Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Mencari tau tujuan hidup


__ADS_3

Hari semakin hari leo begitu gencar mencari tau tentang teka teki yang ada di pikirannya, hatinya masih belum tenang jika semua teka teki tersebut belum terkuak kebenarannya. Apalagi kedua orang tuanya juga sering berpergian di waktu yang sama, leo bahkan sangat bingung dengan beberapa bulan terakhir ini.


Di saat dia ingin menanyakan sesuatu pasti mama atau papanya akan mengalihkan Pembicaraan. Leo sudah muak dengan semua lelucon ini, dia juga sudah dewasa bukan anak kecil yang hanya bisa di bodohi dengan alasan alasan yang tak bermutu itu.


Kini mereka sedang menonton di ruang keluarga seperti biasa, di saat sedang asik menonton tiba-tiba leo bangun dan mematikannya televisinya. Sontak membuat mamanya jadi mengomel dan memarahinya, leo malah kembali menyembunyikan remotenya juga.


"Yo Kambali ini dong remotnya nak, nama lagi asik ini."


"Enggak ma, mumpung kita lagi ngumpul aku nau nanyak sesuatu dong ma."


"Kita ngobrol di dalam aja , yuk pa."


Begitu sampai di dalam kamar mamanya leo duduk bersandar di atas tempat tidur dan mamanya memilih untuk duduk di sofa.


"Kenapa harus ke dalam kamar sih ma, kan bisa di luar."


"Mama udah gak pengen nonton yo, kamu mau ngomongin apa hm."


"Masih sama kayak pertanyaan kemaren mam, aku ngerasa aneh tau ma. Sebenarnya apa sih yang sedang kalian sembunyikan dari aku, tolong dong jangan buat aku bingung."


"Sembunyikan gimana sih yo, mama sama papa gak ada sembunyiin apapun dari kamu. Lagian kamu bingung karena hal apa hm cerita aja ke mama." Leo bangun dari duduknya dan mendekati sofa.


"Ma, sebenarnya aku bingung dengan kehidupan ku sendiri. Susah ma mau jelasinnya, hati aku seperti bertolak belakang dengan kehidupan kita." Jelas leo yang membuat kedua orang tuanya bingung, terutama papanya yang langsung bangun dan duduk di samping putranya.


"Kamu bingung kenapa boy. Kamu ini ada ada aja, ngomong aja langsung mungkin papa bisa bantu."


"Pa, aku penasaran sama agama islam. Apa sekarang aku sudah boleh memilih jalan hidupku sendiri."


Kedua orang tuanya tercengang mendegar penuturan leo, terutama mamanya yang langsung gemetaran. Papanya hanya bisa menunduk tanpa bisa berkata karena dia juga bingung harus berkata apa.

__ADS_1


"Hufft jadi keinginan seperti apa yang kamu inginkan boy."


"Pa, ma. Izinkan aku memeluk islam." Ucap leo dengan menunduk.


Plakk. . . Dengan berang papanya langsung menampar leo hingga terjungkal ke samping. Mamanya langsung bangun untuk membantunya berdiri dan menangisinya, mereka begitu syok begitu mendengar permintaan dari leo.


"Jangan kurang ajar kamu boy, siapa yang telah memperngaruhi kamu hah. Alasan apa yang membuat kamu jadi berkhianat dengan tuhanmu."


"Papa boleh pukul aku pa, aku juga bukan seorang Kristiani yang taat. Dan aku juga punya alasan tersendiri untuk itu, perbandingannya sangat banyak pa."


"Jika kamu sadar bukan seorang Kristiani yang taat, lantas untuk apa kamu berpindah agama. Apakah kamu yakin akan menjadi seorang muslim yang taat."


"Aku akan belajar untuk itu, karena aku yakin separuh darahku adanya darah islam yang mengalir di dalamnya." Ucap leo dengan mantap tanpa memperdulikan wajah papanya yang begitu murka atas ucapannya.


"Anak kurang ajar."


