Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Memasak untuk leo


__ADS_3

Pagi pagi sekali adiba telah bersiap untuk ngampus seperti biasanya. Namun kali ini dengan perasaan bahagianya, karena dia dan leo telah berbaikan. Dia juga sangat bahagia setelah mengetahui cerita singkat dari kekasihnya waktu itu. Ternyata selama ini dia telah berburuk sangka kepada leo, namun itu semua telah berlalu karena sekarang ini mereka telah memulai semuanya dari awal kembali.


Hari ini leo tidak ikut serta ke kampus karena sedang menyelesaikan tugasnya. Sebentar lagi dia akan lulus dari sana dan leo juga sedang sibuk mempersiapkan kelulusannya.


Yang paling membuatnya sedih ialah karena kedua orang tuanya benar-benar memutuskan kontak dengannya. Namun dia tidak ingin larut dalam kesedihan karena akan ada waktunya dia bisa bersatu kembali dengan mereka.


Sebelum berangkat ke kampus adiba sempat menghubunginya, rencananya sore nantik dia akan berkunjung ke pesantren untuk menjenguknya.


Leo sangat senang dan dia juga langsung meminta izin kepada ustad ali agar nantinya tidak terjadi kesalahan pahaman.


"Assalamu'alaikum gus." Sapa seorang santriwati yang tidak sengaja berpas pasan dengan leo di jalan menuju kantin.


"Waalaikum salam ukhty." Jawabnya sopan.


"Gus tidak pergi ke kampus."


"Tidak saya sedang libur. Maaf ukhty saya sedang buru buru assalamu'alaikum." Leo segera izin pamit karena harus segera membeli sarapan dan kembali ke asramanya.


"Waalaikum salam." Selepas kepergian leo santriwati yang bernama Rahma sangat terlihat kesal.


"Hahahaha gimana bestie di ladenin apa kagak anti hah." Ledek kawannya yang membuat Rahma semakin jengkel.


"Ihh ana kesel tau. Ternyata gus leo orangnya dingin mana bicaranya irit banget lagi." Rahma terlihat murung dan manyun.


"Anti sih ngebet banget pengen dekatin gus leo. Zurina yang anaknya ustad ali aja gak pernah di lirik apalagi anti."


"Ana gak sukak ya kalian banding bandingin sama si zurina." Rahma marah dan meninggalkan mereka di sana.


"Yah ngambek tu anak. Yaudah kita ke matbah aja aku juga udah laper dari tadi." Mereka tidak ingin mengambil pusing soal Rahma.


Selesai membeli sarapan leo kembali ke asramanya, walaupun di sana tersedia dapur khusus untuk para santri dan juga santriwati. Namun leo tidak suka memakan di sana karena dia memang sangat pemilihan jika soal makanan. Para santri dan santriwati menyebut dapur dengan sebutan ' Mathbah' karena kata tersebut berasal dari bahasa arab yang artinya dapur.


Untuk 'Ana' berarti saya dan 'Anti' berarti kamu. Dalam keseharian mereka harus memakai kosakata yang memang di haruskan oleh pesantren. Jika sedang mengobrol dengan ustad ataupun ustazah baru mereka akan menggunakan bahasa Arab atau bahasa Inggris tergantung dengan minggu yang ditetapkan.


Karena tiap minggu pertama dijadwalkan untuk memakai bahasa Arab, mau mengobrol sesama teman ataupun dengan ustad dan ustazah. Dan minggu kedua mereka akan menggunakan bahasa Inggris sesuai dengan prosedur.

__ADS_1


Bagi mereka yang kurang menaati peraturan maka hukuman yang akan menanti.


Leo telah selesai memakan sarapannya. Sambil menunggu waktu zuhur dia menyibukkan dirinya dengan membaca alquran. Hatinya begitu tentram setelah mengaji, tiap dirinya memegang alquran ada perasaan haru tersendiri yang ia rasakan.


