
Setelah mengerjakan shalat magrib leo memutuskan untuk membaca alquran sejenak. Pikirannya merasa terganggu dan sedikit gelisah, dia memutuskan untuk mengalihkannya dengan membaca surat yasin.
Setelah membaca yasin pikirannya sedikit tenang namun rasa gelisah masih sedikit menyelimuti dirinya. Tak lama setelah pintu kamarnya terbuka dari luar ternyata mamanya memanggil.
"Ada apa ma." Tanyanya lembut dan tersenyum kepada mamanya.
"Yo, ada yang mau ketemu di bawah. Ayo ikut turun sama mama, sekalian ada yang mau kita omongin."
"Yaudah ayo." Leo menggenggam tangan mamanya dan mereka menuruni tangga bersama.
Begitu sampai di bawah leo merasa risih karena melihat kehidupan Gladys. Namun melihat isyarat mata papanya dia tidak bisa berkutik.
"Wah anakmu ganteng sekali jon."
"Hahha bisa aja kamu."
"Leo perkenalkan yang ini om haris, dan ini tante windi mereka orang tuanya Gladys."
"Assalamu'alaikum om tante." Leo mengatup kedua tangannya sebagai tanda memberi salam.
Namun haris dan windi malah mengerutkan kening mereka.
"Kamu muslim." Windi mendapatkan anggukan dari leo, sontak membuatnya menutup mulut dan melihat ke arah jonathan.
"Whats happened here." Tanyanya bingung.
"Ceritanya panjang win, ayo kamu duduk dulu." Mamanya leo mencoba untuk mengalihkan keterkejutan windi.
Windi duduk bersebelahan dengan suaminya, sedangkan Gladys di samping jonathan. Suasana masih senyap karena belum ada yang membuka obrolan. Mereka masih syok dengan pernyataan yang keluar dari mulutnya leo.
"Ekhem apa ada yang bisa kasih kami penjelasan." Ujar haris karena tidak ingin berlama-lama memendam rasa penasarannya.
__ADS_1
Jonathan ingin menjawab namun leo mencegahnya.
"Saya rasa tidak ada yang perlu untuk di jelaskan om, bukankah wajar wajar saya jika kami berbeda keyakinan."
"Oke tidak masalah, itu hak pribadi kalian."
"Terima kasih untuk pengertiannya om."
"Em jonh kedatangan kami kesini ingin membahas tentang rencana kita." Ujar haris membuka pembicaraan.
Jonathan melirik ke arah leo yang masih duduk dengan santai dan menyimak pembicaraan mereka. Dia takut jika rencana ini akan di tolak mentah olehnya, pasti haris akan marah besar dan memutuskan kerja sama dengan perusahaannya.
"Kenapa pa. Bicaralah jika itu memang penting."
"Leo sebelumnya papa dan om Haris pernah ingin menjodohkan anak anak kami, dan sekarang om Haris datang untuk menagih janji mereka." Ujar Jonathan sedikit ragu.
"Tidak ada salahnya punya niat baik." Ujar Leo yang membuat Gladys sedikit kesenangan.
"Aku belum menjawabnya pa. Apa tidak terlihat rendah bila keluarga seorang gadis datang untuk meminta seorang pria untuk anaknya." Perkataan Leo membuat Windi dan Haris tidak terima.
"Jaga ucapan kamu. Jika papamu tidak menjanjikan semua ini kami juga tidak akan Sudi datang kerumah kalian." Windi tidak dapat mengontrol emosinya.
"Win tenang dulu." Mamanya Leo merasa khawatir .
"Om aku gak terima Leo berkata seperti itu, aku juga korban perjodohan kalian hiks hiks." Gladys memanipulasi keadaan dengan tangisan palsunya.
"Tenang sayang. Leo kamu harus menerima perjodohan ini titik, papa gak terima penolakan."
"Baik. Kalau begitu papa saja yang menikahinya aku masih mempunyai calonku sendiri untuk kujadikan istriku nanti."
"Leo apa kamu tidak bisa mempertimbangkan Gladys nak." Tanya mamanya lembut.
__ADS_1
"Maaf ma aku sudah mempunyai seorang kekasih yang bisa membimbingmu ke jalan yang baik, tolong hargai keputusan ku."
"Baik jika kamu menolak silahkan kamu angkat kaki dari rumahku. Tidak Sudi aku menampung Seorang anak pembangkang sepertimu."
"Pa. Cukup jangan selalu bersikap kasar pada putraku jika papa mengusir Leo aku akan ikut bersamanya." Tegas mama Leo.
"Semuanya cukup. Urus masalah keluarga kalian kami merasa terhina berada di sini. Dan untuk kerja samanya kita batalkan saja kalian semua gak berguna." Haris menarik tangan putrinya dan mereka keluar dari rumahnya Leo.
Plak
Plak
plak.
"Anak kurang ajar siapa yang mengajarkan itu semua pada mu hah. Sejak kapan kamu sok pintar seperti itu, gara gara kamu usaha ku jadi Hancur." Jonathan sangat murka.
"Maaf pa. Tapi cukup untuk mengatur hidupku aku juga ingin hidup dengan pilihanku sendiri. Sebenarnya apa yang sedang papa cari di dunia ini, kebahagian untuk keluarga apa keegoisan untuk mencapai tujuan papa." Leo masih bertanya dengan lembut.
"Jangan mengajari ku anak tidak berguna. Jika kalian ingin pergi silahkan pergi tapi ingat jangan pernah kembali lagi ataupun sekedar menginjakkan kaki kalian lagi di sini." Leo dan mamanya benar benar tidak percaya dengan keputusan Jonathan yang seperti tidak menganggap mereka penting baginya.
"Baik mas jika itu mau kamu. Ternyata kamu terlalu terobsesi dengan harta dan tahta, ingat ya kami juga bisa hidup tanpa kamu. Aku akan mengambil apa yang menjadi milikku, dan setelah itu silahkan nikmati hidupmu sendiri jangan pernah cari kami lagi."
Leo tidak menyangka jika semuanya akan kacau seperti ini, Jonathan sangat egois dia sama sekali tidak iba kepada dirinya dan juga mamanya. Dia sedih karena mamanya harus ikut merasakan kesedihan yang sama sepertinya, dia juga tau seperti apa perangai papanya. Jika dia sudah mengambil keputusan maka dia tidak akan pernah mengubahnya, papanya terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya.
Mama Leo kembali menghampirinya dan membawa beberapa koper, Leo masih syok dan tidak bisa berkata-kata. Dia memeluk mamanya dan meminta maaf atas kesalahannya yang telah membuat suasana semakin runyam.
"Jangan menangis anakku, kamulah kebahagian mama saat ini. Biarkan papamu merenungkan kesalahannya kamu tenang mama masih punya tabungan untuk kamu bisa buka usaha."
"Hiks maafkan aku ma."
Mereka pergi meninggalkan papanya yang masih berada di dalam kamar, bahkan dia enggan untuk mencegah kepergian mereka.
__ADS_1