Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Elsa malu


__ADS_3

Adiba mulai mengikuti beberapa kegiatan di kampus dan di bimbing oleh Leo selaku ketua BEM secara langsung. Banyak yang Adiba bisa kuasai dan Leo benar benar kagum akan bakat yang di miliki oleh Adiba, apalagi Adiba yang dia pikir tidak banyak bicara. Ternyata sebenarnya dia anak yang supel dan terkesan sedikit humoris.


"Oiya Minggu depan ada kontes biola, kamu bisa main biola." Tanya Leo.


"Main sih enggak kak, cuma kalau ngegesek sih kayaknya oke." Jawab Adiba dengan santai namun berhasil membuat Leo tertawa ringan.


"Haha bisa aja kamu, ya itu maksudnya Diba." Leo geleng geleng kepala.


"Kapan latihannya kak." Tanya Adiba serius.


"Emm besok kayaknya mulai kelas pertama, kamu sempat enggak." Tanya Leo


"Insyaallah kayaknya bisa kak, aku usahakan." Jawab Adiba mantap.


"Oke, besok kita ketemu di sini aja ya." Ujar Leo.


"Insyaallah Kaka, yaudah kalau enggak ada lagi pembahasan aku pamit ya kak." Ucap Adiba.


"Mau kemana." Tanya Leo.


"Mau shalat kak, mau ikut." Tanya Diba tanpa rasa bersalah. Adiba belum mengetahui jika Leo berbeda agama dengannya.


"Emm kamu duluan aja." Jawab Leo tersenyum canggung.


Adiba pun langsung menuju ke musholla kampus untuk menunaikan empat rakaat nya.


Rina juga menyusul dari belakang, karena dia baru habis dari kantin.


Leo merasa tersentil dengan ajakan Adiba barusan, tapi dia juga memakluminya karena Adiba baru mengenalnya. Bisa saja Adiba berpikir jika mereka seiman dan seagama.


"Aku harus ngapain ya, haduh pusing juga gimana ya kalau dia tau aku enggak seiman dengan dia." Leo jadi kepikiran.


"Woyy mikir apaan." Tanya Reno mengagetkan Leo.


"Bisa gak sih Dateng jangan teriak begitu." Ujar Leo kesal.


"Udah biasa bro, ngapain sih di sini." Tanya Reno.


"Lagi masak gue." Jawab Leo asal.


"Serius singa." Ketus Reno.


"Ngumpulin maha siswi buat ikutan lomba Minggu depan." Jawab Leo.


"Oh, ngantin yuk laper gue." Ujar Reno dan mengajak Leo untuk ke kantin.


"Kuy lah kebetulan gue juga laper."


Reno dan Leo memilih ke kantin dan memesan makanan untuk mereka. Elsa dan temannya kebetulan lewat dan langsung duduk di tempatnya Leo dan Reno.


"Hai Leo apa kabar." Tanya Elsa.


"Hemm." Jawab Leo cuek, dia asik memainkan game yang ada di ponselnya.


"Jawabannya kok hemm sih." Elsa masih mengajak Leo untuk bicara.


"Woy queennya biang gosip, mendingan Lo pergi deh. Heran gue kenapa sih Lo yang di nobatin jadi queen kampus." Ejek Reno.


Elsa merasa geram dengan Reno, tapi dia tidak ingin marah di depan Leo.


"Hei tukang rusuh, bukang urusan Lo kali." Ketus Elsa.


"Hei nek lampir, Lo pikir Lo oke apa. Udah tau Leo enggak ngeh sama Lo masih aja Lo Pepet CK." Ejek Reno.


"Kata Lo gitu, Leo kan enggak iya kan Yo." Tanya Elsa.

__ADS_1


Leo hanya melirik sekilas lalu menaikkan bahunya dan menggelengkan kepalanya, sontak membuat reno terbahak-bahak dan berhasil membuat Elsa malu dan pergi dari sana.


"Ih gue kesel, apa sih yang kurang dari gue." Elsa mendumel sendiri, teman temannya hanya bisa mendengarkan setiap keluhan dari Elsa.


"Udah sih sa, mundur aja dari pada nyesek terus." Ujar Bella.


"Apa Lo bilang, mundur. Enggak akan pernah sebelum gue berhasil dapetin Leo." Tegas Elsa.


"Serah Lo deh, pesan makan yuk udah laper." Andin memilih untuk memesan makanan.


*


*


*


Adiba selesai menunaikan empat rakaat nya. Dan sekarang dia mengajak Rina ke kantin untuk menuntaskan urusan para cacing dulu.


"Rin kayaknya seblak atau bakso enak kali di jam segini." Tabya Adiba yang masih melipat mukenanya.


"Emm iya sih Diba enak kayaknya, jatuh cintrong kan kamu sama makanan Indonesia." Goda Rina.


"Hehehe aku kan blasteran Indon kali Rin." Jawab Adiba.


"Iya deh iya."


Dan mereka menuju kantin kampus untuk memesan makanan yang sudah ada di pikiran mereka sejak tadi. Hampir ileran membayangkan betapa pedas dan gurihnya seblak buatan buk kantin.


Adiba dan Rina duduk berdekatan dengan geng Elsa dan juga Leo. Rina hanya menghela nafas karena tidak ada pilihan lain, semua tempat duduk sudah ada penghuninya Masing-masing.


"Yah terpaksa deh duduk disini, males banget." Keluh Rina.


"Udah duduk aja, kita kesini mau makan bukan carik lawan." Ujar Adiba.


Elsa melirik dengan sinis ke arah mereka, namun Adiba tidak memperdulikannya. Rina yang paham akan situasi lebih memilih untuk segera menghabiskan makanannya sebelum bendera perang di kibarkan.


