
Menjelang malam asramanya leo masih riuh dengan suara santri santri yang masih belum tidur. Mereka masih betah belajar dan ada juga yang sedang bercengkrama sesamanya.
Leo berbaring di kasurnya sambil memainkan ponsel miliknya, dia masih betah membalas chatt dari adiba. Teman di sampingnya sampai heran melihat leo yang asik senyum senyum sendiri.
"Yo anta kenapa sih senyum terus." Leo melirik sekilas kemudian kembali tersenyum.
"Di tanyain malah senyum anta. Tidur aja lah capek liatin orang yang lagi kasmaran." Rohim menarik selimut dan memilih untuk tidur.
"Yang jomblo tidur aja." Ujar leo menepuk pelan pipinya rohim.
Tak berselang lama akhirnya leo juga ketiduran.
Hari ini dia sangat bahagia karena kunjungan adiba, walaupun hatinya masih hampa karena begitu merindukan mama papanya.
Namun leo tidak ingin terpuruk dalam keadaan, dia menganggap jika semua ini adalah sebuah ujian untuknya.
Dia bersyukur karena memiliki kekasih seperti adiba, karena bukan hanya sekedar baik dan juga cantik. Dia bahkan lebih dari seorang kekasih adiba mengajarkan banyak hal untuk dirinya.
Karena dirinya lah dia bisa setegar sekarang ini adiba selalu memberikan semangat untuknya.
Peran ustad ali juga sangat bermanfaat untuk dirinya, beliau sudah seperti papanya. Leo sangat beruntung karena dia selalu di kelilingi oleh orang-orang baik di sekitarnya.
*
*
*
Adiba juga sudah ingin beranjak tidur namun abi mengganggu dirinya sehingga membuatnya kesal dan tidak jadi untuk tidur.
"Kak abi apalagi sih aku udah ngantuk kak." Keluhnya kesal.
"Dek jangan tidur dulu dong kakak mau nanyak penting."
"Sepenting apa emang hah, besok aja ya." Adiba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya namun di halang oleh abi.
"Aduh kak aku ngantuk besok aja lah musyawarah nya ya, please." Dia bahkan sudah tidak sanggup untuk membuka matanya.
'Apa besok aja kali ya, kalau ngomong sekarang pun pasti diba gak akan fokus. Yaudah lah besok aja mungkin.' Gumam abi dalam hatinya.
"Yaudah lah besok aja." Abi keluar dari kamar adiba.
Sudah beberapa hari ini abi selalu kepikiran sama rina. Walaupun setiap bertemu mereka tidak pernah akur, tapi rina berhasil membuatnya nyaman dan selalu ingin menjahili nya.
__ADS_1
"Aku sudah gila sepertinya." Abi senyum senyum sendiri saat membayangkan pertemuan pertama mereka.
"Ngeselin tapi juga ngangenin, huff aduh ada apa dengan aku." Abi memukul kepalanya sendiri karena merasa bodoh memikirkan rina.
Tidak ingin terus terusan memikirkan hal yang belum tentu pasti, abi memilih langsung tidur untuk menunggu hari esok.
Cinta terkadang datang tanpa alasan dan pergi tanpa penjelasan. Namun cinta juga yang selalu ampuh membuat semua insan lupa akan dunia nyata.
Rina memang perempuan menyebalkan yang pernah di temui abi. Tapi walaupun menyebalkan dia juga wanita yang setia juga Penyayang.
Perdebatan keduanya membuat abi begitu merindukan sesosok rina sahabat adiknya. Terkadang memang benar yang dikatakan oleh semua orang, terlalu benci bisa membuat seseorang menjadi cinta.
*
*
*
"Pagi semua." Abi tampak sumrigah pagi ini, adiba sampai heran melihat sikap abi.
"Kenapa kak heppy amat perasaan." Abi hanya cengengesan dan menaikkan bahunya.
"Dek aku nebeng ya, aku aja yang nyetir."
"Emm aku tau jangan jangan Amm_ ." Abi langsung bangun dan membekap mulutnya adiba.
"Dek nanti aja tebak-tebakan nya." Bisik abi pelan.
Kakek dan yang lainnya melihat aneh ke arah adiba dan juga abi. Karena merasa di perhatikan abi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kek nanti kita pulangnya agak sorean ya, soalnya abi mau ngajak diba jalan dulu."
"Mau kemana kalian."
"Biasa kek anak muda."
"Emang kamu masih muda bi." Pertanyaan fahira membuat abi manyun dan kesal.
"Mama ngerasa aku tua emang." Abi tidak Terima di katain tua.
"Ahahahaha udah tua masih aja gak nyadar, emang benar sih penglihatannya si rina." Adiba tertawa mendengar ejekan tantenya.
Sontak membuat abi menoyor kepalanya adiba, mereka semua menertawakan abi sehingga membuatnya ingin meninggalkan meja makan.
__ADS_1
Fahira yang melihat abu ingin beranjak pun mencegahnya.
"Mau kemana bi, kamu begitu aja ngambek. Eh ngomong ngomong rina siapa sih." Abi gelagapan dan berdehem untuk menetralkan keadaan.
"Sahabat aku loh tan. Yang biasanya pergi sama aku itu, kalau ketemu kak abi pasti bawaannya berantem terus." Fahira tampak mangut mangut mendengar cerita adiba.
"Cantik gak orangnya sayang." Adiba mengangguk.
"Apa sih ma jangan aneh aneh, yok dek kita berangkat. Lama disini makin nyeleneh aja ntar." Abi mengambil sandwich miliknya dan beranjak dari sana.
"Mau kemana hey abi mama belum selesai nanyak." Fahira terlihat kesal karena abi mengabaikan pertanyaan-nya.
"Makan ma jangan teriak terus."
"Iya pa." Fahira kembali melanjutkan makannya kakek hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak dan cucunya.
"Kek, tan om aku berangkat ya. Assalamu'alaikum." Adiba menyalim mereka dan mengejar abi.
Abi dengan semangat 45 menyetir mobilnya adiba menuju rumahnya rina. Namun saat melihat rina yang sudah stand by di depan membuatnya gugup dan juga salah tingkah.
"Kak udah lewat rumah rinanya." Teriak adiba menyadarkan abi.
"Hah. Ya ampun aku kenapa sih." Abi menepuk keningnya sendiri.
"Kenapa sih kak aneh banget." Adiba merasa heran melihat abi yang seperti orang bodoh.
Dia pun mundur beberapa meter kebelakang. Rina melipat kedua tangannya di dada, dan menatap horor ke arah abi.
"Hei pak tua bisa gak sih nyetirnya." Rina mengomel dan membuka pintu mobilnya, namun pintu belakang terkunci dan dia mendelik kesal.
"Hei bukain pintunya aku mau masuk."
"Duduk di depan." Titah abi membuat rina jengkel.
"Dasar pak tua sialan." Tidak ingin memperpanjang masalah rina pun memlih duduk di samping abi.
Akhirnya setelah 15 menit menempuh perjalanan, mereka sampai di kampus. Sebelum turun rina menoleh sebentar ke arah abi dan memukul pelan bahunya.
"Ih ngeselin." Abi hanya menerima pukulan rina dengan suka rela tanpa membantah.
"Cengengesan lagi, dasar gak jelas." Rina turun dan menutup pintu dengan kasar.
#Bersambung
__ADS_1