Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Tante fahira


__ADS_3

"Assalamualaikum". Teriak Tante Fahira saat sudah sampai di dapur.


Semuanya menoleh dan kemudian Abigail bangun untuk memeluk wanita yang sudah sangat lama dia rindukan. Fahira sangat senang akhirnya putra semata wayangnya telah bisa berkumpul kembali dengan mereka, sudah sangat lama dia merindukan putranya namun hanya sekarang dia baru bisa memeluknya.


"Abi hiks mama rindu nak." Fahira memeluk anaknya sambil menangis meluapkan rasa rindunya.


"Abi juga ma, mama apa kabarnya." Tanya Abigail membalas pelukan mamanya.


"Mama baik, apalagi sekarang udah ada kamu." Jawab Fahira.


"Hei boy kenapa gak langsung pulang ke rumah HM." Tanya papanya yang bernama Ilham sambil memeluk sekilas anaknya.


Cara melepas kangen ala laki laki memang beda, tidak seperti perempuan yang banyak dramatis nya.


"Apa kabar pa." Tanya abi membalas pelukan papanya.


"Baik nak, kita makan dulu habis ini baru mengobrol oke." Papa ilham memutuskan untuk makan dulu sebelum bercerita banyak.


Adiba hanya tersenyum melihat ke akraban mereka, ternyata Abigail kakaknya termasuk anak yang hangat dengan orang tuanya. Tante Fahira sangat senang karena malam ini mereka bisa berkumpul kembali dengan putranya, dia juga dengan antusias nya melayani Abi saat makan.


"Ma, udah dong jangan di tambahin lagi. Aku udah kenyang." Tukas Abi cemberut karena mamanya terus saja menambahkan lauk dan nasi kedalam piringnya.


"Sayang kamu harus makan yang banyak, mama tau di sana kamu pasti kebanyakan makan roti kan." Mama Fahira masih keras kepala.


Abi hanya bisa melongo melihat piringnya yang tidak kosong kosong akibat ulah dari mamanya. Sedangkan Adiba dan papa ilham hanya menahan tawa mereka, kakek juga hanya menggelengkan kepalanya.


"Diba kamu mau nambah lagi nak biar Tante ambilkan." Tanya Fahira dengan lembut.


"Eh jangan Tante, Adiba udah cukup hehe." Adiba dengan sangat cepat menjawab.


"Mama kebiasaan ih, kalau gak habis mama yang habiskan ya." Ujar Abi kemudian kembali memakan makanannya yang telah di sajikan oleh mamanya.


Tak lama setelah beberapa suapan, Abi berlari ke wastafel dan memuntahkan semua yang baru saja dia makan. Rasanya sangat mual karena dia telah beberapa kali bersendawa dan sangat kekenyangan.


Fahira jadi panik saat melihat Abi memuntahkan semua makannya, dia pun memijat mijat tengkuknya Abi dengan rasa bersalah.

__ADS_1


"Uek Uek." Abi lemas di tempat.


"Mama sih keras kepala, udah tau anaknya gak banyak makan." Ujar papanya sambil membawa Abi ketempat duduknya.


Adiba memberikan minyak angin kepada tantenya, dia hanya bisa menghela nafas melihat Abi yang begitu lemas akibat perbuatan mamanya.


"Olesin ini dulu tan, biar mendingan." ujar Adiba memberikan minyak anginnya.


Fahira mengambilnya dan mengoleskan pada Tengkuk putranya.


"Aduh kenapa bisa jadi gini ya." Keluh Fahira sambil memijat mijat tengkuknya Abi.


"Nanyak lagi, gara gara kamu ma makanya Abi begini." Ujar papa ilham.


"Udah ma, pa, aku udah baikan kok." Jawab Abi lemas.


Kakek Abraham menyuruh mereka untuk membawa Abi ke kamarnya dulu, dan dia segera menelpon dokter menyuruhnya untuk segera datang kerumah mereka.


"Aduh mual banget rasanya." Keluh Abi setelah merebahkan dirinya di kasur.


"Udah dikit dek." Jawab Abi dengan mata terpejam.


Begitu dokter tiba dia segera di periksa, dan ternyata maag Abi kambuh. Karena sewaktu berada di Mesir dia tidak pernah lagi memakan makanan khas Indonesia, apalagi sambel. Dan begitu dia memakannya tadi perutnya langsung bergejolak dan mengakibatkan mual.


