
Tak terasa seminggu telah berlalu, kini kedua sejoli yang sedang melangsungkan pernikahan mereka tampak telah bersiap di hadapan penghulu. Terlihat ustad Ali dan keluarganya juga ikut menyaksikan ikatan suci tersebut.
Leo duduk dengan gagah di hadapan calon mertuanya, ijab kabul berhasil di langsungkan dengan sangat baik. Zurina merasa sedih menyaksikan pernikahan ini, dia masih sangat mengagumi Leo.
Di saat semua sedang merasa bahagia hanya zurina lah yang merasa sedih akan nasip hatinya yang tak akan terbalaskan.
"Sah."
Setelah kata sah terucap senyum Leo semakin lebar, tanpa sengaja dia juga meneteskan air matanya. Kini seluruh tamu fokus pada kedua insan yang saling menatap haru satu sama lain.
Adiba menyalami Leo dengan takzim, keduanya begitu terharu baru sekarang mereka bisa sedekat ini. Dengan bacaan basmalah Leo memegang ubun ubun Adiba yang kini telah sah menjadi istrinya.
Dia membacakan doa yang telah dia pelajari dari ustad Ali.
Suatu kebahagiaan yang tidak bisa di jabarkan melalui kata-kata rasanya benar-benar indah. Semua yang turut menyaksikan juga ikut meneteskan air mata, tak terkecuali Rina sahabatnya Adiba.
Rina yang paling tau seperti apa perjalanan cinta mereka, sebagai sahabat yang baik dia ikut mendoakan Adiba agar rumah tangga sahabatnya senantiasa bahagia.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian." Ucap Rina sambil merangkul Adiba.
"Amin Rina hiks makasih." Adiba membalas pelukan Sahabatnya.
Seluruh tamu yang hadir ikut memberikan selamat kepada mereka, begitu juga dengan zurina. Walaupun hatinya tidak ikhlas dia harus tetap ikut menyalami mereka dengan berpura-pura tersenyum.
"Selamat." Ucapnya singkat dengan wajah jutek.
"Terima kasih zurina." Balas Adiba dengan senyuman terbaiknya.
********
Cafetaria yang biasa menjadi tempat tongkrongan Leo sejak kuliah dulu, keempat sahabatnya sedang menikmati beberapa cemilan dan juga kopi. Mereka semua tidak tau jika Leo menikah hari ini, karena sudah sangat lama mereka tidak pernah mendapatkan kabar dari sahabatnya itu.
"Ren. Kalian gak penasaran apa sama Leo, udah lama kita gak pernah dapat kabar dari dia." Tanya Aldi.
"Iya sih gimana ya kabarnya tu anak."
"Rumah lamanya udah gak di tempatin."
__ADS_1
"Sosial medianya juga terakhir on beberapa tahun lalu."
Mereka asik membicarakan tentang Leo yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Reno yang dulunya usil kini telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mereka semua telah memiliki pekerjaan masing-masing, walaupun tidak sesukses Leo tapi mereka juga mendapatkan posisi yang terbaik di kantor yang mereka tempati.
"Aku duluan ya Bentar lagi ada meeting." Reno menyeruput kembali kopinya sebelum meninggalkan cafe.
"Iya ren, good luck. Kita juga mau balik masih ada schedule di kantor."
************
Leo dah Adiba masih saling pandang, kini mereka berada di dalam kamarnya Adiba. Walaupun telah sah menjadi sepasang suami istri tapi keduanya masih saling malu malu. Baru sekarang mereka bisa sedekat ini, jantung juga ikut berpacu begitu cepat tidak seperti biasanya.
"Sayang apa kamu bahagia." Adiba tersenyum mendengar pertanyaan suaminya.
"Bby seharusnya kamu sudah tau jawabannya, pernikahan merupakan sebuah ibadah bby. Ibadah yang berkepanjangan hingga maut memisahkan, semoga kita bisa saling menjaga satu sama lain."
"Amin sayang."
Adiba bingung melihat Leo yang tampak ingin menegang jemarinya tapi masih terlihat ragu ragu.
"Pegang lah bby, aku milikmu sekarang." Leo tersenyum dan langsung membawa Adiba kedalam pelukannya.
"Sayang aku harus pulang." Ucap Leo tiba-tiba.
"Bukankan kamu akan tinggal di sini." Leo menggeleng.
"Kata kakek kita harus tidur terpisah dulu selama tiga hari."
"Kapan kakek bilang begitu."
"Tadi sore sayang." Adiba menepuk keningnya, sejak kapan kakeknya suka mengerjai orang seperti ini.
"Sebaiknya kita turun dulu byy, pasti semuanya sedang berkumpul di meja makan."
Adiba dan Leo pun turun menghampiri keluarganya yang lain, ternyata mereka semua sedang berkumpul di meja makan. Abi yang melihat mereka langsung menghampiri, dan memprotes.
"Kalian kenapa lama, sementang pengantin baru asik di kamar aja." Adiba sangat malu mendengar celotehan Abi.
__ADS_1
"Apa sih kak. Baru juga habis magrib kita tepat waktu loh." Leo hanya tersenyum menyaksikan mereka berdebat.
Adiba sangat malu pastinya, karena fokus keluarga tertuju pada mereka sekarang. Adiba melepaskan tangannya yang masih di genggam Leo.
"Ayo sayang kita makan malam dulu, ajak suamimu."
"Ma, ikut aku bentar Adiba mau nanyak sesuatu."
Adiba mengajak mamanya sedikit menjauh dari Leo dan Abi.
"Ma, kata kakek kami gak di kasih sekamar dulu ya Sampek tiga hari." Mama Adiba pun tertawa mendengar pertanyaan konyol Adiba.
"Hah. Kapan kakek ngomongnya."
"Kak Leo yang bilang sama aku, katanya kakek yang bilang."
"Haduh kakek kamu ada ada aja, udah jangan di dengar. Ajak suami kamu makan dulu, Tante Fahira ada hadiah buat kalian."
"Iya ma." Adiba merasa sangat malu karena pertanyaannya tadi.
Adiba menghampiri Leo dan mengajak suaminya untuk bergabung dengan yang lain, kakek abram menikmati makannya tanpa beban. Sedangkan Adiba dan Leo merasa begitu canggung dan salah tingkah sendiri, Abi berusaha menahan tawa melihat gelagat dari mereka.
Akhirnya makan malam telah selesai dan mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Fahira mendekati Adiba dan Leo, kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop untuk di berikan kepada mereka.
"Apa ini Tante." Adiba dan Leo saling pandang.
"Buka aja dulu."
"Bismillah, tiket." Adiba kaget melihat ada dua tiket pesawat.
"Iya sayang, tiket honeymoon buat kalian." Leo hanya tersenyum namun tidak dengan Adiba.
"Makasih banyak Tante." Hanya ucapan terima kasih yang bisa dia ucapkan.
"Semoga bermanfaat ya Leo, Diba. Hanya itu yang bisa Tante kasih untuk hadiah pernikahan kalian."
Mereka saling pandang dan kemudian sama sama mengangguk. Leo merasa nyaman berada di antara keluarga Adiba, mereka begitu hangat. Sedikit terbesit dalam hatinya yang merindukan sang papa, namun Leo harus menahannya.
__ADS_1
Hanya doa yang bisa dia panjatkan semoga papanya bisa membuka hati untuk dirinya dan ibunya.