu dong, aku belum selesai ngomong ini." Adiba hanya cengengesan.
"Danau ini adalah tempat yang selalu bikin aku nyaman karena kalau aku lagi sedih, pasti aku ke tempat ini."
__ADS_1
"Banyak kenangannya ya kak."
"Enggak juga sih, kamu tau gak baru kamu lho yang aku ajak ketempat ini." Ujar leo jujur yang membuat adiba tersenyum.
"Teman teman kak leo gak pernah di ajakin." Leo menggeleng.
"Enggak pernah, males ngajak mereka pasti rusuh sampek sini."
Banyak hal yang mereka bicarakan hingga tanpa terasa hari pun semakin sore, mereka sampai lupa waktu karena keasikan mengobrol dan becanda. Ternyata leo begitu welcome kepadanya tidak seperti yang teman-temannya bilang, adiba benar-benar sangat mengagumi leo apalagi leo juga sangat menjaga batasannya dalam berteman dengannya.
Semakin hari hubungan mereka malah semakin dekat sehingga membuat keduanya saling merasa nyaman dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berpacaran. Mereka melakukan Backstreet karena permintaan dari adiba, dia takut apabila abi mengetahui hubungan mereka dan akhirnya dia mengadu pada keluarganya.
Hubungan keduannya terus berlanjut dengan baik tanpa adanya perselisihan antar keduanya, namun hingga saat ini adiba masih belum mengetahui tentang kepercayaannya leo.
"Sayang aku mau nanyak nih." Adiba yang sedang minum pun menoleh ke arahnya.
"Tanyakan saja bby."
"Kalau seorang muslim menikah dengan non muslim hukumnya apa sih."
"Kamu lucu byy, jelas jelas kamu udah tau jawabannya." Adiba tertawa pelan mendengar pertanyaan leo.
"Hehe iya sih, gimana ya kalau ada sebuah hubungan yang di jalani tetapi mereka berbeda keyakinan. Padahal mereka saling cinta dan menyayangi, pasti sakit kalau harus di pisahkan." Adiba menghentikan minumnya dan menoleh ke arah leo.
"Kamu kenapa bby, perasaan ngelantur aja ngomongnya."
__ADS_1
"Ya aku penasaran aja sayang. Menurut kamu gimana kalau ada sebuah cinta yang terjalin tapi mereka berbeda keyakinan."
"Ya mereka harus memilih bby, walaupun sulit sih. Setidaknya pilihan mereka tidak akan membuat penyesalan di kemudian hari." Adiba menjawab sambil menatap teduh wajah kekasihnya.
"Memang ada enggak seorang Kristiani yang memilih masuk islam demi menikahi kekasih pujaannya." Adiba mengangguk dan mulai menceritakan tentang kisah zaman Rasulullah dulu.
"*Nikah beda agama pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Salah satunya adalah putri Rasulullah SAW, Sayyidah Zainab yang menikah dengan Ash bin Rabi'.
Pernikahan Zainab dengan Abul Ash terjadi sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu. Rasulullah SAW baru menerima wahyu tentang larangan nikah beda agama pada tahun ke- 6 setelah hijrah ke madinah.
Pada tahun tersebut turun ayat 10 surat Al-Mumtahanah tentang larangan menikah beda agama.
يايها الذين امنوا اذا جاءكم المؤمنت مهجرت فامتحنوهن، الله اعلم بايمانهن فان علمتموهن مؤ منت فلا ترجعو هن الى الكفار، لا هن حل لهم ولا هم يحلون لهن، واتوهم ما انفقوا، ولا جناح عليكم ان تنكحو هن اذا اتيتمو هن اجورهن، ولا تمسكوا بعصم الكوافر وسلوا ما انفقوا، ذلكم حكم الله، يحكم بينكم، والله عليم حكيم.
"Artinya, " Wahai orang orang yang beriman! Apabila perempuan perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji ( Keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami- suam mereka) . Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka."
"Dan berikanlah kepada (Suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (Pernikahan) dengan perempuan perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dah (Jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayar (Kepada mantan istrinya yang telah beriman) . Demikian lah hukum Allah yang di tetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, maha bijaksana.
Setelah Rasulullah SAW menerima wahyu, Zainab segera masuk islam, sementara Abul Ash al-Rabi' yang merupakan suaminya enggan untuk mengikutinya. Namun mereka tetap tinggal serumah menjadi pasangan suami istri yang beda agama.
Hingga seterusnya sampai Abul Ash mengucapkan dia kalimat syahadat di depan kaum Quraisy secara terang-terangan. Ini membuktikan bahwa dirinya sudah masuk islam.
Setelah itu, Abul Ash hijrah menghadap Rasulullah SAW di Madinah. Rasulullah SAW kemudian menikahkan kembali Abul Ash dengan Zainab setelah mereka sama-sama menganut agama islam*.
#Bersambung
__ADS_1