Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Pertemuan tak sengaja.


__ADS_3

Kini setiap waktu kosong Angga selalu menyempatkan diri untuk mampir ke butiknya Adiba, dia selalu mengunjungi tunangannya itu meskipun Adiba selalu memberikan penolakan secara halus. Angga tidak perduli dengan penolakan Adiba dia sangat mengerti jika Adiba menolaknya, namun rasa ingin memiliki bagitu kuat darinya.


Angga juga sangat penasaran seperti apa laki laki yang selalu Adiba sebut namanya, apa sebegitu hebatnya laki-laki tersebut sehingga rasa cinta yang dia miliki tidak ada apa-apa nya.


Angga tidak habis pikir dengan jalan pikiran Adiba, di saat banyaknya wanita yang ingin menjadi kekasih dari Angga. Namun Adiba malah menghindar dan masih menunggu kekasihnya untuk kembali. Dia merasa tidak hargai oleh Adiba, namun dirinya juga tidak marah ataupun kesal. Rasa yang dia miliki begitu besar untuk gadis tersebut sehingga bagaimana pun perlakuan yang dia dapatkan dari Adiba dia tidak masalah.


Apalagi status mereka saat ini telah bertunangan, jadi Angga merasa sudah setitik berada di atas.Jika kekasih Adiba akan kembali menemuinya maka Angga juga lebih bisa bersuara dan membuatnya untuk menjauh.


"Aku kan sudah pernah bilang, aku sibuk jadi tidak bisa ikut makan siang denganmu." Lagi lagi selalu itu alasan yang Adiba berikan.


"Oke aku terima alasan ini lagi. Tapi kita makan di sini di butik kamu gimana." Adiba menghentikan pekerjaannya.


Dia sangat jengah dengan tingkah Angga yang selalu memaksa dan tidak ada lelahnya untuk datang kemari.


"Baiklah untuk kali ini saja." Mau dia menolak pasti Angga tidak akan pulang.


Akhirnya Angga berhasil dan mereka menikmati makan siang di butiknya Adiba, Angga sangat senang namun tidak dengan Adiba. Dia sangat risih karena sedari tadi Angga selalu mencuri pandang ke arahnya, dia jadi teringat saat kebersamaannya dengan Leo.


Di saat sedang menikmati makan siangnya tiba-tiba salah satu karyawan Adiba datang dan memanggilnya.


"Assalamualaikum maaf buk, di luar ada seorang ibuk dan anaknya yang ingin bertemu langsung dengan ibuk." Jelasnya sedikit kaku.


"Em apa mereka sudah buat janji." Adiba menghentikan makannya dan mencuci tangannya.


"Katanya belum buk. Soalnya mereka orang asing dan baru saja ke kota ini, apa ibuk mau menemani mereka." Adiba mengeryit heran.


"Lalu kenapa mereka tidak ingin kalian saja yang melayani."


"Saya kurang tau buk, mungkin ada hal yang ingin mereka tanyakan."


"Baiklah sebentar lagi saya keluar." Karyawan tersebut pun meninggalkan ruangan Adiba.


"Apa kamu akan menemui mereka." Tanya Angga.

__ADS_1


"Kenapa tidak." Jawab Adiba singkat.


Adiba mulai merapikan penampilannya dan akan menemui orang tersebut. Angga tidak tinggal diam dia juga ikut bersama Adiba untuk menemui orang tersebut.


Tap tap tap. . .


Adiba menuruni tangga dengan elegan Angga juga masih setia menemani di samping.


"Apa pemilik butik ini seorang perempuan." Tanya ibu tersebut.


"Iya buk. Malah masih muda banget orangnya juga cantik dan baik." Jelas seorang karyawan.


"Udah menikah."


"Beluk buk masih tunangan."


Sedangkan anaknya hanya menyimak sambil memeriksa beberapa email penting di ponselnya. Namun jantungnya tidak berhenti untuk terus berdegup, hatinya juga gelisah tak menentu.


"Assalamualaikum." Sapa Adiba yang semakin membuat pria tersebut gagal fokus.


