
Pagi ini adiba terbangun dengan pikiran dan hati yang hampa. Dia masih memikirkan leo yang baru saja muallaf kemarin siang, apakah dia benar-benar telah berpindah agama atau ini hanya triknya saja. Adiba jadi ragu apakah leo sebejad itu sehingga tega mempermainkan dua keyakinan sekaligus.
Dia tidak bisa berpikir secara logis sekarang, karena hati dan pikirannya tidak sejalan. Walaupun sedang dalam keadaan kacau dan galau dia tetap mengikuti kelasnya hari ini. Namun dia tidak membawa mobil sendiri adiba meminta abi untuk mengantarkannya ke kampus.
"Kak habis ini anter aku ngampus ya." Dengan lesu dia meminum susunya.
"Makin gaul aja cara bicara kamu haha, itu muka kenapa sih dek kacau amat." Ledek abi yang tidak biasanya melihat adiba yang sekacau ini.
"Enggak apa apa kak. Yaudah yuk ah aku udah siap ini." Adiba mengambil tasnya dan langsung keluar."
Sudah sejam lebih rina menunggu kedatangan adiba yang menjemputnya tapi tak kunjung tiba. Dia pun panik melihat lihat jam di pergelangan tangannya, karena ponselnya adiba juga tidak bisa di hubungi. Baru ingin memesan taksi online ternyata pucuk di cinta mulan pun tiba.
Rina segera membuka pintu depan dan duduk sambil terus mengomel tanpa melihat siapa yang berada di sampingnya. Abi segera menekan tombol lock agar rina tidak keluar bila menyadari bahwa abi yang kini menyetir.
"Ekhem udah siap ngomel-ngomelnya hm." Rina melotot tak percaya ternyata dia telah salah naik mobil. Karena bingung dia segera melihat ke jok belakang dan dia mengelus dadanya ternyata dia masih aman. Adiba melambai ke arahnya sambil tersenyum namun rina memasang wajah cemberut nya.
"Diba tukeran yuk aku males duduk sama om om." Rengek rina yang menbuat abi Mencibir.
"Eh ember bekas bisa di filter gak omongannya hm. Mau saya lem itu mulut kamu hah." Abi memplototin rina dengan kesal.
__ADS_1
"Enggak emang kenapa hah. Emang iya kan kamu itu dasarnya om om dasar udah tua tapi gak nyadar." Rina malah semakin gencar membuat abi kesal.
"Untung kamu temen adik saya kalau enggak. . ."
"Kalau enggak apa hah. Udah diem aja deh ganggu aja." Abi semakin heran melihat tingkah rina yang semakin membuatnya bingung.
"Udah udah jangan pada ribut sih pagi pagi. Kak nyetirnya liat jalan jangan asik liatin rina mulu." Tegur adiba yang membuat abi tersadar dan segera mengalihkan perhatiannya.
Mereka pun telah sampai di parkiran kampus adiba menyalim abi kemudian baru keluar dari mobilnya. Sedangkan rina menatap malas ke arah abi, karena menurutnya abi sangat menjengkelkan pagi ini. Abi yang mengerti kekesalan rina semakin menggodanya. Dia menyodorkan tangannya ke arah rina sambil menaik turukan alisnya.
"Apa sih om." Tepis rina kesal.
"Bukain enggak aku teriak sekarang." Ancam rina yang membuat abi menoleh ke arahnya sambil tersenyum menantang.
"Coba aja kalau berani." Rina baru ingin membuka mulutnya namun dia baru tersadar kalau abi merupakan dosennya di kampus.
"Kenapa gak jadi hm. Makanya tinggal salim aja apa susahnya sih." Cibir abi.
"Tangannya aku yang enggak rela."
__ADS_1
Adiba menggedor gedor kaca mobil menyuruh rina untuk segera keluar. Sekali lagi dia melihat ke arah abi, tanpa pilihan lain dia pun terpaksa menyalim abi dan segera menyuruhnya untuk membukakan pintu mobil.
"Pinternya gitu dong harus patut sama calon suami." Rina serasa ingin muntah di hadapan abi.
"Najis gue ama elu. Bukain cepat aku jadi telat sekarang kan dasar om om emang ngabisin waktu aja." Ketus rina kesal yang membuat abi cekikan sendiri.
"Lama banget sih ngapain aja di dalam." Tanya adiba menggoda.
"Apaan sih kakak kamu tuh jail banget." Adiba merangkul rina dan mengajaknya untuk segera pergi.
Saat di perjalanan ke kelas mereka tak sengaja melihat leo yang juga sedang melihat ke arah mereka. Adiba merasa tidak nyaman dan memilih untuk segera menghindar, karena hatinya masih tidak siap untuk berbicara sekarang.
"Sayang tunggu. Kamu kenapa hm ayolah jangan ngambekan begini aku gak tenang jadinya." Leo mencekal lengan adiba sehingga dia tidak bisa menghindar sekarang.
"Kamu baca pesan aku yang semalam kan. Tunggu sampai nanti sore baru kamu tau semuanya." Tegas adiba yang semakin membuat leo bingung.
"Yaudah kamu belajar yang rajin aku permisi dulu bye sayang." Adiba menunduk tak ingin melihat ke arah leo.
Rina juga ikutan bingung melihat adiba yang tidak biasanya bersikap ketus seperti ini terhadap leo. Namun melihat raut wajahnya yang sedikit berbeda dia jadi enggan untuk bertanya.
__ADS_1
#Bersambung