
Selesai mengambil wudhu mereka menaiki tangga untuk menuju mesjid. Karena mesjid untuk santriwati berada di atas kantin pesantren. Sedangkan untuk santri putra bersebelahan dengan aula persilatan.
Seluruh santriwati sudah berkumpul di dalam mesjid, tinggal menunggu ustad yang akan menjadi iman untuk mereka shalat. Adiba dan rina masuk belakangan karena baru selesai mengambil air wudhu.
Adiba dan rina menjadi pusat perhatian seluruh santriwati yang berada di sana, bukan hanya karena kecantikan adiba. Namun juga karena mereka terlihat asing dari yang lainnya, ada juga beberapa dari mereka yang memandang tidak suka.
"Eh bukannya mereka yang tadi duduk di pondok ya." Ujar alya temannya Rahma.
Mereka sama sama mengangguk. Rahma melirik mereka dengan sinis karena adiba terlihat sangat cantik dengan hidung mancung ya.
"Ternyata kalau secara dekat semakin cantik ya dia, hidungnya mancung banget." Alya menatap kagum ke arah adiba.
"Halah palingan juga hidung kw. Udah ah jangan bahas dia terus gak penting jugak."
Rina sangat memahami tatapan mereka semua, namun dia memilih abai dan tidak ingin perduli. Tak lama ustad pun memasuki mesjid dan mereka mulai mengatur shaf untuk shalat.
Begitu selesai shalat dah juga sekalian ikut tahlilan, mereka memilih untuk beristirahat sebentar sambil membuka ponsel.
"Permisi ukhty." Adiba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya dek kenapa." Adiba menyambut ramah panggilan dari seorang santriwati yang memanggilnya.
"Emm apa saya boleh meminjam ponselnya sebentar. Maaf ukhty kalau saya lancang, saya ingin menelpon orang tua saya." Adiba tersenyum dan langsung meminjamkan ponselnya.
Santriwati tersebut terlihat sangat senang. Rina juga ikut tersenyum melihat santriwati tersebut. Kebetulan santriwati yang meminjam ponsel kepada adiba adalah seorang santriwati Thasanawiyah (Kelas menengah).
Untuk SMP atau kelas menengah mereka menyebutnya dengan sebutan ' Thasanawiyah' Dan untuk SMA Atau kelas akhir mereka menyebutnya dengan sebutan ' Aliyah'.
__ADS_1
Adiba tidak sengaja mendengar jika santriwati yang tadi meminjam ponselnya seperti menangis. Dia sedikit penasaran namun tidak berani untuk menanyakannya, santriwati tersebut mengembalikan ponsel miliknya dengan mata sembab.
"Terimakasih ukhty." Ujarnya dengan suara parau. Adiba menarik lembut tangan santriwati tersebut dah menyuruhnya untuk duduk bersamanya sebentar.
"Maaf dek nama kamu siapa."
"Nama ana aisyah ukhty." Ujarnya masih dengan suara parau.
"Kalau boleh kakak tau adek ini kenapa." Aisyah terdiam dan menunduk sambil sesegukan.
"Hiks hiks, saya malu ukhty."
"Jangan malu dek, ceritakan saja mungkin kakak bisa bantu. Jangan menganggap kakak orang asing kita semua sama, mungkin kita bisa jadi teman." Ujar adiba dengan lembut sehingga membuat aisyah menatapnya dengan tatapan teduh.
"Mama ana gak bisa berkunjung ukhty. Hiks hiks ana udah gak punya uang lagi hiks hiks besok ujian ana belum bayar uang bulanan hiks hiks." Adiba begitu sedih mendengarkan keluh kesah aisyah.
"Jangan sedih ini kami ada sedikit rezeki buat kamu, jangan menganggap kalau kami hanya kasihan insyaallah kami tulus kok. semoga bermanfaat jangan sedih lagi oke." Aisyah tidak menyangka jika perempuan yang ada di depannya saat ini adalah dewi penolong untuknya.
"Terimakasih banyak ukhty, ini sangat membantu hiks hiks. Ternyata selain cantik antuma juga baik." Ujarnya yang membuat rina sampai bengong.
"Maksudnya kalian berdua rin. Dia menggunakan bahasa Arab udah jangan mangap begitu kali." Adiba dan aisyah tertawa ringan melihat rina yang bengong karena ucapannya.
Mereka bertiga akhirnya turun dari mesjid karena sudah satu jam mereka beristirahat di sana. Aisyah meminta izin untuk kembali ke asramanya adiba juga meninggalkan nomor ponselnya untuk aisyah.
Sebelum pulang mereka di suruh mampir ke rumahnya ustad ali terlebih dulu. Ternyata disana sudah ada leo dan juga beberapa temannya yang lain, adiba merasa tidak enak dan juga malu karena banyaknya laki-laki di sana.
"Rin kenapa kita di suruh kesini." Bisik adiba pada rina, dia juga mengangkat bahunya karena juga tidak paham.
__ADS_1
Ustad ali keluar dan menghampiri mereka semua, ternyata beliau ingin mengundang mereka berdua untuk acara penyambutan bulan Ramadhan. Setiap 2 minggu sebelum menjelang ramadhan beliau selalu mengadakan acara penyambutan, setiap santri dan santriwati aliyah. Mereka wajib menyelenggarakan berbagai macam jenis perlombaan untuk bisa di ikuti oleh adik adik kelas mereka.
"Nak diba sama nak rina. Ini ada undangan untuk antuma jangan lupa datang ya."
"Acara seperti apa ini pak ustad." Tanya rina.
"Acaranya banyak, nanti kalian bisa sekalian menginap di sini." Rina hanya mengangguk.
Sedari tadi leo asik memperhatikan adiba yang tampak tenang dan hanya tersenyum menanggapi obrolan ustad ali dan juga rina.
Teman santrinya yang lain juga tak kalah memperhatikan kecantikan seorang adiba yang begitu teduh saat di pandang. Leo merasa tidak suka karena kekasihnya menjadi bahan tontonan mereka semua.
"Ustad izinkan saya mengantarkan mereka sampai gerbang depan." Ustad ali mengangguk dan mempersilahkan.
Zurina bertanya dalam hati kenapa gus leo yang terkenal dingin tapi terlihat begitu akrab dengan gadis gadis itu.
Dia merasa cemburu namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bby kami pulang ya. Besok kita ketemu di kampus kamu istirahat jangan banyak berpikir. Dan jangan lupa berdoa semoga kedua orang tuamu segera menerima kamu lagi." Leo tersenyum lembut dan mengangguk, ingin sekali dia mengelus kepala adiba yang tertutupi oleh hijab itu.
"Iya sayang. Kalian hati hati kalau udah sampai kabari aku ya. Ah lega rasanya dari tadi ingin panggil sayang tapi gak bisa." Adiba dan rina tertawa mendengar keluhan leo.
"Yaudah kami pulang assalamu'alaikum bby."
"Waalaikum salam sayang take care."
Setelah mobil yang mereka tumpangi melesat jauh meninggalkan komplek pesantren. Leo menutup gerbang dan kembali ke asramanya.
__ADS_1
#Bersambung