
Lama tak bertemu kini adiba kembali mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tepat seminggu sebelum wisudanya, mereka tiba di jakarta untuk menemui anak mereka. Adiba sangat bahagia dan senang dengan kehadiran mereka semua, rasa sedihnya sedikit berkurang.
Selesai di universitas dia akan melanjutkan S2nya di luar negeri. Dia akan mengembangkan karirnya dan berharap semoga setelah sukses dia akan bertemu kembali dengan kekasihnya.
Hanya itu harapan polos yang dia miliki, adiba hanyalah seorang gadis lugu tentang sebuah percintaan.
"Selamat nak akhirnya kamu selesai menyelesaikan S1 di Indonesia."
"Iya ummi. Adiba senang akhirnya lulus dah setelahnya aku akan kembali belajar untuk S2ku."
"Abi setuju, tapi awas jangan sampai kamu salah belajar iya."
"Salah gimana bi." Tanya kakaknya.
"Niat ingin belajar tapi malah asik mengenal cinta." Adiba tersentil mendengar omongan abinya.
Mungkin inikah resiko karena tidak mematuhi peraturan orang tuanya.
"Iya abi." Jawabnya pelan dengan wajah menunduk.
Abigail sangat paham dengan ekspresi wajah dari adik sepupunya. Pasti adiba merasa bersalah pada abinya, namun juga merasa sedih karena mengingat leo tidak dapat hadir di hari bahagianya.
"Udah udah mending kita ambil gambar dulu, moment penting harus di rayakan." Abigail ikut memecahkan suasana canggung.
Mereka asik mengambil foto dan mengabadikan momen tersebut. Adiba sedikit semangat dan bahagia karena tanpa leo dia juga bisa bahagia karena kehadiran orang tuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Leo duduk termenung di dalam ruang kerjanya dia memikirkan adiba, nasip percintaannya begitu buruk. Hari harinya selalu di penuhi dengan banyaknya pekerjaan, papanya terlalu memaksakan kehendaknya. Ingin sekali leo membantah namun dia selalu kalah dengan ancaman dari papanya.
Dia juga ingat betul petuah yang di berikan oleh ustad ali kepadanya. Di dalam al-quran juga mengajarkan adab dalam menanggapi kedua orang tua.
Tok tok tok. . .
"Masuk." Jawabnya dengan lesu.
"Hai kak." Gadis cantik dengan gaya glamour datang menemui-Nya.
__ADS_1
"Ck. Untuk apa kamu menemuiku Gladys."
"Aku rindu kak emang gak boleh aku datang kesini." Ujarnya dengan raut wajah yang di buat sedih.
"Enggak. Jika tidak ada hal penting mending kamu jangan menemuiku, aku sibuk." Tegas leo tidak suka.
"Kamu selalu gitu. Kenapa sih kak kamu gak bisa sedikit aja ngehargai aku, apa sih kurangnya aku." Ucapnya tidak Terima.
"Banyak."
"Katakan kak, kamu gak bisa terus menerus menolak kehadiran aku."
"Mending kamu keluar aku banyak pekerjaan."
"Enggak aku gak mau." Tolak nya.
"Terserah kamu." Leo kembali membuka laptopnya dan mengecek email yang masuk.
Gladys tidak Terima jika leo menolaknya, dengan berani dia mendekati leo dan memeluknya dari belakang.
"Astagfirullah." Leo terlonjak kaget dan ingin menampar Gladys namun dia urungkan niatnya.
Gladys kaget dan tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
"Iya, aku muslim sekarang. Kenapa ada yang mengganggu pikiranmu, sekarang kamu keluar."
"Tapi om sama tante."
"Bukan urusan kamu, mending kamu keluar dan jangan pernah mendekati ku. Karena kriteria perempuan yang kusukai sama sekali tidak ada pada dirimu." Gladys merasa di rendahkan oleh leo, dia sedih dan ingin menangis.
"Kamu jahat kak hiks hiks setidaknya kamu jangan pernah merendahkan aku."
"Kelakuan kamu barusan sudah membuktikan jika kamu memang rendah, satu lagi sebaiknya ubah cara berpakaian kamu." Gladys kembali melihat cara berpakaian nya.
"Kamu jahat." Dia mendorong leo dan pergi meninggalkannya.
Setelah kepergian Gladys leo memegang dadanya dan berkali-kali mengucapkan istigfar. Dirinya begitu kaget akan tindakan spontan Gladys barusan, ternyata sangat jauh berbeda dengan adiba.
Sebaik baiknya seorang wanita adalah dia yang bisa menjaga dirinya sendiri. Bukan hanya menjaga cara berpakaiannya saja namun juga hati dan perlakuan nya.
"Ya allah cobaan apa lagi ini." Leo mengusap dadanya.
__ADS_1
Karena hatinya sedang tidak baik, leo memilih untuk masuk ke ruang pribadinya dan membaca alquran. Tidak ada obat lain baginya selain mendekatkan dirinya dengan Allah, walaupun jauh dia selalu mengingat nasihat baik dari ustad ali.
"Leo Leo dimana kamu." Teriak papanya.
"Sadaqallah hul 'azim." Leo merasa terganggu karena panggilan papanya.
Cek lek. . .
"Habis ngapain aja kamu."
"Ada apa pa." Tanya leo dengan lesu.
"Kenapa Gladys sampai menangis, apa yang kamu lakukan."
"Aku hanya menyuruhnya untuk pergi dan mengubah cara berpakaian nya, itu saja lalu kenapa papa yang marah marah."
"Keterlaluan kamu leo, itu sama saja kamu menghinanya. Apa kamu sudah merasa menjadi baik karena kamu seorang muslim sekarang hah."
"Astagfirullah pa, cukup pa. Apa lagi yang harus aku lakukan biar papa tidak terus menerus memaksakan kehendak papa padaku."
"Aku juga lelah pa, tapi aku masih respect pada papa. Aku ini anak papa bukan budak, aku menghargai papa karena papa orang tuaku, jika aku anak yang kurang ajar pasti aku akan melawan semua apa yang papa suruh."
"Merasa lebih pintar kamu sekarang, lalu apa yang kamu pelajari selama kamu menjadi seorang muski."
"Banyak pa, termasuk adab dan bagaimana caranya menghargai dan menghormati kedua orang tua aku."
"Lalu apa kamu sudah melakukannya."
"Aku akan menuruti semuanya kecuali meninggalkan agamaku, karena itu sangat bertentangan dengan ajaran yang ku miliki."
"Heuh cara kamu bicara seolah kamu adalah manusia yang paling benar."
"Astagfirullah pa, aku hanya menerangkan apa yang ku pelajari. Bukannya aku mengajari papa, ayolah pa jangan selalu menekan ku."
"Terserah kamu, yang penting kamu harus minta maaf pada Gladys."
"Aku gak mau." Tolaknya tegas.
Tidak ingin berdebat papanya keluar dari sana dan meninggalkan leo yang masih pada pendiriannya.
Leo tidak habis pikir dengan jalan pikiran papanya, selalu saja salah dalam mengambil sikap. Dia benar-benar jengah berada disini ingin sekali dia pergi dan meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
Namun dia juga memikirkan perasaan mamanya, pasti dia akan hancur jika leo kembali pergi meninggalkannya.
#Bersambung