
Adiba mulai mengikuti kursus desain di salah satu butik milik keluarganya yang berada dekat dengan perusahaan milik Dady nya Leo. Sudah beberapa hari ini Leo sering melihat Adiba yang keluar masuk butik langganan momynya, ingin sekali dia menghampiri dan bertanya secara langsung namun mereka tidak sedekat itu.
Adiba belum tau jika Leo sering memperhatikan nya secara kejauhan. Dia hanya fokus pada kursusnya saja tanpa ingin tau permasalahan lainnya. Sebenarnya Adiba juga senang melihat Leo, tapi dia tidak berani untuk mendekatkan diri atau ingin didekati. Adiba takut akan keluarganya jika dia ketahuan berpacaran dan dekat dengan seorang laki-laki.
Memang sangat kuno, tapi ya beginilah cara keluarganya dalam menjaganya. Terkadang Adiba juga merasa tertekan karena dia juga ingin bebas seperti temannya yang lain. Tapi dia tidak berani berkata tentang keinginan hatinya, mungkin keluarganya punya tujuan yang baik untuk dirinya.
Dia hanya bisa terus positif thinking, makanya sekarang dia ingin menyibukkan dirinya seperti di Turki dulu.
Adiba sangat menyukai desain baju dia bahkan langsung bisa mendesainnya sendiri lewat selembar kertas HVS dan dengan pensilnya. desain yang dibuat Adiba sangatlah bagus dan selalu menjadi pilihan setiap para pelanggan yang ingin mencari modelan terbaru.
Tantenya saja sangat bangga kepadanya, karena Adiba selalu mempunyai ide ide berlian di saat para customer milik tantenya kerepotan memilih desain.
"Wahh Diba, ini keren sayang. Kamu sangat membantu semoga kelak kamu bisa sukses ya sayang." Puji tantenya dengan bangga.
"Hehe biasa aja kok tan, Diba cuma hobi aja makanya udah terbiasa mungkin." Jawab Diba merendah.
Saat asik mengobrol dengan tantenya, salah satu karyawan masuk dan memanggil mereka .
"Permisi buk, di luar ada buk Olin sedang menunggu ibuk." Ucap seorang karyawan.
"Iya sebentar lagi saya kesana." Jawab Tante Adiba dengan tersenyum dan mempersilakan karyawannya untuk kembali bekerja.
Tante adiba bekerja di butik milik keluarganya, karena kebetulan hanya dia yang memiliki skill di bagian desain. Dan bisa di bilang Adiba juga mengikuti tantenya, hanya mereka berdua yang senang dengan desain mendesign.
Nama tantenya Adiba adalah 'Fahira Abraham Myeesha'. Nama Abraham di ambil dari nama kakeknya, dan myeesha adalah nama marga mereka. Tante Fahira baru memiliki seorang putra yang kebetulan sedang menempuh pendidikannya di Kairo Mesir. Jadinya dia hanya tinggal bersama suaminya di sini, selama tinggalnya Adiba bersama kakeknya kini dia lebih sering mengunjungi rumah papanya.
"Selamat pagi jeng." Sapa Tante Fahira dengan melakukan cipika-cipiki ala emak emaknya.
"Pagi juga jeng, aduh makin cantik aja sih." Goda Tante Olin.
Tante Fahira hanya tersenyum menanggapi godaan Tante Olin. Kemudian perhatian nya mengarah ke Adiba yang berdiri di samping tantenya dengan tersenyum manis.
"Wah jeng anak gadis siapa ini, cantik banget." Tanya Tante Olin.
"Kenalin jeng ini ponakan aku, anaknya mas Ibrahim." Jawab Tante Fahira.
Adiba kemudian menyalim Tante Olin dengan sopan. Sampai Tante Olin mengelus pucuk kepalanya Adiba dengan sayang.
"Aduh sopannya ponakanmu jeng." Ucap Tante Olin senang dengan perlakuan Adiba yang sangat menghargai nya.
"Silahkan duduk Tante. Biar saya ambilkan minum dulu ya." Ujar Adiba dan dia berlalu ke belakang membuatkan minum untuk kedua wanita tersebut.
__ADS_1
"Jeng gimana desain yang aku minta kemarin itu, udah jadi belom." Tanya Olin.