"Ini resep untuk tuan Abi." Dokter memberikan resepnya.


"Makasih dok." Ujar Fahira mengambil resep dari tangannya dokter.


Dokter yang memeriksa Abi pun izin pulang, dan sekarang tinggal Abi bersama Adiba juga mamanya. Perutnya Abi benar benar menolak makanan yang baru saja dia masukkan ke dalam mulutnya. Walaupun makanannya terlihat sangat menggoda, tapi lambungnya sama sekali tidak mau menerima.


"Nak, maaafin mama ya." Ucap Fahira dengan rasa bersalahnya.


"Udah ma, Abi udah mendingan kok." Jawab Abi lemas.


"Makanya besok besok, kalau mau berbuat sesuatu. Di pikirkan dulu baik baik, jangan asal ambil keputusan sendiri." Papanya Abi yang menjawab secara tiba-tiba.

__ADS_1


Setelah mengantarkan dokter sampai depan pintu, dia segera kembali ke kamarnya Abi. Fahira memasang wajah cemberutnya saat di omelin oleh suaminya.


"Udah pa jangan di bahas lagi, Abi ngantuk. Boleh ya kalian keluar dulu." Ujarnya masih lemas.


"Selamat istirahat ya kak." Ucap Adiba yang di anggukkin oleh Abi.


"Kalau begitu papa sama mama juga keluar, kamu istirahat ya boy." Ucap papanya sambil mengacak-acak rambutnya Abi.


Sebelum keluar, Fahira lebih dulu mengecup kening anaknya.


*


*


*


Leo masih menyesap rokoknya sambil memandangi bintang di langit lewat pintu balkonnya. Pikirannya menerawang jauh kepada Adiba, terkadang dia jadi tersenyum sendiri saat mengingat gadis yang telah memikat hatinya.


Leo jadi merasa bingung dengan dirinya sendiri, dia juga tidak tau kenapa bisa jatuh hati kepada gadis berhijab itu. Nyatanya sangat banyak gadis yang menyukainya, tapi hingga saat ini masih belum ada satupun yang membuatnya sampai begini.


Adiba memang membawa banyak pengaruh terhadap dirinya. Tapi dia juga tidak ingin berharap lebih, karena menginginkan mereka bukanlah seiman. Tapi dalam hatinya yang paling dalam, dia berharap semoga suatu saat dia bisa mendekati Adiba tidak hanya sebagai teman ataupun adik. Tapi lebih dari itu semua, dalam hati Leo ingin sekali dia mencari tau tentang Islam.


Dan sebentar lagi dia juga akan mendapatkan gelar sarjana. Leo akan berusaha lebih keras lagi agar suatu saat dia bisa membuat Adiba untuk berpaling kepadanya. Karena Leo sangat yakin, bila Adiba akan menjadi miliknya. Entah dari mana datangnya rasa percaya diri itu, yang jelas dia sangat merasa dekat dengan Adiba walaupun mereka baru bertemu.


"Aku akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan cintamu Adiba." Gumamnya dengan tersenyum sambil terus memandangi langit.


Sebentar lagi dia juga akan lulus dari universitas tersebut, tapi Leo lebih memegang prinsipnya. Jika mereka di takdirkan untuk bersama, pasti akan ada jalannya. Leo hanya bisa berharap dan memohon, tapi hatinya juga tidak tenang karena mengingat perbedaan di antara mereka. Haruskah dia menemui salah satu ulama untuk menanyakan tentang kegundahan hatinya.


Dia juga tidak berani mengungkapkan semuanya pada mama dan keluarganya. Hati kecilnya merasa sangat gundah dan gelisah, semenjak bertemu dengan Adiba rasa ingin taunya tentang Islam juga semakin kuat.


"Kalau memang keyakinanku berubah hanya karena rasa cintaku padamu, maka aku ikhlas untuk mengikuti seluruh ajaran agamamu." Gumam Leo dengan hati yang mantap.


Sudah beberapa kali dia mencari tau tentang Islam lewat YouTube, dan media lainnya. Tenyata wajah wajah orang Islam begitu muncul auranya, dari situ Leo juga semakin penasaran. Terkadang hatinya juga sering bertanya tanya, apakah sebegitu jauhnya perbedaan di antara mereka.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2