
Tak terasa waktu semakin berjalan dan bulan berganti bulan juga tahun telah berganti. Kini Leo telah resmi menjadi seorang prajurit militer di negaranya, setelah mendapatkan pengusiran beberapa tahun yang lalu. Dia bersama ibunya memilih tinggal di sebuah negara lain dan sang ibunda juga telah resmi memeluk ajaran Islam.
Kebahagiaan Leo berkali-kali lipat, walaupun dulu sempat kecewa dan sakit hati atas perlakuan papanya. Namun dia tidak menaruh dendam mau sampai kapanpun Jonathan tetap akan menjadi papanya.
Leo hanya mensyukuri kehidupannya yang sekarang, ibunya juga telah mengubah Namanya menjadi 'Nur Aisyah'. Begitupun dengan Leo tidak ada lagi sematan Benedict di namanya mereka juga telah mengubah semua yang dulunya pernah bersangkutan dengan masa lalu mereka.
Kecuali cintanya Leo pada Adiba dia masih sangat mencintai wanita tersebut hingga saat ini. Hanya saja Leo masih belum berani untuk menemui kekasihnya itu, hatinya ragu setelah sekian lama berpisah apakah Adiba masih menunggunya atau dia telah bersama dengan yang lain.
"Kenapa nak."
"Ma. Aku merindukan Adiba apakah dia masih mau menungguku apa dia sudah memiliki seorang tunangan."
"Jangan dulu berpikiran buruk. Jika kamu merindukannya temuilah nak, jangan ragu untuk menemuinya."
"Sebentar lagi ma. Aku masih mau memantaskan diri dulu sebelum menemuinya, keluarga Adiba juga bukan keluarga sembarangan." Ujarnya lesu.
*******
Adiba sangat di sibukkan dengan kegiatannya di butik miliknya, bukannya tidak ingin mempercayakan karyawannya namun klien langsung yang meminta agar Adiba mendesainnya sendiri. Yah kini Adiba telah menjadi desainer terkenal di Indonesia, bahkan terkadang dia juga menjadi salah satu BA di perusahaan terkenal.
Hijabnya yang fashionable selalu membawa keberkahan dalam karirnya Adiba sangat menikmati kehidupannya yang sekarang. Namun bayangan Leo tetap masih membekas dalam ingatannya, Adiba masih sabar menunggu.
"Sibuk amat kayaknya." Adiba sedikit menghembuskan nafas.
"İya kak, harus selesai dua hari lagi. Lagian itu klien perhitungan amat gak sempat istirahat aku kak." Keluhnya menatap Abi dengan memelas.
"Nikmati aja jangan ambil beban. Kakak mau kerumah Rina kita mau nyari seserahan buat lusa."
"Bikin iri aja sih. Aku kapan ya Leo juga masih belum ada kabarnya."
__ADS_1
"Lagian bukannya Nerima si pengusaha itu aja, masih aja kamu nunggu yang belum pasti."
"Kami udah janji kak."
"Sabar dek. Kakak pergi ya kamu ada yang mau di titipin gak." Adiba hanya menggeleng.
Setelah kepergian Abi dia Kembali melanjutkan kegiatannya, namun hatinya kembali sakit mengingat Leo yang tak kunjung memberinya kabar. Sudah masuk tahun ketiga namun mereka sama sekali belum pernah mendengarkan suara masing-masing.
"Hiks hiks rasanya sakit ya Allah. Kenapa masip percintaan ku begitu miris." Adiba menghentikan kegiatannya karena hatinya sedang kalut dan sedih.
Sudah beberapa kali Adiba mencoba untuk mencari akun ataupun sesuatu yang berkaitan dengan Leo. Tapi hasilnya selalu nihil dan Adiba harus kembali menahan rasa pahit.
Seorang pengusaha muda di bidang fashion selalu mengutarakan perasaannya kepada Adiba. Namun dengan lembut Adiba selalu menolaknya, masih dengan alasan yang sama.
Pengusaha muda tersebut bernama Angga putra Pratama. Ketampanannya juga setara dengan Leo, bahkan dia telah sukses di usia yang begitu muda. Angga adalah pemuda baik dan ramah, tanpa sepengetahuan Adiba dia juga telah melakukan pendekatan dengan keluarganya.
Adiba sangat menutup diri darinya, Angga pun terlanjur menyukai gadis tersebut sehingga membuatnya pantang untuk mundur. Angga sudah bertekad akan menjadikan Adiba sebagai istrinya, niatnya begitu besar untuk memiliki Adiba.
Menurutnya itu suatu keajaiban, Karena waktu itu Adiba sedang menghadiri sebuah acara yang lumayan besar. Namun ingatannya tak pernah lupa akan kewajibannya, dia sengaja mengasingkan diri untuk melakukan kewajibannya di sebuah mesjid terdekat.
Padahal saat itu hanya menunggu beberapa jam lagi Adiba harus tampil untuk mempromosikan karyanya. Angga benar benar salut dan kagum dengan kepribadian yang Adiba miliki.
Di saat semuanya sibuk menikmati acara dan berfoto ria bersama, Adiba malah terlihat gelisah karena belum melakukan kewajibannya.
Hari ini dia kembali melihat kegelisahan itu pada gadis pujaannya, Angga mendatangi butik Adiba untuk melihat pesanannya. Begitu sampai di ruang produksi dia kembali melihat Adiba yang termenung dengan mata yang mulai membasah.
"Sebenarnya ada apa dengan dia." Ucapnya dalam hati.
Tok tok tok. . .
__ADS_1
Adiba menoleh ke arah pintu, dia segera menghapus sisa air matanya dan menyambut dengan ramah kedatangan Angga.
"Assalamualaikum Adiba."
"Waalaikumsalam pak Angga silahkan masuk pak." Ujarnya ramah dan tersenyum lembut.
Senyum yang berhasil membuat Angga salah fokus dan semakin ingin memiliki gadis tersebut.
"Pak Angga apa baik baik saja." Adiba membuyarkan lamunan Angga.
"Astagfirullah maaf Adiba, saya jadi melamun. Udah sampai mana perkembangannya." Tanya Angga basa basi.
"Mari pak saya perlihatkan. Untuk dress-nya masih dalam tahap perbaikan karena kemarin sempat terjadi sedikit insiden kecil. Dan untuk lainnya Alhamdulillah sudah hampir selesai sih pak, apa waktuku masih cukup pak."
"Tidak salah saya memberi kepercayaan ini pada butik kamu, masih waktunya masih cukup kok. Kamu begitu cekatan ternyata, apa dress-nya bisa di buru Adiba."
"Bisa kok pak, nanti karyawan saya akan membantu. Semoga bapak suka sama hasilnya, kami juga selalu menjaga amanah dari setiap clien kami pak."
"Syukurlah semoga hasilnya sesuai yang diharapkan."
"Amin pak." Adiba hanya menanggapi dengan senyuman.
"Apa kamu masih sibuk."
"Emm sibuk banget sih pak hehe. Soalnya untuk gaun yang berwarna navy itu masih saya yang kerjakan." Tunjuk Adiba pada salah satu gaun yang masih berada di posisi jahitan.
"Baiklah mungkin bisa di lain waktu, kalau begitu saya permisi." Angga tidak tau harus membuka obrolan seperti apa dengan gadis ini.
Adiba terlalu polos untuk di ajak mengobrol bersama, Angga akan terlihat canggung bila harus mengobrol sesuatu yang tidak penting bersamanya.
__ADS_1
Karena kehabisan obrolan terpaksa Angga harus kembali ke kantornya dan meninggalkan butik Adiba.