"Udah dong jeng, ini liat liat dulu barang kali ada yang kamu suka." Fahira memperlihatkan beberapa desain yang sudah di rancang oleh Adiba.
Olin menatap takjub dengan desain yang di perlihatkan oleh Fahira, semuanya memang bagus dan sangat sesuai dengan pilihannya.
"Di minum dulu Tante." Ucap Adiba setelah meletakkan minuman di atas meja.
"Terimakasih ya sayang." Ucap Tante Olin.
"Sama sama Tan." Adiba pun memilih bergabung dengan mereka.
Tante Olin masih Melihat lihat desain gaun yang ada di depannya.
"Fahira ini rancangan siapa sih bagus banget, ih geram loh aku perasaan dulu enggak begini desain yang karyawan kamu buat." Ucap Tante Olin yang masih fokus pada kertas tersebut.
"Itu semua rancangan Adiba loh Olin, bagus kan." Jawab Tante Fahira.
Tante Olin mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Adiba dengan melongo tak percaya.
"Apa, serius kamu fahira." Tanyanya tak percaya.
"Iya olin ih kamu biasa aja kali jangan mangap begitu." Ucap Fahira tertawa ringan.
Adiba terkekeh geli dengan perlakuan Tante Olin yang menurutnya berlebihan.
"Kamu belajar dari mana sayang, bagus banget loh ini sketnya." Puji Tante Olin.
__ADS_1
"Biasa aja Tante sketnya, insyaallah Diba belajar sendiri Tan. Kebetulan ini memang hobi Diba sendiri." Jelas Adiba.
"Bagus loh sayang. Tante ambil semua ya, bisa kan kamu sendiri yang rancang." Pinta Tante Olin, Adiba dan tantenya saling pandang kemudian mengangguk dengan bersamaan karena saking senangnya.
Bukan masalah uang yang akan masuk, melainkan karena hasil jerih payahnya ternyata membuahkan hasil. Dan dia sangat senang tidak sia sia dia merancang semua ini sambil bergadang, Alhamdulillah ternyata ada hasilnya dia sangat bersyukur.
"Kalau begitu aku pamit ya jeng, kebetulan anakku yang nganter tapi dia nunggu di luar." Pamit Tante Olin.
"Loh kenapa gak di suruh masuk aja jeng." Ucap Tante Fahira enggak enak hati.
"Biasalah jeng anak muda, males ketempat beginian. Tante pamit ya Diba sayang." Ucap Tante Olin pada Diba.
"Iya Tan hati hati." Jawab Adiba.
Tante Olin keluar dan menemui anaknya yang sudah kesal sedari tadi.
"Mom ngapain aja sih lama amat." Ketus Leo kesal karena sudah lama menunggu.
"Kamu ini baru bentar jugak udah ngomel-ngomel aja." Leo malah balik di repetin oleh mommy nya.
"Yee yang lama siapa yang marah siapa." Leo masuk ke dalam mobilnya dan ikuti mommy nya.
"Jalan jangan banyak ngomong." Perintah mamanya.
"Itu apaan sih mom." Tanya Leo penasaran saat melihat banyaknya kertas HVS yang ada di mommynya.
"Ini itu sketsa baju Yo, bagus bagus loh yang buat juga cantik tau." Ucap mommy nya dengan tersenyum senang saat membayangkan wajahnya Adiba.
"Namanya siapa ma." Tanya Leo penasaran, mungkin saja tebakannya benar.
"Adiba." Jawaban singkat mommy nya cukup membuat Leo terkejut. Dan sekalian membuat rasa penasarannya juga terjawab.
Mungkin Leo akan sering sering mengantar mominya kesana. Leo terlihat sumringah, ternyata dugaannya tidak salah selama ini, dan perempuan yang dia lihat waktu itu ternyata memang benar-benar Adiba.
"Kenapa senyam senyum begitu kamu." Tanya mominya sambil memegang dahinya Leo.
"Apaan sih mom, aku lagi nyetir ini." Jawab Leo.
"Momi pikir kamu sakit, tumben tau kamu begitu senyam-senyum enggak jelas. Jadi ngeri tau Yo." Mominya bergidik sendiri, Leo malah memplototin mominya.
"Aku waras ya mom, bikin kesel aja." Gumam Leo.
__ADS_1
"Momi dengar ya Yo." Ucap mominya
#Bersambung