"Jika dia memilih Islam maka mulai detik ini juga dia bukan anakku lagi." Setelah mengucapkan itu papanya keluar dari kamar sambil membantig pintu dengan keras.


Leo di peluk dengan erat oleh mamanya, pilihan yang begitu sulit untuk leo namun dia tidak mudah patah semangat. Apapun yang terjadi keinginannya harus terwujud karena dalam bebarapa hari terakhir ini dia selalu bermimpi, yang di dalam mimpinya terlihat aneh.


Banyak sekali teka teki nya, namun dia sedikit memahami nya. Karena arahan dari ustad ali selalu pemilik yayasan di sebuah pesantren yang pernah dia kunjungi.


"Yo, besok sekitar jam 10. Temui mama di apartemen kamu ya, jangan menyerah nak kamu pantas menentukan pilihanmu." Leo tersenyum mendengar ucapan mamanya yang seperti mendukung keinginannya.


"Apa mama tidak marah sama keputusan yang aku pilih." Mamanya menggeleng.


"Kamu berhak menentukan yo, hiks hiks besok kamu akan tau jawabannya." Mamanya berbisik pelan di telinga leo.


"Kalau begitu aku pamit ke kamar ma." Leo keluar dari kamar mamanya dan menuju ke kamar sendiri.

__ADS_1


Namun dia sudah tidak melihat keberadaan papanya dengan perlahan dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Leo mulai mengemasi barang barangnya satu persatu, rencananya dia akan memilih tinggal di apartemen yang dia beli dengan hasil keringatnya sendiri. Leo tidak ingin memakai fasilitas yang di kasih papanya, mulai sekarang dia akan belajar mandiri dan berhemat.


"Semoga ini sebuah keputusan yang baik untuk hidupku."


Leo mendorong koper miliknya, begitu sampai di ruang keluarga tidak sengaja dia berpas pasan dengan papanya. Namun dia tetap berjalan karena papanya juga tidak sekalipun melihat ke arahnya.


"Jika kamu sudah angkat kaki dari rumah ini, maka jangan pernah kembali." Tegas papanya tanpa melihat ke arah leo.


"Aku keluar bukan untuk memusuhi papa, aku hanya ingin mencari jadi diri. Sampai kapan pun papa tetaplah orang tuaku." Kemudian dengan tergesa-gesa leo keluar dari sana, tanpa menghiraukan panggilan dari mamanya.


"Leo leo jangan pergi nak hiks hiks. Pa cegah dia pa, dia anak kita satu satunya." Mamanya menangis dengan histeris.


"Itu pilihannya ma, biarkan dia pergi dulu. Ada waktunya dia akan kembali." Jonathan tidak ingin ambil pusing dengan kepergian anak mereka.


"Hiks hiks kamu jahat pa, leo anak kita satu satunya harusnya kamu mencegah bukannya membiarkan dia pergi gitu aja." Olin benar-benar marah sama suaminya.


"Ma cukup, biarkan dia pergi kita masih bisa memantaunya kan."


"Ini semua karena ulah keluarga kamu pa, andai aja mereka tidak mementingkan tahta pasti semuanya tidak akan seperti ini." Olin marah dan berlalu dari sana.


Sekarang tinggallah Jonathan yang termenung karena ucapan istrinya, memang benar apa yang dia ucapkan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua telah terlanjur, banyak kebohongan yang mereka simpan tanpa pengetahuan leo.


Hingga sekarang pikiran dan hidup anaknya yang menjadi kacau atas ulah keluarganya, Jonathan. Dia juga tidak bisa marah karena Olin menyalahkan keluarganya, karena ini semua adalah fakta.


Olin menangis hingga tersedu-sedu karena begitu mengkhawatirkan putranya, walaupun leo sudah dewasa namun di matanya dia tetaplah putra kecilnya yang masih membutuhkan tempat sandaran.


Kasih sayang seorang ibu memang abadi dan takkan terganti.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2