
Karena tidak tenang dengan situasi yang terus di tekan oleh keluarganya leo menghubungi adiba dan mengajakmu untuk bertemu di tempat biasa. Hatinya masih belum tenang jika dia masih berdiam diri di dalam rumah.
Pilihan yang diberikan oleh orang tuanya terasa begitu menjebak, namun karena keyakinan yang dia miliki maka hanya satu caranya agar semua masalah selesai.
Dia sengaja mengajak adiba untuk bertemu dan dia akan menjelaskan semuanya, cukup kesalahan pahaman kemarin saja yang terjadi. Dia tidak ingin membuat adiba salah dalam menilainya lagi, setiap sesuatu masalah mereka tetap harus saling mendukung dan membicarakannya.
Adiba datang dengan membawa senyuman yang tidak pernah luntur dari wajahnya, hati leo terasa sakit saat melihat berapa tulusnya senyuman tersebut.
Akankah senyuman itu terus merekah seperti biasanya setelah obrolan mereka berakhir, leo hanya bisa berharap semoga kekasihnya adalah seorang perempuan yang kuat, bijak dan pengertian.
"Kamu sudah lama byy." Leo menggeleng namun isyarat wajahnya menunjukkan sesuatu yang tidak biasa.
"Sayang aku gak bisa lama, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Ucap leo lemah.
"Bby, kamu kenapa. Apa ada sesuatu yang penting yang ingin kamu katakan." Leo mengangguk.
Leo terus menatap adiba tanpa berkedip, bahkan matanya terasa hangat karena menahan sesuatu yang ingin merembes dari pelupuk matanya.
"Byy are you okey. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan insyaallah aku akan menjadi pendengar yang baik."
"Maafkan aku sayang jika perkataan ku nanti bisa membuatmu sedih dan terluka." Leo mengambil tangannya adiba dan menggenggamnya.
"Katakan bby." Jantungnya begitu deg degan menunggu apa yang akan di katakan oleh leo.
"Papa membuat dua pilihan untukku sayang, hiks dan mama lagi sakit parah. Aku bingung harus gimana keduanya benar-benar sulit bantu aku sayang." Tatapan mata leo mengisyaratkan bahwa dia tersiksa dengan pilihan ini.
__ADS_1
"Lanjutkan bby." Tutur adiba dengan lembut.
"Papa menyuruhku hiks pa_pa papa menyuruhku untuk memilih antara kamu dan Tuhanku."
Deg. . . Spontan adiba menarik tangannya yang berada dalam genggaman leo.
"A_apa bby." Tanpa terasa buliran hangat ikut membasahi pipinya.
"Aku harus bagaimana sayang, bantu aku. Haruskah aku menjadi anak pembangkang, atau aa_ atau kembali berpihak dengan mereka." Mereka merasakan kesedihan yang sama.
Adiba bisa merasakan seperti apa perasaan kekasihnya saat ini, pasti semua ini begitu sulit untuknya.
"Jangan bby, hiks hiks kenapa harus seperti ini. Walaupun kedua orang tuamu berbeda keyakinan denganmu, namun mereka tetaplah orang tuamu juga. Jangan menyakiti hatinya lagi bby, aku ikhlas dengan segala pilihan kamu nanti."
"Sayang percayalah kamu tetap akan selalu menjadi pelengkap hidupku, aku mohon jangan tersinggung dengan pilihanku nanti."
"Please sayang jangan bicara begitu, InsyaAllah suatu saat nanti jika kita berjodoh. Allah pasti akan mempertemukan kita kembali, jangan pernah lupakan aku."
"Cukup untuk membuat mereka kecewa bby, jangan pernah kecewakan mereka lagi. Kamu harus ingat jangan pernah lalai untuk beribadah, sekarang kamu adalah seorang muslim."
"Pasti sayang, setelah 24 jam nanti. Papa akan menemuiku dan meminta jawaban atas pertanyaan."
"Awali sesuatu dengan nama allah bby. Yakinkan hatimu untuk setiap jawaban yang ingin kamu berikan, jangan bersedih percayalah kisah cinta kita berdua masih belum berakhir sampai disini."
"Terima kasih sayang. Hiks hiks aku mohon terus bantu aku untuk melewati ini semua, jika mereka akan membawaku pergi. Apakah kamu akan tetap menunggu sampai aku kembali."
__ADS_1
"Insya Allah bby. Berbahagialah jangan putus asa, hiks hiks ini memang sakit bby tapi percayalah kita akan kuat untuk melewati ini semua." Mereka mencoba untuk saling menguatkan dan mengerti.
Leo mengambil tangan adiba dan menggenggamnya, mereka saling menangis dan meratapi nasional percintaan keduanya. Ternyata sangat sulit menjalani hubungan dengan keyakinan yang berbeda, walaupun mereka sama-sama seiman. Namun kedua pihak dari keluarga memeluk keyakinan yang berbeda.
"Bby pulanglah pasti mereka menunggu mu. Kita pasrahkan semuanya pada Allah, hiks hiks aku sayang kamu bby."
Leo menatap adiba dengan tatapan hancur dan sedih, di saat begini kekasihnya tersebut masih mencoba untuk menguatkannya.
"Hiks hiks maafkan aku sayang. Jangan pernah membenciku maafkan aku." Ucap leo lemah dan menundukkan kepalanya karena tidak sanggup melihat betapa hancurnya adiba saat ini.
"Pulanglah temui mereka dan minta maaflah, jangan pernah mencintai seseorang melebihi dari rasa cinta mu terhadap tuhanmu."
"Kamu dulu yang pulang sayang, aku akan menunggu sampai kamu memasuki mobil baru aku pergi." Adiba mengangguk dan mulai berdiri untuk bersiap pulang.
"Assalamu'alaikum bby, semoga ini bukan akhir dari segalanya."
"Waalaikum salam sayang, amin."
Mereka terdiam sejenak dan saling menatap dengan perasaan terluka dan sedih.
"Hati hati."
"Iya bby, aku pulang."
Keduanya berpisah secara baik-baik dan secara kedewasaan, tidak adanya pertikaian yang terjadi. Karena inilah resiko yang harus mereka tanggung, percintaan beda agama yang terjalin antara keluarga.
__ADS_1
#Bersambung