Entah mengapa dia begitu senang tiap kali ingin memegang alquran dan mengamalkannya. Leo membacakan surat yasin, dia berniat semoga dengan berkah surat yasin yang ia bacakan. Kedua orang tuanya bisa menerimanya kembali, dan mereka bisa berkumpul lagi seperti dulu.


Walaupun kini dia nyaman dengan islam. Bukan berarti dia tidak membutuhkan kedua orang tuanya. Dia menganggap jika ini adalah sebuah ujian untuknya, dia hanya bisa bertawakkal dan berdoa yang terbaik untuk keluarganya.


*


*


*


"Ngapain sih cengar cengir mulu tadi." Rina kesal sendiri melihat tingkah adiba.


"Ih apa sih rin ganggu aja kamu. Aku lagi senang tau, alhamdulillah akhirnya aku bisa baikan dan gak salah paham lagi sama leo." Jelas adiba yang membuat rina melotot dan tersenyum senang.


"Yang benar kamu. Aku ikut senang dengarnya semoga hubungan kalian terus langgeng ya bestie." Rina memeluk adiba dengan erat.


"Hehehe kesenangan akunya. Emm ntar sore jadi ke pesantren." Adiba mengangguk.


"Jadi sih, tapi aku bawain apa ya buat dia kamu ada ide gak." Rina terlihat berpikir.


"Emm gimana kalau kamu masakin dia aja. Pasti disana dia selalu beli, kasian tau pasti dia pengen makan makanan rumahan."


"Iya juga ya. Tunggu deh kamu akhir akhir ini kenapa pinter terus sih." Rina menoyor kepalanya adiba dengan gemas.


"Ih emang udah pinter dari sononya kali." Mereka tertawa bersama.


Mata kuliah selesai mereka segera pergi berbelanja, karena waktu hanya 2 jam saja. Adiba ingin memasak beberapa menu untuk leo dia begitu antusias memilih bahan bahannya.


Sampai di rumahnya rina, mereka mulai mengeluarkan bahannya. Rina mengajak adiba untuk singgah dirumahnya saja, dia malas ke rumah adiba karena disana pasti akan ada abi yang selalu usil mengganggunya.


"Emm haruk bener masak apa sih kalian." Mamanya rina menemui mereka di dapur.

__ADS_1


"Hehehe tante. Ini tan kita lagi masak ayam mentega." Adiba terlihat malu malu.


"Nanti tante mau ya nyicip dikit."


"Banyak juga gak papa kali tan." Mamanya rina mengusap belakang kepalanya adiba dengan senyum lembutnya.


Rina hanya tersenyum melihat mamanya yang begitu dekat dengan adiba.


"Yaudah lanjut aja ya sayang, mama mau ke salon dulu."


"Nyalon mulu mam, aku nitip vitamin rambut ya mam."


"Iya sayang, mama pergi ya Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam" Jawab mereka barengan.


Tak terasa akhirnya masakan mereka telah siap dan adiba tinggal memasukkan ke dalam rantang.


"Ayam mentega, sayur asem, perkedel sama telor balado. Udah semua kayaknya, rin kamu tolong tarokin nasinya ya."


"Siap bestie."


Mereka tinggal bersiap untuk pergi, adiba merasa kurang percaya diri. Apakah ini sudah benar dia terlihat ragu untuk pergi.


"Rin salah gak sih kalau kita berkunjung ke sana. Apa gak jadi bahan omongan nantinya."


"Ya ampun udah capek masak jugak. Jangan sensi begitu dong bestie, kita cuma berkunjung lagian leo juga bukan asli anak mondok kan."


"Tapi kan gak enak sama ustadnya."


"Percaya aja deh ya. Leo pasti udah urus semuanya tarik nafas lepas tarik lagi lepas. Tarik lagi dan ayok pergi hehe."


"Dasar kamu ini." Adiba geleng-geleng kepala melihat kelakuan rina.


Dengan sekali tarikan nafas akhirnya adiba memantapkan hatinya untuk pergi.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2