
Rasa syukur tidak henti hentinya mereka rasakan akhirnya Angga memilih untuk mengalah, Leo sangat berterima kasih pada Angga karena telah berbesar hati padanya untuk merelakan Adiba kembali bersamanya.
Angga tidak ingin mempertahankan Adiba lagi, karena sedari awal mereka kenal Adiba sama sekali tidak menyukai kehadirannya. Dia juga salut kepada mereka, cinta mereka begitu kuat.
"Aku sangat berterima kasih Angga, semoga kamu juga akan segera di pertemukan dengan wanita yang lebih baik lagi." Angga hanya tersenyum kecut.
"Amin Leo." Ucapnya pelan.
"Sekali lagi terima kasih Angga, kami permisi dulu."
"Ya sama sama, semoga kalian bahagia dan tidak ada lagi yang bisa memisahkan kalian."
"Amin." Jawab Adiba dan Leo serentak.
Leo tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua ini, setelah mengantarkan Abi dan Adiba untuk pulang. Dia segera menemui ibunya dan membicarakan soal pernikahannya dengan Adiba.
Dia tidak ingin bertunangan terlebih dulu karena pernikahan lebih meyakinkan dari apapun. Bu Aisyah juga setuju dengan niat baik putranya, Leo juga telah mempersiapkan semuanya.
Rencana esok malam dia akan melamar Adiba secara resmi di hadapan seluruh keluarganya.
"Mama senang melihatmu yang sekarang nak, terus lah tersenyum seperti ini." Ucap Bu Aisyah.
"İya ma, doakan yang terbaik untukku. Semuanya telah Allah rancang kita tinggal menjalankan saja apa yang sudah Allah tetapkan."
"Sebentar lagi azan magrib mama mau kita shalat berjamaah." Leo mengangguk dan segera mengambil air wudhu.
kediaman keluarga kakek Abram tampak lebih baik dari biasanya, suasana tampak begitu meriah. Mereka sedang menyiapkan beberapa menu makanan untuk menyambut keluarga Leo, malam ini adalah malam yang Adiba tunggu tunggu.
Semuanya sibuk menyiapkan segala keperluan, Adiba juga sedang di rias di dalam kamarnya.
"Selamat sayang mama bahagia melihatmu seperti sekarang ini."
"Makasih ma, aku juga sangat bahagia. Allah telah mengabulkan semua doaku, Leo adalah laki laki baik yang selalu bisa menjagaku."
__ADS_1
"Amin, semoga dia tetap akan seperti itu." Adiba memeluk mamanya.
"Assalamualaikum." Kakek Abram menemui keluarga Leo yang Baru saja tiba.
Leo hanya mengajak keluarga dari pihak ibunya, karena hanya mereka yang mau hadir di acara lamarannya. Sedangkan keluarga papanya tidak mau memperdulikan Leo dan ibunya lagi.
Leo dan keluarganya sedang berbicara dengan kakek Abram dan papanya Adiba. Mereka juga telah mengutarakan niat baik mereka, setelah kakek Abram menerima niat baik mereka. Adiba pun di suruh untuk turun dan menyambut keluarga Leo, Adiba terlihat sangat cantik dengan pakaian yang dia kenakan.
Leo terkesima melihat calon istrinya yang begitu anggun di malam ini, Bu Aisyah juga merasa takjub melihat calon menantunya.
"Untuk pernikahan sebaiknya kalian bicarakan lagi, kalian harus sama sama siap." Usul Abi.
"Baik kak." Jawab Leo.
"Apa tidak sebaiknya di percepat saja, Minggu depan bagaimana." Papa Adiba memberikan usul.
Leo langsung mengiyakan usulan calon papa mertuanya. Ada baiknya di percepat dia takut jika sampai papanya tau dan akan mengacaukan semula.
"Saya setuju lebih baik acaranya di langsung kan Minggu depan, untuk resepsi kita bisa menundanya sampai bulan depan." Ujar omnya Leo.
