Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Penjelasan leo


__ADS_3

Tepat sore hari mereka bertemu di sebuah danau yang biasa mereka datangi. Adiba dan leo duduk secara berjauhan karena permintaan dari adiba sendiri, leo juga merasa heran sama perubahan sikap adiba yang secara tiba-tiba. Adiba masih diam dan belum mengeluarkan sepatah katapun sehingga membuat leo jenuh dan mulai membuka obrolan di antara mereka.


"Sayang kamu kenapa hm." Tanya leo sambil memegang dagunya adiba. Namun adiba memalingkan mukanya ke samping karena tidak ingin melihat wajahnya leo.


"Kamu kenapa. Kalau ada masalah di bicarakan bukannya malah diam diaman." Leo masih sabar membujuk adiba.


"Oke sekarang aku mau nanyak. Apa kamu pernah menyembunyikan sebuah rahasia besar dari aku." Pertanyaan adiba membuat leo tersenyum dan terus menatapnya dengan heran.


"Masalah apa sih sayang hm. Apa pernah aku berbohong sama kamu ayolah jangan seperti ini." Adiba menatap leo dengan tatapan tajamnya sehingga membuat leo heran.


"Yo kenapa kamu tega membohongi aku dengan status asli kamu hah. Apa ini yang di namakan saling percaya jawab yo hiks hiks aku kecewa sama kamu." Leo semakin bingung dengan pertanyaan adiba. Dia ingin menghapus air matanya namun segera di tepis oleh adiba.


"Sayang aku mohon tolong jelasin satu persatu aku bingung. Kamu sebenarnya kenapa dan status mana yang kamu maksud."


"Tentang perbedaan iman kita berdua." Ketus adiba dengan mata memerah dan menatap murka ke arah leo sehingga membuatnya terdiam dan lemah.


"Mm_maksud kamu." Leo merasa gugup dan deg degan.


"Sudahlah yo maaf kalau aku kurang sopan sama kamu. Sebaiknya kita sampai disini aja aku sudah terlanjur kecewa sama kamu hiks hiks kamu jahat yo." Adiba memukul dadanya leo dengan brutal hingga membuatnya mendesah karena menahan sakit.


"Maaf sayang bukannya aku tidak jujur. Hanya saja aku belum siap untuk memberi tau kamu." Jawab leo lemah dan tak berani menatap adiba.


Adiba semakin terisak mendengar penjelasan leo, ternyata siang itu memang kejadian yang nyata. Adiba menatap leo dengan tatapan sendunya matanya tersirat kekecewaan yang begitu dalam.

__ADS_1


"Kamu jahat kenapa kamu tega. Kamu lebih tau siapa aku tapi kenapa kamu bisa setega ini yo hiks hiks kamu jahat." Leo tidak kuasa melihat tangisnya adiba. Dia ingin memegang tangannya adiba namun adiba menolak untuk di sentuh leo.


"Stop. Jangan sentuh aku lagi dan mulai hari ini kita akhiri saja hubungan yang tidak jelas ini." Adiba beranjak dari duduknya dan ingin meninggalkan leo.


"Aku mohon dengarkan dulu penjelasan dari aku." Ujar leo penuh harap dan menatap adiba dengan memohon.


"Lepas. Dari pertama kamu sudah berbohong aku takut jika akan ada kebohongan lagi nantinya dalam hubungan kita. Maka sebaiknya kita akhiri saja sebelum terlambat."


"Apa semudah itu bagi kamu untuk mengakhiri semuanya. Apa hubungan kita selama ini tidak berarti apa apa bagi kamu." Adiba menarik nafas perlahan sebelum menjawab pertanyaan dari leo.


"Kamu bahkan lebih berarti bagi aku. Hanya saja semuanya hilang karena satu kesalahan yang kamu perbuat."


"Kali ini aja dengarkan dulu penjelasan aku diba. Aku mohon kasih aku kesempatan jujur aku tidak berniat untuk membohongi kamu."


Leo merasa hancur karena adiba tidak mengindahkan ucapannya. Pikirannya benar-benar kacau karena banyak hal yang harus dia pikirkan. Bukan hanya soal percintaannya dengan adiba namun juga kedua orang tuanya juga dirinya sendiri. Baru kali ini dia merasakan kesedihan dan juga kesepian.


Leo terisak pelan karena saat ini tidak ada tempat untuknya berbagi kesedihan. Harapannya hanya adiba namun kesalah pahaman membuatnya menjauh dan meninggalkannya.


"Hiks hiks seberat ini kah. Ya Allah kuatkan aku semoga aku tidak lalai dan tetap menjalani kewajibanku." Leo hanya pasrah dia baru saja muallaf mungkin ini salah satu ujian untuknya.


Adiba merupakan perempuan satu satunya yang bisa membuatnya jatuh cinta dan bisa membuatnya merasakan sebuah kenyamanan. Mungkin sekarang emosinya adiba sedang tidak stabil dia pasti butuh waktu untuk berpikir dan mencerna semuanya.


Leo bangkit dari duduknya dan berjalan pulang dengan keadaan lesu. Dia akan pulang ke apartemennya terlebih dulu sesuai dengan perintah dari ustad ali. Dia menyewa beberapa orang untuk membantunya mengemasi barang barang yang akan di bawakannya ke pesantren.

__ADS_1


Dia mencoba untuk mengesampingkan Kekacauan hatinya dulu, karena saat ini dia sedang terburu buru. Banyak hal yang harus dia urus leo merasa kepalanya sangat berat karena begitu pusing memikirkan masalahnya yang tak kunjung selesai.


"Mas kalian angkatin terus ya barang barangnya. Saya istirahat sebentar karena kepala saya agak pusing." Leo memilih istirahat sebentar sebelum meninggalkan apartemennya.


15 menitan semua barangnya sudah siap di packing dah tinggal menunggu mobil jemputan. Dia kembali merogoh ponselnya dalam tas dan melihat apakah ada notif pesan dari adiba. Namun sayang dia harus kecewa karena adiba sama sekali tidak menghubunginya.


Bukan hanya leo. Adiba juga merasakan hal yang sama dia tidak bisa berpikir dengan baik saat ini. Karena hatinya terlalu sakit dan kecewa dengan kebohongan fatal yang di lakukan leo.


"Apa salahnya kalau dia jujur. Hiks hiks kenapa sesakit ini rasanya aku harus gimana ya Allah." Adiba sesegukan di dalam kamarnya bahkan dia tidak memperdulikan di mana ponselnya saat ini.


Lelah menangis akhirnya dia tertidur dengan mata sembabnya.


**Jangan lupa tinggalin jejak ya guys🥰🥰


Kepoin yang satu ini yuk


👇👇**



**Like, komen, subscribe dan juga jangan lupa rate bintang 5 ya semua, ❤️❤️❤️❤️


#Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2