
Leo masih menyimak penjelasan rinci dari kekasihnya, adiba menjelaskan dengan lugas tentang pertanyaan leo tadi. Dia begitu semangat menceritakan semuanya karena itu juga merupakan sebuah hobi dan juga pelajaran untuknya dan leo, kisah kisah Rasulullah sangat menginspirasi kehidupan manusia pada zaman sekarang ini.
*Riwayat HR At - Tirmidzi.
عن عمرو بن شعيب عن ابيه عن جده: ان رسول الله صلى الله عليه وسلم رد ابنته زينب على العا صي بن الر بيع بمهر جديد ونكاح جديد.
Artinya, " Diriwayatkan dari Amru bin Syu'iab Rasulullah SAW mengembalikan putrinya sendiri yaitu Zainab ra kepada mantan suaminya Al-'Ashi bin ar-rabi' dengan mahar dan akad nikah yang baru*. "
"Sedetail itu kah sayang." Tanya leo bingung setelah menyimak penjelasan adiba.
"Iya, tapi itu cerita zaman dulu sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah. Kalau untuk zaman yang sekarang pernikahan beda agama itu di haramkan bby, seorang wanita muslim di haramkan baginya menikah dengan seorang musyrik (kafir)."
Leo hanya manut manut mendengarkan penjelasan adiba, ternyata sangat tipis harapannya. Apakah sudah saatnya dia menemui ustad ali, namun hatinya juga setengah setengah dalam mengambil keputusan.
"Bby kamu kenapa bingung ya sama cerita aku tadi." Adiba merasa jika leo bingung dengan penjelasannya tadi.
"Eh enggak kok sayang, hanya aja aku bingung. Suaminya Zainab kenapa sampai masuk islam, bukankah dulunya dia tidak mau."
"Karena pengaruh islam sangat besar bby, yang awalnya dia merasa ragu. Namun akhirnya bukti nyata Allah perlihatkan secara nyata pada suaminya Sayyidah Zainab. Orang orang mukmin tidak pernah membedakannya, mereka selalu menghargainya dalam segala bentuk apapun. Makanya Abul Ash tersanjung dan akhirnya memutuskan untuk masuk islam." Jelas adiba lembut agar mudah di pahami.
"Setelah dia menjadi seorang muslim apakah mereka bahagia sayang." Adiba mengangguk.
"Bahkan sangat bahagia, karena Allah selalu menjanjikan kebahagiaan untuk semua hambanya. Kita sebagai manusia hanya di suruh untuk menjalankan kewajiban kita saja, insyaallah kebahagiaan akan menanti mita."
Leo begitu salut dengan cara penyampaian adiba yang sangat mudah untuk dia pahami, leo mengusap pucuk kepala adiba sambil tersenyum. Sekarang hatinya terasa tenang dan tentram, sebelum menemui ustad ali dia akan mencari tau sedikit demi sedikit melalui adiba.
"Kamu pintar sekali sayang, aku bangga sama kamu. Sebentar lagi aku akan lulus kamu jaga diri baik-baik ya mungkin kita akan lama tidak bertemu." Adiba tersentak mendengar perkataan leo.
"Kamu akan kemana byy, kamu gak akan ninggalin aku kan." Adiba menatap leo dengan mata yang berkaca kaca.
"Kita akan selalu bersama percaya sama aku ya, jangan nangis. Aku akan memantapkan hatiku dan memapankan diriku dulu agar nantinya aku bisa memiliki kamu tanpa ada kekurangan secuil apapun." Adiba tersentuh mendengar kejujuran leo.
"Kamu janji ya bby, jangan sakiti aku dengan cara apapun. Kamu tau kan kalau kamu adalah cinta pertamaku aku hanya bisa mempercayai kamu."
__ADS_1
Leo tersenyum dan mengangguk hingga membuat adiba tersenyum, tanpa terasa obrolan mereka berlangsung sangat lama. Karena panik adiba meminta leo untuk mengantarkannya pulang, dia takut harus pulang sendirian karena hati juga akan semakin gelap.
"Selamat istirahat sayang, sampai jumpa besok."
"Kamu juga bby, aku masuk ya hati hati di jalan." Bisik adiba pelan dan tersenyum manis.
Adiba menyangkut Tasnya seperti biasa, bibirnya tak berhenti henti menebar senyuman bahagia. Hari ini banyak hal yang dia lewati bersama leo dia begitu senang karena alhamdulillah kekasihnya adalah orang yang baik dan sangat menghormatinya sebagai wanita. Sebelum tidur adiba membersihkan dirinya terlebih dahulu dan menunaikan ibadahnya.
Sedangkan leo begitu sampai di apartemennya dia langsung membersihkan dirinya, cerita dari adiba tadi siang masih terngiang-ngiang di kepalanya. Hatinya begitu perih dan jantungnya berdetak tak karuan leo sangat merasa gelisah dan tak menentu. Ajakan ustad ali waktu itu membuatnya tidak tenang dan terus kepikiran.