"Gak baik makan terburu-buru Rin." Jawab Diba masih santai.


"Tuh Elsa dari tadi liatin kamu." Tunjuk Tina ke meja sebelah.


Adiba melihat sekilas lalu kembali memakan makanannya.


"Aku laper Rin, biarin aja mereka liatin kita. Orang mereka juga punya nikmat mata untuk melihat kan." Jawab Adiba santai.


"Terserah kamu deh." Mereka kembali lanjut makan.


Namun Leo yang sudah tidak tahan untuk mengobrol dengan Adiba, segeralah menghampirinya.


"Ekhem boleh gabung." Tanya Leo dengan tersenyum manis.


Adiba mengangguk dan Leo duduk di sampingnya. Elsa melotot melihat pemandangan di sampingnya, kenapa Leo bisa seakrab itu sama maha siswi baru itu. Dia jadi panas dingin sendiri, giliran dia mengakak Leo untuk ngobrol tapi malah di abaikan.


"Itu Leo kenapa duduk di samping dia cobak." Tanya Elsa geram, pandangannya tak lepas dari Adiba dan Leo.


"Mana gue tau sa, tanyakan langsung noh ke orangnya." Ujar Elen.


"Gue bilang mundur Lo sih gak dengar, udah berapa tahun Lo kejar si Leo." Bella menyahut.


"Diam deh kalian, makin stres gue jadinya." Elsa menopang dagunya dengan muka yang memerah.


*


*


*

__ADS_1


Adiba hampir selesai makan, Leo masih mengajaknya untuk mengobrol seputaran acara lusa.


"Besok jangan lupa latihan lagi ya, biar aku yang ajarin." Tawar Leo.


"Gak usah kak aku bisa kok, kayaknya aku latihan di rumah aja ya." Ucap Adiba.


"Loh kenapa dirumah, disini aja biar kakak ajarin." Tawar Leo lagi.


"Beneran mau di ajarin." Tanya Adiba memastikan.


"Iya tenang aja, pokoknya lusa kamu siap tampil." Ucap Leo mantap.


"Masih ada orang oy." Sindir Reno.


"Yaelah Lo diam aja." Ujar Leo pada Reno.


"Eh Diba, Lo kalau sama si beo ngomong nya kenapa panjang amat sih. Giliran aku aja di judesin." Ucap Reno to the point.


Leo menampol kepalanya Reno karena mengatainya beo.


"Kapan kak gak pernah loh aku judes." Jawabnya.


"Waktu hari pertama kamu masuk itu, inget gak." Reno mengingatkan.


"Salah kakak sendiri sih kenapa nyapa gak sopan, inget kan." Adiba kembali bertanya.


Reno hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nyatanya memang dia yang salah karena duluan menyapa Adiba dengan tidak sopan.


"Kak kami permisi dulu ya, soalnya udah selesai makan." Pamit Adiba, dan mereka mengangguk.


Leo menatap kepergian Adiba dengan tersenyum senyum sendiri. Elsa bangun dari duduknya dan mengejar Adiba yang sudah tak terlihat lagi. Hatinya sudah sedari tadi panas dan ingin mengampar Adiba.


"Woyy berhenti kalian." Teriak Elsa dari kejauhan.


Sontak Rina dan Adiba berhenti dan menoleh kebelakang. Ternyata Elsa mengejar mereka dan ikutin teman temannya, Rina sudah meremas jemarinya Adiba. Tapi dia malah santai dan menunggu Elsa tepat berdiri di hadapannya.


"Udah berapa kali gue peringatin Lo biar gak keganjenan sama Leo hah." Teriak Elsa di wajahnya.


"Apa kamu tidak ada pertanyaan lain selain itu." Tanya Adiba santai.


"Enggak, heh tampang aja sok alim ternyata kelakuan Lo minus juga ya." Elsa memutari badan Adiba dan mengejeknya


Kini Adiba dan Rina di kelilingi oleh Elsa dan teman temannya, maha siswi dan maha siswa yang lewat tidak berani ikut campur jika harus berurusan dengan Elsa.


"Apa kamu pernah di tolak atau di abaikan oleh kak Leo, sehingga tingkat ingin memiliki semakin menjadi-jadi." Pernyataan Adiba membuat Elsa semakin murka.


"Jaga ya ucapan Lo." Elsa hendak menampar namun tangannya duluan di tahan oleh Adiba.


"Jangan pernah bermain kasar jika masih ingin mempunyai tangan yang mulus." Tegas Adiba dengan menatap kedua mata Elsa dengan nada mengancam.


Elsa menelan ludahnya, ternyata maha siswi baru ini cukup berani dan tegas dalam bersikap.


""Lepaskan tangan gue njir." Bentak Elsa dangas Adiba.


'Plak' Adiba tanpa sadar menampar wajah Elsa karena begitu marah di saat Elsa mengatainya dengan nama binatang.


Mereka semua yang menyaksikan hanya bisa melongo dengan keberanian Adiba, termasuk teman temannya Elsa sendiri.


"Jika sekali lagi kamu berani mengatai saya dengan sebutan kotor seperti itu, maka kamu akan terima akibatnya." Tegas Adiba sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Elsa yang malu dengan perbuatannya sendiri.


Teman temannya juga tidak ada yang berani ikut campur, ternyata mereka salah cari lawan. Elsa benar benar malu sama mereka semua dan juga banyak yang menyaksikan kejadian barusan.


"Kurang ajar, beraninya dia mempermalukan Gue." Gumam Elsa dengan gigi yang bergelutuk.


Adiba pergi sambil terus berzikir dalam hatinya, hatinya benar-benar panas karena mendengar perkataan Elsa untuknya.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2