
Setelah sekian bulan berada di pesantren ustad ali, kini dengan hati yang mantap dan penuh kerinduan. Leo pulang untuk menemui kedua orang tuanya yang sudah lama tidak memberikan kabar.
Turun dari taksi dan berdiri tepat di depan gerbang rumah tempat kelahirannya, dia menatap penuh rindu dan sedih. Sambil menjinjing tas ransel miliknya dia memasuki gerbang tersebut.
"Hah. Den leo wah dengan akhirnya aden pulang juga kerumah." Security yang bertugas di depan gerbang merasa sangat senang dengan keberadaan leo.
"Apa kabar mang."
"Mamang baik den, alhamdulillah aden sudah balik. Semenjak kepergian aden ibuk jadi sakit sakitan den." Penjelasan mamang membuatnya kaget dan segera pergi menemui mamanya.
Leo berlari memasuki pintu utama, air matanya terus bertetesan membasahi wajahnya. Sampai di lantai atas dia segera membukakan pintu kamar mamanya, namun saat leo membuka pintunya. Semua mata memandang kearahnya termasuk mamanya yang masih terbaring lemah diatas tempat tidurnya.
"A_anakku leo." Ucapnya lemah dengan suara yang terpatah patah.
Leo berjalan pelan dengan pandangan kosong dan air mata yang tanpa henti mengalir.
"Mama hiks hiks maafkan aku ma. Maaf jika karena leo mama jadi begini, hiks hiks aku minta maaf." Ucapnya terisak dalam pelukan mamanya.
Papanya masih berdiri dan membuang wajahnya kearah lain, termasuk kakek dan juga nenek beserta tante dan omnya.
Mereka masih tidak menyetujui dengan pilihan leo, mereka masih marah dan merasa kecewa dengan tindakan yang diambil leo.
"Mama hanya kangen sama kamu sayang. Jangan pergi lagi mama gak kuat, temenin mama ya nak." Leo mengangguk dan masih memeluk mamanya.
"InsyaAllah ma." Papanya terkejut dan menatap leo dengan mata yang melotot.
Baru beberapa bulan menghilang ternyata leo sudah sejauh ini, bahkan lafalan yang dia ucapkan begitu fasih dan benar.
__ADS_1
"Leo ikut papa ke ruang kerja sekarang." Tinggallah neneknya yang menemani di dalam kamar.
Tiba di ruang kerja papanya leo masih diam tanpa berkata sepatah katapun. Kakek dan beserta om dan tantenya hanya menunggu apa yang akan dikatakan oleh papanya leo.
Plak. . . Tamparan keras melayang ke wajahnya leo hingga membuatnya meringis karena menahan perih.
"Bagaimana rasanya apakah sakit." Leo hanya diam mendengarkan pertanyaan dari papanya.
"Jawab papa leo, apa kamu sadar apa yang telah kamu perbuat. APA KAMU SADAR DAMPAK DARI SEMUA PILIHANMU JAWAB." Papanya benar-benar marah dan sulit mengontrol emosinya.
"Maaf pa."
"Maaf. Apa dengan kata maafmu semua masalah akan selesai dan semuanya akan kembali seperti semula." Yang lainnya hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa berniat untuk ikut campur.
"Leo tau kalau leo salah pa, aku juga udah dewasa aku juga berhak atas pilihan hidupku."
"Pa, tolong jangan bahas masalah ini lagi. Aku tidak mungkin meninggalkan agama ku, inilah tujuan hidupku pa."
"Pilihan hidup kamu bilang, dulu kenapa bisa kamu berpaling bahkan berkhianat dengan agamamu sendiri, jawab saya."
"Karena aku tidak yakin dengan diriku sendiri pa, tapi sekarang aku sudah tenang dan nyaman dengan semua ini. Tidak seperti dulu aku selalu serba salah dan selalu merasa kurang."
"Anak tidak tau diri, kamu hanya punya dua pilihan." Leo terkejut dengan penuturan papanya.
"Maksud papa."
"Ya, kamu hanya punya pilihan. Tinggalkan perempuan itu atau tinggalkan agamamu, kalau tidak kamu akan kehilangan mamamu untuk selamanya."
__ADS_1
Deg. . .
"Apa setega itu papa terhadap aku anak papa sendiri." Leo kembali meneteskan air matanya.
"Kenapa tidak. Saya kasih waktu 24 jam, pikirkan baik baik sebelum semuanya terlambat."
Mereka semua keluar dari ruang kerjanya, kecuali tantenya yang tidak tega melihat ponakannya yang begitu terpukul.
"Sabar yo. Menurut tante pilihlah yang menurut kamu harus di pilih. Untuk perempuan masih banyak di luaran sana yo, jangan sampai kamu menyesal."
"Hiks hiks kenapa kalian begitu kejam."
"Inilah hidup, setiap kehidupan juga ada setiap pilihan yo."
"Tapi kenapa harus seperti ini tan."
"Kamu tau kan seperti apa sifatnya papa kamu. Maka bersiaplah untuk memilih jangan sampai kamu menyesal, tante keluar dulu."
Sekarang tinggal dirinya sendiri di ruang kerja papanya, leo terduduk di lantai dan menangisi kehidupannya. Apa dia akan sanggup untuk memilih salah satunya, semuanya adalah pilihan yang berat.
"Ya Allah kenapa harus seperti ini." Di saat seperti ini hanya shalat dua rakaat yang terlintas di pikirannya.
Leo kembali ke kamarnya untuk beristirahat sebentar, dia akan merenungkan semuanya sebelum memutuskan untuk memilih.
Mungkin ini adalah sebuah cobaan dari Tuhan untuk dirinya, jika dirinya memang berjodoh dengan adiba pasti Tuhan mempunyai caranya sendiri untuk mempersatukan mereka kelak.
Sesungguhnya hanya Allah Maha sang pengatur kehidupan manusia di muka bumi, dia hanya memasrahkan semuanya kepada Allah. Dia yakin jika semua terjadi juga atas kehendaknya allah juga tidak akan menguji kesabarannya dibatas kadar kemampuannya.
__ADS_1
#Bersambung