Hanya Leo dan Adiba yang tidak ikut makan, mereka asik mengobrol di ruang tamu. Semua keluarga tampak heran melihat Adiba dan Leo yang duduk secara berjauhan tapi mereka terlihat menikmati pembicaraan mereka.
"Alhamdulillah akhirnya Allah memberikan kesempatan untuk kita." Ujar Leo.
"Iya aku sangat bersyukur, semoga kita bisa menjaga amanah ini dengan baik."
"Amin. Sebelum pernikahan aku akan meminta izin pada ustad Ali, dan mengajaknya untuk menyaksikan ijab kabul kita."
"Iya sebaiknya beliau hadir."
"Diba, sudah lama aku tidak memanggilmu dengan sebutan sayang. Apa kamu merindukan panggilan itu." Adiba tersipu mendengar pertanyaan konyol Leo.
"Apa kamu tidak mempunyai topik pembicaraan lain, sebentar lagi kita akan menikah. Kamu bahkan bisa memanggilku dengan sebutan yang lebih baik lagi nanti."
__ADS_1
"Hehe. Iya sih semoga kita selalu bersama atas izin Allah, aku sangat bahagia sayang." Adiba terenyuh melihat Leo yang begitu terlihat bahagia.
Dari sudut pandangnya Adiba bisa melihat jika Leo benar-benar mencintainya. Adiba merasa sangat beruntung karena bisa di cintai oleh laki-laki seperti Leo.
"Jangan pernah berubah untuk tetap terus mencintai ku."
"Selagi kita yakin jika rasa cinta ini adalah pemberian dari Allah, maka jangan pernah ragu untuk membalas rasa cintaku."
Adiba meneteskan air matanya, setiap kata yang keluar dari mulut Leo berhasil membuatnya damai dan luluh. Leo sangat menjaga setiap ucapannya dari dulu sampai sekarang. Abi yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka, jadi merasa canggung sendiri.
"Perasaan jaman udah modern, kok bisa ya ada sepasang kekasih yang masih labil begini." Ucapnya sendiri.
Puk. . .
"AW sakit brother."
"Mereka bukan kamu, itu namanya mencintai karena Allah bukan karena nafsu." Ujar Abang Adiba yang tiba-tiba hadir dan menepuk pundak nya Abi.
"Iya iya aku ngerti dan paham pak ustad."
Leo dan keluarganya pamit untuk pulang, semuanya fokus melihat bagaimana cara Leo dan Adiba berpamitan. Mereka semua sangat kagum melihat remaja yang sedang kasmaran ini, keduanya saling menjaga diri.
"Assalamualaikum aku pamit pulang, tidurlah dengan nyaman jangan lupakan shalatmu."
"Waalaikumsalam kamu juga."
Kakek Abram tersenyum senang begitupun dengan papanya Adiba, ternyata Adiba sama Sekali tidak membantah ucapannya.
Tiba di rumahnya Leo segera mengambil wudhu dan melaksanakan empat raka'at nya. Hatinya sangat senang akhirnya Adiba kembali menjadi miliknya, Leo kembali mengingat bagaimana dulu cara pertemuan nya dengan Adiba.
Dirinya yang dulu begitu nakal, tapi bisa terkontrol saat berhadapan dengan Adiba. Dia semakin yakin jika Adiba adalah jodoh yang telah Allah kirimkan untuknya.
Leo memutuskan untuk segera tidur, karena besok dia akan menemui Adiba di butiknya. Untuk gaun pernikahan dan tuxedo Mereka akan memakai jasa butiknya Adiba. Jauh jauh hari Adiba juga telah menyelesaikan gaunnya sendiri, gaun yang telah lama dia impikan.
__ADS_1
Tidak akan ada usaha yang berakhir sia sia, jika kita tetap yakin dan berpegang teguh pada Allah SWT insyaallah semuanya akan terselesaikan dengan baik.
Ingat! usaha tidak akan mengkhianati hasil.