Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Menginap di pondok


__ADS_3

Karena jawaban ustad ali membuatnya terdiam, sehingga sekarang dia memilih untuk menginap di pondok dia akan berdamai dengan hatinya terlebih dulu sebelum mengambil sebuah keputusan yang besar. Ustad ali juga memperbolehkannya menginap di sana karena kebetulan tidak ada satupun santri yang berani datang ke pondok tersebut.


Ustad ali juga memutuskan untuk menemani leo tidur di pondok nya, namun begitu sudah mencapai waktu subuh beliau terbangun dan langsung menuju mesjid untuk menunaikan dua rakaat. Saat leo terbangun dia sudah tidak menemukan ustad ali lagi, dia pun segera bangun untuk mencuci mukanya di kran air samping mesjid. Namun saat hendak berbalik dia di kagetkan kembali dengan kemunculan ustad ali yang tiba-tiba, leo mengelus elus jantungnya karena begitu shok.


"Ya ampun ustad kenapa muncul tiba-tiba sih." Protes leo yang membuat ustad ali tersenyum.


"Ana baru pulang dari mesjid anak muda, kamu kenapa cuci mukak di sini."


"Emang ada kamar mandi tad."


"Ada di belakang pondok, yaudah ikut ana aja biar ana tunjukin sekalian antum bebersih nantinya." Leo hanya mengikuti beliau dari belakang.


Begitu sampai leo hanya mangut mangut, ternyata lengkap juga peralatan di sini. Walaupun pondoknya kecilnya tapi fasilitasnya lumayan lengkap, bukan hanya lengkap tapi juga sangat rapi dan bersih. Leo sangat kagum melihat suasana disini pantesan aja para santri disini sangat betah, karena selain tempatnya aman di sini juga damai dan tentram.


"Makasih ya ustad, saya mandi dulu." Ustad ali meninggalkan leo di pondok dan beliau kembali ke dalam makhad tepatnya ke dalam rumahnya sendiri untuk bebersih dan berganti pakaian.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam abi." Zurina menyalim abinya.


"Kamu belum siap siap nak."


"Sebentar lagi abi, saya lagi bantuin ummi di dapur."


"Yasudah abi ganti pakaian dulu, kalau udah siap kamu ganti pakaian terus ya." Zurina mengangguk dan kembali ke dapur.


Selesai berganti pakaian ustad ali menuju meja makan dan mengambil nasi dan beberapa lauk untuk di bawakan ke pondok. Zurina yang sedang makan pun mengeryit heran, karena tidak biasanya abinya akan mengambil nasi terpisah begitu.


"Bi, mau abi bawa kemana itu nasi sama lauknya."


"Ada teman abi di pondok belakang mesjid, kasian dari semalam dia belum makan."


"Kenapa gak sekalian di ajak kesini aja bi." Umi Fatimah bersuara.


"Nantik abi ceritakan ya ummi." Ustad ali tersenyum dan keluar dari rumah untuk menemui leo.


Tok tok tok.

__ADS_1


"Masuk." Jawab leo dari dalam.


"Assalamu'alaikum anak muda ayo makan dulu." Ustad ali mengajak leo untuk makan bersama, leo sampai bingung sendiri.


"Jangan bengong ayo makan." Leo pun mengangguk dan duduk di samping ustad.


"Ini buat saya ustad." Beliau pun mengangguk.


Sebelum makan ustad ali membacakan doa terlebih dulu, namun tidak dengan leo dia langsung memakan makanannya dengan perlahan.


Selesai makan leo membersihkan peralatan makannya bersama ustad ali, sehingga membuat ustad ali tersenyum melihat leo.


"Apa ana boleh bertanya anak muda."


"Tanyakan saja ustad." Leo kembali duduk karena ustad ali mengajaknya untuk bicara.


"Kenapa antum tidak membaca doa sebelum makan. Leo langsung lesu mendengar pertanyaan ustad ali.


