
Selesai melaksanakan shalat pertamanya leo berkali-kali melakukan sujud syukur sambil menangis haru.Sekarang jawaban atas kegelisahan hatinya telah terjawab sudah, leo mengucapkan terimakasih kepada ustad ali yang telah membimbingnya. Beliau juga mengajak leo untuk tinggal di pesantrennya, dia juga tidak menolak mungkin ini salah satu cara untuk membalas kebaikan ustad ali.
Leo tidak henti hentinya menebar senyuman, malam ini dia akan menginap di pesantrennya ustad ali. Besoknya dia akan membereskan semua barang barangnya yang ada di apartemen dan membawanya ke pesantren, ustad ali juga mengajaknya makan malam di rumah.
"Umi masak yang lebih ya, kita kedatangan nak leo." Zurina yang sedang membantu umminya terlihat kesenangan.
"Abi ngundang nak leo."
"Iya, mungkin dia belum terbiasa makan makanan biasa. Mungkin besok agak sorean nak leo bakal resmi tinggal di pondok." Ujar ustad ali.
"Abi dia kan udah masuk universitas, kenapa malah di suruh mondok lagi."
"Nak, tinggal di pondok tidak harus bagi dia yang masih remaja untuk semua usia pun bisa asalkan dianya mau." Zurina mengangguk dan membenarkannya ucapan abinya.
Tok tok tok. . .
"Assalamu'alaikum."
Ustad ali segera keluar membukakan pintu untuk leo, zurina juga meminta izin kembali ke kamarnya.
"Aduh kenapa saya deg degan gini ya." Zurina merasa salah tingkah bila hanya dengan melihat leo.
Dia pun memilih pakaian yang pantas untuk bergabung di meja makan bersama mereka. Terlihat umi yang sedang menyajikan makan malam sendirian, zurina pun membantu umi nya agar cepat selesai.
"Sebelum makan kita baca doa dulu ya." Ustad ali membimbing doa sebelum makan.
__ADS_1
"Nak leo mau yang mana, biar umi ambilkan." Leo merasa sungkan dan tidak enak.
"Terima kasih umi, biar saya sendiri aja." Tolak leo halus.
Zurina sesekali juga mencuri pandang ke arah leo, ternyata kalau lebih dekat begini ketampanan leo semakin terlihat jelas. Leo juga merasa sepertinya anak dari ustad ali sedang memperhatikannya, dia mencoba abai karena menurutnya itu hal biasa.
"Apa antum sudah menghubungi keluarga antum anak muda."
"Untuk sekarang belum pak ustad, saya akan mencari waktu yang tepat." Leo juga baru teringat akan kedua orang tuanya.
"Apa nak leo tidak berminat untuk ganti nama, maaf umi hanya menyarankan." Umi merasa bersalah karena tidak mengontrol cara bicaranya.
"Jangan sungkan umi, saya juga berencana untuk mengganti nama. Hanya saja saya masih bingung harus mencari nama yang tepat buat saya." Leo meneguk air putihnya hingga tandas.
"Nak leo udah siap makannya, tambah aja nak jangan sungkan."
"Tidak umi, saya sudah kenyang."
Ustad ali juga sudah selesai makan dan mengajak leo untuk berbincang-bincang di ruang tamu. Umi merasa heran melihat putrinya yang tidak seperti biasanya, di jadi sedikit calm dan tidak banyak bicara.
"Nak kamu sakit." Tegur umi yang membuat zurina kaget.
"Ah tidak umi, ayok saya bantuin beresin." Umi hanya geleng-geleng kepala melihat gelagat zurina yang tampak lucu di matanya.
*
__ADS_1
*
*
Selesai shalat adiba turun ke bawah karena abigail memanggilnya, wajahnya masih murung dan terlihat sedih. Dia juga tidak bergairah badannya terasa lesu dan tidak bersemangat, ternyata begini rasanya di bohongin. Seharian ini leo juga tidak menghubungi nya adiba semakin negatif thinking terhadap leo.
"Woyy melamun aja kenapa sih dek."
"Engak apa apa, aku gak ikut makan ya. Nantik kalau lapar aku ambil sendiri." Adiba meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.
Dia sengaja menutup pintu kamarnya agar abi tidak menjahili nya. Adiba merebahkan dirinya di kasur sambil memegang ponsel, air matanya perlahan merembes karena mengingat kejadian tadi siang di mesjid.
"Hiks hiks hiks jadi selama ini dia membohongi aku, kenapa kamu bisa setega ini bby. Terus alasan apa yang membuatnya hingga berpindah agama, apa karena seorang santriwati di pesantren itu hiks hiks." Tiba-tiba ponselnya berdering adiba yakin yang menelponnya pasti leo.
Dia enggan menjawab karena hatinya masih sakit atas kebohongan leo. Sedangkan di sana leo semakin merasa bersalah dan gelisah, apakah kekasihnya sedang baik baik saja. Karena leo baru sadar bahwa seharian ini dia belum menanyakan kabar tentang kekasihnya.
"Ya ampun sayang kamu kenapa, kenapa dia tidak mengangkat telponnya ya." Leo mulai menerka-nerka namun dia juga tidak bisa menebak karena diba tidak pernah begini sebelumnya.
Leo pun mengirimkan sebuah pesan yang bernada kekhawatiran, dia juga meminta maaf kalau seharian ini telah mengabaikan adiba. Setelah membaca pesan singkat dari leo, adiba pun menelpon balik kekasihnya. Tanpa basa basi besok dia menyuruh leo untuk menemuinya di danau yang biasa mereka datangi.
Dia tidak ingin mengobrol secara langsung karena suasana hatinya sedang buruk. Hatinya juga sedih dan sedikit ragu untuk meneruskan hubungan mereka, karena setiap kebohongan pertama telah dilakukan. Pasti akan ada kebohongan lain lagi yang akan menanti.
"Aku harus gimana ternyata kak abi dan papa benar. Cinta memang menyakitkan hiks hiks maafin diba papa hiks aku menyesal telah melanggar janji kalian."
#Bersambung
__ADS_1