
Tak terasa setelah betapa lelahnya mendesain sebuah gaun muslim yang indah, kini acara yang di nanti nanti telah tiba. Semua peserta yang turut hadir tampak sangat bahagia mereka semua tanpa deg degan dan begitu excited.
Adiba masih berada di ruang make up dia masih belum berani untuk keluar, karena ini merupakan pengalaman pertamanya dalam mengikuti ajang bergensi seperti sekarang ini. Dia juga belum berinteraksi dengan peserta lainnya karena dia datang sedikit terlambat.
"Hufft semoga acara ini sukses amin."
"Awas dek jangan sampai terpleset nantinya."
"Ih kak do'ain aku yang baik-baik dong. Aku nervous banget loh kak, ya rabb semoga berjalan dengan lancar." Adiba begitu gugup sampai berkeringat dingin.
Walaupun mempunyai wajah yang begitu cantik dan tubuh yang seperti seorang model, namun itu semua tidak membuat seorang adiba menjadi congkak. Dia sama sekali tidak merasa jika dirinya cantik dan anggun, yang dia rasakan jika dirinya begitu rendah.
"Aduh cantik banget sih sahabat aku, good luck ya harus percaya diri. Kamu mau kan kalau karya kamu di kenal banyak orang." Adiba mengangguk.
"Makanya harus percaya diri dong. Ayok semangat sebentar lagi acaranya di mulai kamu siap siap ya." Rina tidak berhenti memberikan semangat untuk adiba.
"Makasih ya rin." Rina mengangguk dan memeluk adiba sekilas.
"Mbak udah selesai, semua peserta di suruh masuk ruang utama karena acara mau di mulai." Sekali lagi adiba melihat ke arah rina dan mengenggam tangannya.
"Semangat kamu bisa, ayok aku anterin."
Adiba dan rina memasuki ruang utama yang dimana semua peserta berada di sana, semua peserta menatap takjub ke arah adiba. Adiba sangat mempesona dengan gaun muslimnya, apalagi wajah blasterannya yang semakin mendominasi.
"Eh itu model dari agensi mana, perasaan tadi ga ada ya."
"Aku juga gak tau, udah pasti menang sih."
"Iya cantik banget lagi kayak orang turki gak sih."
Mereka semua tampak membicarakan adiba yang baru masuk, ruangan yang tadinya senyap kini berganti dengan suara bisik bisik yang lagi membicarakan adiba.
"Rin mereka semua kenapa pada liatin aku begitu sih."
__ADS_1
"Kamu cantik tau."
Setelah mengantarkan adiba, rina kembali menenui abi yang masih menunggunya di luar.
Semua peserta merasakan perasaan yang sama, kecuali adiba dia begitu deg degan dan merasa kurang percaya diri. Namun mengingat janjinya pada leo, diri kembali mempunyai semangat baru. Dia akan berusaha semaksimal mungkin agar dirinya mampu memberikan yang terbaik.
Tidak ada pencapaian yang instan tanpa sebuah upaya dan kerja keras. Adiba menyemangati dirinya sendiri, dia juga sedikit paham bagaimana caranya berjalan diatas catwalk.
"Bismillah semoga ini awal yang baik untuk karirku ke depannya.
Setelah beberapa menit menunggu kini semua peserta tengah bersiap, mereka telah mengambil posisi masing-masing. Begitu layar terbuka mereka semua mulai berjalan dengan style mereka masing-masing, mulai dari fashion muslim hingga busana terbuka.
Adiba berjalan dengan sangat anggun dan terlihat sangat mempesona, fashion muslimnya begitu memukau dan terlihat indah. Banyak pasang mata yang menatap takjub ke arahnya, bukan hanya di nobatkan sebagai seorang model. Yang membuat penonton kagum adiba juga tampil sebagai desainer muda di antara para desainer yang lainnya.
Dia juga membawakan hasil karyanya sendiri dan dengan bangganya dia berjalan di atas sana sambil mennebarkan senyuman kepada semua orang.
Senyumnya begitu manis sehingga banyak para pebisnis muda yang sangat penasaran dengan model baru ini.
Dan dengan lihainya dia berjalan di belakang rekannya tersebut, dengan hati hati dia mengambil ujung gaunnya dan membantu si model tersebut untuk berjalan kembali.
Rina dan keluarganya sampai terkagum-kagum melihat aksi yang di berikan oleh adiba. Riuh tepuk tangan para penonton mulai terdengar ikut memeriahkan acara tersebut.
Sesi penutupan adiba di minta kembali untuk menampilkan gaunnya, ini merupakan permintaan dari salah satu pengusaha yang menjalankan usaha di bidang fashion dan entertainment.
Adiba kembali berjalan di atas catwalk dan menampilkan penampilan terbaiknya, dia begitu senang menjalankan ini semua. Ternyata menjalani profesi sebagai model juga tidak buruk, ini merupakan sebuah kesenangan baginya.
"Siapa nama perempuan berhijab itu." Tanya salah seorang pengusaha muda yang turut hadir si sana.
"Namanya adiba, masih pelajar tapi bakatnya luar biasa." Jelas sahabatnya.
"Oh." Ungkapnya singkat.
Suara tepuk tangan dan bisik bisik para tamu undangan mulai terdengar. Adiba kembali bergabung dengan model yang lainnya, perform telah selesai dan mereka tinggal menunggu hasilnya.
__ADS_1
"Hai kenalin aku misha."
"Adiba." Balasnya ramah.
"Kamu model dari agensi mana."
"Em aku bukan model sih." Jawab adiba kikuk mendengar pertanyaan misha.
"Terus." Tanya misha penasaran dengan alis mengkerut.
"Emm aku yang ngedesain gaunnya, bisa di bilang aku yang punya karya."
"Hebat dong, aku yakin sih kamu bakalan menang."
Adiba hanya menanggapi dengan senyuman, seorang model muslim yang lain tampak menghampiri mereka.
"Hai aku boleh gabung." Mereka tersenyum ramah menyambut model tersebut.
"Boleh kok gabung aja."
"Emm aku mau ngucapin makasi sama kamu, thanks ya udah mau nolongin aku. Kalau gak ada kamu mungkin aku udah jatuh tadi, makasi ya."
"Iya sama-sama."
Mereka asik tertawa bersama dan banyak bercerita berbagai macam hal. Adiba merasa lega karena dia mempunyai teman dan pengalaman baru di sini.
Walaupun terlihat senang dan bahagia namun hatinya tetap tidak bisa sinkron dengan keadaan. Pikirannya masih tertuju kepada leo kekasihnya, bahkan ustad ali juga tidak mendapatkan kabar tentang leo.
Orang tua leo benar-benar membatasi pergaulan anaknya. Adiba merasa sedih dan kecewa, kadang dia sampai merasa putus asa.
Namun mengingat perjanjiannya bersama leo, sedikit membuka pikirannya untuk tetap bisa bertahan.
#Bersambung
__ADS_1