Karena hatinya msih terus gelisah akhirnya dia memutuskan untuk menemui ustad ali ke mesjid waktu itu. Begitu sampai di sana ternyata mesjid masih ramai namun ustad ali tidak kelihatan. Leo mendesah dan hendaklah berbalik tapi seseorang mengagetkannya dari belakang.
"Assalamu'alaikum akhi."
"Astaga ustad." Ustad ali menggeleng.
"Salam di jawab salam akhi."
"Ada apa kamu datang kemari akhi, mari ikut saya." Leo pun mengikuti ajakan ustad ali.
Ustad ali membawanya ke sebuah pondok yang berada di belakang mesjid, pondoknya sangat rapi dan juga bersih. Leo merasa nyaman berada di sini apalagi tempatnya berada di pojokan.
"Ijlis akhi." Leo menganga dengan mulut terbuka sehingga ustad ali tersenyum.
"Maksudnya duduk dulu." Baru leo mendudukkan bokongnya di pondok tersebut.
"Boleh di jawab pertanyaan yang tadi." Leo terdiam karena dia juga bingung harus menjawab seperti apa, hatinya yang membawa dia sampai kemari.
"Saya bingung ustad saya merasa gelisah dan tidak karuan, ingin menangis namun tidak tau penyebabnya. Pengen tidur tapi tidak bisa ustad hati saya menyuruh agar saya menemui pak ustad."
"Apa kamu mendatangi saya karena ajakak saya yang waktu itu."
"Entahlah pak ustad saya tidak mengerti, tapi ketika sampai disini hati saya menjadi damai dan tentram." Penjelasan leo membuat ustad ali tersenyum.
__ADS_1
"Apa ada yang mempengaruhimu anak muda, kalau antum butuh temen untuk curhat ceritakan saja. Mungkin ana bisa membantu jangan malu malu ceritakan saja." Leo menatap ustad ali tanpa berkedip dan detik kemudian dia menangis tanpa tau sebabnya.
"Hiks hiks hiks saya tidak tau harus apa ustad, saya telah membangkang dari kedua orang tua saya. Saya bingung dengan diri saya sendiri tolong bantu saya keluar dari kegundahan ini ustad."
"InsyaAllah anak muda, insyaallah akan ada jalan keluarnya asalkan hati kamu mantap dengan keinginannya. Menangis lah jangan di tahan tahan keluarkan saja semuanya." Ustad ali berusaha untuk membuat leo tenang dan nyaman.
Dia begitu salut melihat leo yang berani mengutarakan isi hatinya tanpa ragu ragu, ternyata hatinya begitu lembut dan mudah tersentuh. Banyak kegelisahan yang dia miliki sehingga membuatnya tidak tenang dan terus merasa gelisah.
"Boleh ana tau alasan yang membuat antum pergi dari rumah." Leo terdiam dan menatap ustad ali.
"Kedua orang tua saya tidak membolehkan saya untuk mencari tau tentang islam, dan bukan hanya itu saja. Saya merasa jika mereka juga menyimpan sebuah rahasia dari saya, papa marah di saat saya mengatakan kalau adanya darah islam yang mengalir di dalam diri saya."
"Apa kamu yakin sama semua itu anak mura." Leo mengangguk mantap.
"Sangat yakin ustad, saya juga mempunyai seorang kekasih yang merupakan seorang muslim ustad. Dia mengajarkan banyak hal buat saya, namun saya merasa bersalah ustad karena dia tidak mengetahui status aslinya saya." Jelas leo dengan menunduk.
"Apa kamu mencintai perempuan tersebut." Leo mengangguk mantap.
"Apa kamu menemui saya karena perempuan tersebut."
"Saya ragu ustad satu sisi saya sangat ingin memiliki perempuan tersebut dalam keadaan seiman, namun apakah saya berdosa jika ingin memasuki islam hanya karena seoarang perempuan."
"Alangkah baiknya jika kamu memasuki islam dalam keadaan sadar dan hati yang mantap, karena jika kamu mengatas namakan perempuan itu. Pasti dia akan merasa sangat bersalah karena cinta yang kamu miliki untuknya membuat kamu harus meninggalkan Tuhan dan agamamu sendiri."
"Lalu saya harus apa ustad."
"Mantapkan hatimu anak muda, yakinlah Allah akan menjawab semua pertanyaanmu." Leo bingung dan terduduk lemas.
"Ustad apa syaratnya memasuki agama islam, ajarkan saya."
"Jangan tergesa-gesa anak muda, yakinkan hati mu terlebih dulu. Jangan sampai nantinya kemurtadan akan menantimu karena sesungguhnya segala sesuatu yang di kerjakan secara tergesa-gesa maka musibah yang akan menantinya." Leo terdiam.
#Bersambung
__ADS_1