
Walaupun ragu dia tetap memaksakan untuk berkunjung ke pesantren ustad ali. Bukan ragu untuk bertemu leo namun dia ragu apakah baik jika seorang wanita datang berkunjung ke pesantren hanya untuk bertemu dengan kekasihnya. Sudah tiga kali adiba bolak balik tidak jadi masuk ke dalam mobil, rina benar-benar di buat kesal dengan tingkahnya.
"Ihh jadi pergi enggak ni." Adiba menghampiri rina dan menyuruhnya untuk memegang jantung nya.
"Apa sih diba."
"Kamu ngerasain gak kalau jantung aku dag dig dug terus."
"Yaelah kalau gak bunyi gitu berarti kamu udah game dong jadinya. Masuk cepat kalau gak aku marah ni." Akhirnya dengan bismillah adiba masuk ke dalam mobil dan jadilah mereka menuju pesantrennya ustad ali.
Begitu sampai ternyata leo sudah menunggu kedatangan mereka di pos penjagaan pintu utama. Tak hanya leo seorang namun ustad ali juga menemaninya disana, karena dia tidak ingin menimbulkan fitnah dengan kedatangan adiba dan rina.
"Assalamu'alaikum ustad." Rina menyapa ustad ali dan menyalimnya di ikuti adiba dari belakang.
"Waalaikumsalam ukhty."
Mereka juga mengatupkan tangan mereka ketika ingin bersalaman dengan leo. Adiba dan leo sangat menjaga pandangan mereka, ustad ali merasa lega ternyata perempuan yang menjadi kekasihnya leo adalah perempuan baik baik dan juga sholehah.
"Mari kita duduk di pondok sana." Ustad ali mengajak mereka untuk duduk di salah satu pondok yang ada di sana.
Karena kalau di pesantren setiap wali murid ataupun kerabat yang datang berkunjung pasti mereka akan duduk di sana. Selain tempatnya terbuka, mereka juga bisa leluasa menikmati semilir angin yang begitu sejuk dan menenangkan.
Adiba mengeluarkan rantang bawaannya dan membuka isinya satu persatu. Rina juga membantu adiba untuk mengambilkan piring dan juga membeli minuman untuk ustad dan juga leo.
"Mari ustad silahkan di makan semoga suka." Ujar adiba lembut yang membuat leo begitu tenang mendengar suara indah itu.
__ADS_1
"Ini siapa yang masak." Tanya ustad ali sambil mengambil nasik.
"Ini masakannya adiba pak ustad, ya walaupun dia baru beberapa bulan di Indonesia. Tapi kalau soal belajar masak dia juaranya ustad hehehe." Jelas rina panjang lebar yang membuat adiba tersipu dan mencubitinya.
"Rin kamu apaan sih malu tau."
"Benarkah itu. Lantas dulunya nak diba tinggal di mana." Ustad ali sedikit tertarik mendengarkan ceritanya rina.
"Sebelumnya maaf ya pak ustad, saya memang begini kalau bicaranya hehe. Adiba asli turki ustad emm tepatnya blasteran gitu. Karena papanya asli Indonesia, mamanya yang dari sana." Ustad ali terkekeh mendengar penjelasan rina yang menurutnya asik untuk di ajak bicara.
"Ini kamu yang masak sa_ emm maksudnya diba." Leo hampir keceplosan memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Iya bby." Adiba sangat irit berbicara karena malu dengan adanya ustad ali di sana.
"Nak diba jangan sungkan kalau mau bicara, silahkan ustad hanya menemani saja."
"Pak ustad Terima kasih karena sudah mau mengajarkan leo banyak hal, apa setelah mendapatkan gelar sarjana leo masih boleh menetap di sini." Tanya adiba ragu.
"Sama sama nak. Untuk keputusan setelah sarjana nantik, biar jadi keputusannya leo kamu bisa langsung menanyakannya kepada nak leo." Adiba menatap leo sekilas dan kembali menunduk.
"Byy alangkah baiknya kalau kamu menemui kedua orang tuamu dulu. Mintalah restu mereka, walaupun sekarang kalian sudah berbeda keyakinan. Yakinlah bby pasti mereka akan menerima mu kamu harus optimis jangan lupakan mereka."
"Aku beluk tau diba. Waktu itu papa sangat marah bahkan dia tidak mencegahku untuk pergi. Aku ragu untuk menemui mereka apakah mereka akan menerima kehadiran ku apa tidak."
Ustad ali dan rina hanya diam mendengarkan perbincangan mereka, adiba dan leo terlihat sangat tenang dalam menyikapinya.
__ADS_1
"Kamu hanya perlu berdoa dan ikhtiar. InsyaAllah semuanya akan ada jalan keluarnya." Adiba manatap leo sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"InsyaAllah" Leo membalas tatapan adiba dengan tersenyum.
Ustad ali tersenyum melihat kedua sejoli yang di depannya. Mereka terlihat saling menguatkan dan saling mensupport, bukan hanya sebagai sepasang kekasih namun juga seperti seorang sahabat.
Ustad ali juga terlibat banyak percakapan di antara mereka. Dia begitu salut melihat leo dan adiba mereka terlihat sangat berbeda di antara pasangan muda lainnya. Tak terasa obrolan mereka berlangsung hingga waktu zuhur.
Adiba meminta izin kepada ustad ali untuk melaksanakan shalat zuhur di mesjid pesantrennya. Rina kembali ke mobil untuk mengambil peralatan shalat mereka, ustad ali mengeryit heran.
"Apa kalian selalu membawanya kemanapun." Adiba mengangguk dan tersenyum.
"Iya ustad, karena ini merupakan sebuah kebutuhan yang wajib. InsyaAllah saya selalu menyediakannya." Ustad ali semakin salut dengan mereka.
"Benar sekali ustad, dan saya selalu meminjam karena kebetulan adiba selalu membawa lebih untuk saya heheh." Mereka tertawa mendengar penuturan rina.
Leo membatu adiba merapikan rantang dan membereskan perlengkapan makan mereka. Adiba juga menyuruh leo untuk membawakannya ke asrama karena ini memang khusus dia buatkan untunya.
Saat turun dari pondok banyak padang mata yang melihat ke arah mereka, karena mesjid santri dan santriwati bersebelahan. Saat berangkat ke mesjid mereka semua menggunakan satu arah jalan yang sama.
Adiba merasa tidak enak karena para santriwati melihat sinis ke arah mereka, ada juga yang tersenyum. Rina segera menarik adiba agar bergabung dengan yang lainnya, dia tidak ingin perduli dengan tatapan para santriwati yang sinis.
"Udah jangan di perduliin kita kesana buat shalat buat untuk menggosip." Adiba menarik nafas dan memilih gabung dengan mereka.
Saat sedang mengantri untuk mengambil air wudhu, adiba tidak sengaja mendengar mereka yang sedang membicarakannya dan rina.
__ADS_1
Ternyata walaupun seorang santriwati tidak menjamin mereka akan benar-benar bersih dari perkataan kotor dan gunjingan. Adiba hanya memilih diam dan tidak ingin memperdulikan mereka.
#Bersambung