Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Butik


__ADS_3

Kini perjalanan hidup adiba sudah berjalan baik tidak seperti dulu lagi, kegiatannya di kampus juga sudah berkurang karena dia telah menduduki posisi akhir. Wisuda juga tidak akan lama lagi, keluarganya yang berada di Turki juga akan segera pulang ke Indonesia.


Hubungannya dan leo juga masih sama, leo hanya akan memberinya kabar sebulan sekali, adiba juga memaklumi semua itu. Kegiatan hariannya selalu di padati dengan mengisi kesibukan di butik, adiba selalu merancang sesuatu yang baru disana.


Dari penghasilan dari butik tantenya, adiba juga mulai membangun butik nya sendiri. Dia sengaja menyibukkan dirinya agar pikirannya tidak selalu menuju kepada leo, walaupun mereka telah sama-sama berjanji untuk tetap saling mencintai.


Namun yang namanya hati dan jodoh hanya milik allah. Setiap usaha pasti akan ada timbal baliknya mereka hanya bisa saling berdoa dan mendoakan.


Mereka juga ingin sama sama sukses dalam mengejar karir. Adiba juga sudah banyak di kenali oleh orang-orang di luaran sana, bukan hanya cantik dia juga handal dalam bidang apapun.


Apalagi desain yang di keluarkan nya selalu menjadi top nomor 1 di kalangan atas ataupun menengah. Banyak desainer terkenal yang ingin membeli hasil rancangannya, namun selalu di tolak olehnya dengan alasan tertentu.


Adiba ingin bangkit dan berdiri atas kakinya sendiri, dia tidak ingin maju dengan bantuan mereka. Apalah arti sebuah ketenaran dia hanya ingin mengembangkan bakatnya, bukan untuk sekedar kepopuleran.


Jika suatu saat bakatnya akan di cintai banyak masyarakat, itu adalah sebuah bonus untuknya. Dia juga ingin membanggakan orang tuanya dan keluarga, termasuk leo juga dia ingin membuktikan pada kekasihnya tersebut jika dia juga akan sukses.


Siang ini adiba sedang fokus dengan desain barunya, dia sedang meng desain gaun yang indah untuk di apresiasikan di sebuah acara. Kali ini dia akan tampil dengan menggunakan gaun tersebut, adiba memilih dirinya sendiri untuk tampil.


Selain ingin membanggakan karyanya dia juga ikut tampil untuk menghilangkan kejenuhan yang ada pada dirinya. Adiba baru kali ini ikut tampil di acara fashion show yang di gelar besar-besaran di sebuah hotel megah yang ada di ibu kota.


Dia juga begitu excited mengikuti acara tersebut.


"Semoga cepat selesai dan aku akan menggunakannya." Adiba tersenyum senang melihat hasil karyanya.


Tok tok tok. . .


"Masuk."


"Sibuk gak buk." Adiba menyambut hangat kedatangan sahabatnya.

__ADS_1


"Hehe gak lah, ayo masuk." Rina mengikuti adiba dan memilih duduk di sofa.


"Mau minum apa kak ipar." Sontak membuat rina melemparkan bantal ke arah adiba.


"Hahahahaha."


Usaha abi untuk mendapatkan rina ternyata membuahkan hasil, walaupun sulit namun mereka berhasil bersatu. Dan adiba juga sering menggoda rina dengan sebutan kakak iparnya.


Siang ini rina sengaja mengunjungi adiba karena dia juga di minta oleh abi untuk ke butik mamanya.


"Kak abi mana."


"Di kantor, bentar lagi nyusul katanya."


"Oh, rin sekalian yuk ikutan."


"Enggak papa rin, kamu cantik sumpah. Ikutan ya pleaseee." Rina memutar bola matanya jengah.


"Enggak boleh." Bukan rina yang menjawab melainkan abi yang datang secara tiba-tiba.


"Ih dasar kang bucin." Abi langsung nemplok dan duduk di samping rina.


"Biarin." Jawab abi cuek dan menyandarkan wajahnya di bahu rina.


Abi merasa beruntung memiliki rina, karena selain baik rina juga tidak pernah memiliki mantan. Walaupun terkesan galak tapi dia merasa nyaman saat berdekatan dengan rina, abi juga sudah mengenalkan rina pada kedua orang tuanya.


"Kak abi dosa tau." Abi bangun dan menjauh sedikit dari rina sambil cengengesan.


"Kamu dek kayak gak pernah aja, maaf deh." Abi mengatupkan kedua tangannya karena melihat adiba yang ingin melemparnya dengan pulpen.

__ADS_1


"Emang gak pernah hiks sedih tau kak, leo udah lama gak kasih kabar."


"Masih kecil makanya jangan pacaran dulu."


"Rina juga sama kayak aku."


"Rina beda lah dek, sebentar lagi kan mau tunangan." Abi dah rina mengangkat tangan mereka dan memperlihatkan cincin sehingga membuat adiba melotot tak percaya.


"Ih udah ada cincin aja, kapan nih rin." Rina hanya bisa tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehehe do'ain aja biar kita bisa segera iparan."


"Amin." Adiba sangat senang dah segera memeluk rina.


"Aku lanjut dulu ya takutnya keburu, soalnya ini agak sedikit susah untuk di kerjakan."


"Yaudah kamu lanjut aja, kita mau nemuin tante dulu yok kak." Abi menerima uluran tangan rina dan mereka pergi meninggalkan adiba.


Adiba juga butuh waktu untuk lebih berkonsentrasi dalam mengerjakan tugasnya, apalagi acara yang akan dia ikuti merupakan kelas atas semua yang hadir.


Dia berharap semoga desainnya di sukai banyak orang dan karirnya semakin bagus, dia juga akan mengambil gelar sarjana di Universitas nya.


Hatinya sedikit ngilu membayangkan umurnya yang semakin hari malah semakin bertambah. Dan hingga saat ini hubungan percintaannya dengan leo masih memburuk karena kekangan dari papanya leo.


"Ya allah kenapa aku jadi kepikiran gini, huff ya allah semoga engkau telah mempersiapkan jodoh yang baik untukku amin." Karena sudah tidak konsen adiba memilih untuk berhenti dari pada melanjutkannya, dia takut bila akan merusak gaunnya.


Dilihatnya jam juga sudah sore, adiba mematikan mesin jahitan nya, dan kemudian mengambil tasnya.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2