Deg. . .


"Kak le_loe." Tenggorakannya seakan tercekat.


"Sa_ mm Adiba." Leo hampir memanggilnya dengan sebutan sayang.


Mereka sama sama terdiam dengan pemikiran masing-masing, Angga merasa seperti ada sesuatu di antara mereka berdua. Adiba tidak bisa berkata-kata hatinya sedih sekaligus senang, sangat lama dia menantikan leo untuk kembali namun tanpa di duga hari ini dia benar-benar hadir.


Leonya telah kembali doanya juga telah di ijabah oleh Allah SWT. Namun Adiba bingung melihat reaksi yang di berikan Leo, dia seperti tidak senang dan terlihat biasa saja.


"Apa butik ini milikmu." Adiba mengangguk.


"Apa pemilik butik yang telah bertunangan itu adalah kamu." Adiba kaget mendengar pertanyaan Leo, jadi ini alasannya dia diam.

__ADS_1


Adiba ingin menggeleng namun kenyataannya memang seperti ini, seluruh karyawan juga bingung melihat ekspresi kedua orang di hadapan mereka. Mereka semua pun bubar karena Angga telah memberikan isyarat untuk mereka.


Mata Leo terasa memanas, perlahan buliran hangat mulai membasahi wajah tampannya hatinya sakit mendengar kenyataan ini. Adiba bisa melihat kerapuhan di mata kekasihnya, dia sangat mengerti seperti apa hancurnya Leo saat ini.


"Ma sebaiknya kita pergi." Leo langsung membalikkan wajahnya agar Adiba tidak melihat kesedihannya.


"Tapi nak. Kita belum membeli pakaiannya, bukankah kamu akan lamaran lusa."


Deg. . .


Hati Adiba rasanya sangat nyeri mendengarnya, apakah Leo akan melamar seorang gadis.


"Tidak jadi buk. Gadis itu telah menemukan pengganti ku." Leo segera keluar dari sana, Adiba tidak tinggal diam.


Dia sudah tidak tahan dan langsung mengejar kekasihnya, mereka sama-sama menangis dan merasakan sakit yang sama.


"Kak tunggu." Leo berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Selamat Diba kamu telah bertunangan sekarang, semoga kebahagiaan menyertai mu." Ucap Leo dengan air mata berurai.


"Hik hiks tidak kak. Jangan bicara seperti itu hiks, ini semua tidak yang seperti kakak pikirkan." Jelasnya sesegukan.


"Lalu siapa dia, aku kembali untukmu. Apa harus dengan cara seperti ini kamu membalasku Diba." Tanya Leo dengan frustasi bahkan dia sampai menjambak rambutnya sendiri.


"Kak aku mohon hiks hiks dengarkan aku dulu. Aku juga sama selalu menanti kakak untuk kembali aku sayang sama kakak."


"Sudahlah Diba. Mungkin takdir kita hanya sampai di sini, jangan menangis hatiku akan semakin sakit melihatmu menangis. Berbahagialah dengan dia jangan hancurkan kebahagiaan keluargamu." Leo pergi dan meninggalkan Adiba yang masih sesegukan.


Sampai di dalam mobil ternyata Leo menangis sejadi jadinya dia sampai memukuli setir mobilnya. Hatinya sangat sakit melihat laki laki tadi yang berdiri di samping kekasihnya. Mama Leo bingung melihat anaknya menangis setelah bertemu dengan pemilik butik tadi.


Namun dia tidak bertanya dulu, dengan sabar dia mencoba untuk memberikan kekuatan dan ketenangan untuk putranya.


"Dia adalah perempuan yang aku ceritakan ma hiks hiks kenapa takdir begitu kejam." Mama Leo syok dan terkejut.

__ADS_1


"Sabar nak kamu harus kuat."


"Sebaiknya kita pulang dulu, kita akan membicarakan ini di rumah." Leo mengangguk dan kembali menjalankan mobilnya meninggalkan butik Adiba.


__ADS_2