
Seminggu telah berlalu semenjak kebohongan leo terbongkar. Selama itu juga mereka berdua sama sama tidak saling menyapa. Walau sebenarnya ada seuntai rindu yang mereka pendam, karena sudah lama tidak bersama. Leo merasa seperti seorang pengecut dalam menghadapi percintaannya.
Kini kesehariannya dia habiskan di dalam pesantren, banyak hal baru yang sudah dia pelajari di sana. Kekosongan hatinya sedikit terobati dengan banyaknya anak santri yang menjadi temannya. Mereka selalu mengisi kesehariannya dengan mengaji di mesjid dan berbagai banyak hal lainnya.
Setiap sorenya mereka pasti akan mengikuti berbagai macam ekstrakurikuler seperti futsal, badminton dan banyak lainnya.
Leo sangat suka bermain badminton setiap sore dia pasti akan berlatih di lapangan. Banyak santriwati yang mengagumi seorang leo, karena selain tampan dia juga muaalaf yang sangat pintar dan cekatan dalam berbagai hal.
Banyak yang memanggilnya dengan sebutan gus tampan. Namun leo hanya menanggapinya dengan senyuman saja, dia juga tau jika zurina anaknya ustad ali mengagumimu. Namun leo tidak memperdulikannya karena dia tidak ingin membuat zurina terlalu berharap untuk nya.
Hanya adiba yang ada dalam hatinya. Leo sudah memutuskan untuk menghubungi adiba duluan. Karena sudah seminggu mereka tidak bertegur sapa dia sangat merindukan suara kekasihnya tersebut.
Untung sore ini dia sedang tidak ada kegiatan apa apa. Jadi dia memilih pergi ke taman untuk menelpon adiba, dengan jantung yang berdegup kencang dia menghubungi adiba.
Tut tut tut. . . Panggilan tersambung dan ternyata adiba merespon Panggilannya.
"Hening." Adiba tidak berani untuk bersuara.
"Assalamu'alaikum sayang." Baru kali ini leo mengucapkan salam saat menelponnya, hati adiba begitu berdesir dan tersentuh.
Dia baru menyadarinya sekarang, dan ternyata ini juga merupakan sebuah pertanyaan yang sudah lama terbesit dalam pikirannya.
"Waalaikum salam." Jawab adiba lemah, dia juga sangat merindukan suara kekasihnya.
"Apa kabar kamu." Tanya leo hati hati.
"Aku baik kamu apa kabarnya." Adiba menanyakan balik.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Aku juga baik apa masih boleh aku memanggil dengan sebutan sayang." Adiba terdiam di seberang sana.
"Tapi hubu_."
"Aku masih mencintai kamu diba. Aku mohon tetaplah menjadi yang seperti dulu, aku sangat mencintaimu sangat mencintai." Leo memotong ucapan adiba dengan lemah dan sedih.
"Hiks hiks aku juga bby. Aku juga sangat mencintai kamu hiks hiks maafin aku yang udah egois." Leo tersenyum senang akhirnya adiba maafkannya.
"Apa kamu sibuk sekarang."
"Tidak bby."
"Boleh kita bertemu aku sangat merindukanmu kamu sayang."
"Boleh bby." Jawaban singkat adiba membuat leo berjingkrak kesenangan.
"Assalamu'alaikum ukhti." Sapa leo yang membuat adiba merasa nyaman dan senang.
"Waalaikum salam bby." Matanya berembun karena ingin menangis, dia begitu terharu melihat penampilan kekasihnya yang sekarang.
Leo duduk di samping adiba mereka sama-sama terdiam karena bingung harus memulai dari mana.
"Apa boleh aku bercerita." Adiba mengangguk.
"Kamu adalah motivasi terbesarku dalam memilih keputusan yang sangat berat ini sayang." Adiba menatap lekat matanya leo, dia bisa melihat jika leo memang berkata jujur.
"Jangan jadikan aku sebagai alasannya bby, aku tidak ingin merebutmu dari tuhanmu."
__ADS_1
"Bukan itu, banyak hal lain yang bertentangan dalam kehidupan ku. Ada banyak hal yang sangat ingin aku ceritakan pada kamu."
"Ceritakan lah bby aku akan mencoba untuk menjadi pendengar yang baik."
Leo tersenyum mendengar jawaban adiba. Kemudian dia pun menceritakan semua keluhannya kepada adiba.
"Dari dulu walaupun aku seorang Kristiani. Namun tidak pernah sekalipun aku beribadah pada Tuhan Yesus. Aku pernah mengunjungi gereja, tapi tidak pernah memujanya. Tidak tau kenapa hatiku bertolak belakang dengan semua itu. Bisa di bilang aku membangkang dari tuhanku tapi ada alasan besar dari itu semua."
"Hari hariku selalu hampa dan tak tau arah, karena seperti ada hal yang mengganjal dalam hatiku. Teka teki yang begitu sulit aku pecahkan, karena aku sendiri bingung dengan diriku sendiri. Hingga pada saat melihat kamu di kantin waktu itu, aku seperti mendapatkan secercah harapan. Tapi aku juga belum tau apa itu, yang jelas teka teki dalam hidupku sedikit menemukan titik terang."
"Hingga lama kelamaan semakin banyak jawaban yang aku temukan. Dan bukan hanya itu, aku juga merasa bila di dalam darahku adanya darah islam yang mengalir. Hiks hiks kedua orang tuaku seperti menyembunyikan sebuah rahasia besar dalam hidupku." Adiba sampai meneteskan air matanya mendengar penjelasan leo.
"Apa kedua orang tau kamu sudah mengetahui tentang kamu yang sekarang bby." Leo menggeleng lemah.
"Aku sudah di usir dari rumah sayang. Sekarang aku tinggal di sebuah pesantren dan aku belajar banyak hal baru di sana." Adiba terenyuh mendengarkan kisah kehidupan kekasihnya.
"Maafkan aku yang egois waktu bby. Hiks hiks ternyata kamu sedang menghadapi masalah yang begitu besar." Leo menghapus air mata adiba dan menyuruhnya untuk berhenti maaf.
"Jangan merasa bersalah seperti itu sayang, aku yang seharusnya minta maaf karena dari awal aku sudah tidak jujur dari kamu."
"Hiks hiks sungguh besar pengorbanan kamu bby aku bangga sama kamu. Semoga Allah mengangkat derajatmu, dan semoga orang tua kamu bisa menerima kamu kembali."
"Amin sayang, tolong jadilah tempatku untuk berkeluh kesah dalam keadaan senang maupun di saat aku sedang kesulitan."
"InsyaAllah bby." Leo menggenggam jemarinya adiba dan mengecupnya.
Akhirnya usai sudah kesalah pahaman di antara mereka. Kini mereka sama-sama tenang dan kembali memulai semuanya dari awal.
__ADS_1
#Bersambung