"Hufft harus dengan cara apa saya berdoa ustad, agama saya aja belum jelas. Jujur ya ustad selama hidup saya belum pernah serius berkunjung ke gereja, apalagi menaati ajarannya." Jawab leo jujur sehingga membuat ustad ali menggeleng dan tersenyum.


"Bagaimana antum akan menaati islam nantinya, jika agama antum yang sebelumnya saja tidak antum perdulikan."


"Kalau islam, seperti apa pandangan antum terhadap islam."


"Islam begitu murni dan bersih ustad, perbedaannya sangat banyak. Di saat orang-orang akan melakukan ibadah mereka berpakaian sangat bersih dan juga rapi. Tidak seperti kami yang bisa leluasa keluar masuk gereja walaupun dalam keadaan kotor sekalipun."


"Hanya itu saja." Leo menggeleng.


"Sangat banyak, saya takut bila salah dalam berucap ustad." Leo menunduk.


"Apa hari ini antum tidak masuk kuliah."


"Tidak ustad saya sedang tidak ada tugas."


"Bagaimana perasaan kamu sekarang." Leo menatap mata ustad ali dengan tegas.


"Ajari saya tentang islam pak ustad, semakin hari umur saya akan semakin tua ustad. Tolong ajari saya agama yang benar agar nantinya saya siap menghadapi cobaan hidup."

__ADS_1


"Antum mantap dengan pilihan antum." Leo mengangguk dengan berurai air mata.


"Alhamdulillah ya Allah, setelah ini antum akan saya ajak ke mesjid. Akan ada banyak santri dan santriwati saya yang akan menjadi saksi untuk antum hari ini, dan ini adalah hari kebahagiaan bagi kita semua." Leo meneteskan air mata mendengar jawaban ustad ali yang tampak sangat bahagia.


Dia tidak menyangka ternyata respon beliau sangat luar biasa, sampai sampai beliau menangis dan bersujud syukur. Ternyata dia tidak salah memilih jalan.


Adiba masih mengikuti kelas seperti biasanya kebetulan pagi ini kakaknya yang menjadi sebagai dosen pengganti. Rina sangat kesal melihat kehadiran abi yang mulai memasuki ruangannya.


"Diba kenapa harus si om sih. Enggak ada dosen lain apa." Rina menghentak hentakan kakinya di lantai.


"Wush diam aja deh. Udah sih nyimak aja jangan rewel." Adiba geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang satu ini.


"Tau ah. Pak permisi saya izin ke toilet."


Abi yang baru saja ingin memulai materi mengalihkan perhatiannya ke arah rina dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Iya ada apa em_ maksud saya kamu kenapa." Hampir saja abi menyebut nama rina dengan sebutan ember.


"Izin ke toilet pak budeg." Spontan rina langsung menutup mulutnya.


Adiba menepuk jidatnya melihat kelakuan rina yang tidak tau tempat. Semua maha siswa dan juga maha siswi melihat ke arah rina sambil geleng-geleng kepala.


"Dasar lo rin gak ada sopan sopannya." Cibir mereka.


"Biasa aja dong orang salah ucap jugak." Abi tertawa geli dalam hati ternyata rina sangat menggemaskan.


"Saya kasih waktu 5 menit." Abi berusaha untuk tetap profesional walau dia sangat ingin tertawa, namun jalan pikirannya masih berfungsi dengan baik.


"Dasar rina." Gumam adiba heran dengan sahabatnya itu. Ada ada saja kelakuannya saat bertemu dengan abi, pasti bawaannya kesal dan emosi naik terus.


Setelah selesai dengan hajatnya dia kembali ke ruangannya. Namun dia tidak ingin melihat ke arah abi dan langsung duduk kursinya.


"Assalamu'alaikum dulu baru masuk." Sindir abi saat melewati mejanya yang di duduki oleh rina.


Rina merasa bodoamat dan seakan tidak perduli dengan sindiran abi.


"Bodoamat." Ketus rina.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2