Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Kontes bersama leo


__ADS_3

Malam yang indah dengan di penuhi banyaknya bintang bintang yang bertaburan di langit membuat mata tak bosan bosan untuk memandangnya. Cerahnya bulan juga ikut menerangi gelapnya malam, susana yang begitu damai dan juga tentram.


Memandangi suasana malam yang begitu indah ini sedikit bisa mengobati rasa rindu yang begitu menggebu di dalam hati. Rindu akan keluarga yang jauh disana, baru kali ini adiba berjauhan dengan keluarganya. Walaupun disini juga ada kakek dan juga adik dari ayahnya, tapi itu semua tetap tidak sama.


Adiba sangat merindukan keluarganya namun dia juga tidak boleh egois karena semua ini juga pilihannya sendiri. Dia mencoba untuk tetap optimis dan tegar dia bukan sedang berada di negera orang, untuk apa dia bersedih dan galau seperti ini.


Adiba masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon nya, saat hendak merebahkan dirinya ke atas kasur. Ponselnya berdering dia pun melihat nama si penelepon, ternyata leo yang menelponnya.


📞"Assalamu'alaikum kak."


📞"Waalaikumsalam." Jawab leo mantap.


📞"Maaf ada apa kak apa ada yang mau kakak bahas."


📞"Diba apa besok kamu ada kegiatan selain ngampus."


📞"Emm kayaknya enggak kak Ada apa."


📞"Kalau kamu mau aku mau ngajakin nonton."


📞"Gimana ya kak." Adiba terlihat berpikir sebelum mengiyakan.


📞"Aku jemput kerumah sekalian aku izin sama keluarga kamu."


📞"Iya kak."


📞"Heh iya apanya diba." Leo terkekeh mendengar jawaban adiba.


📞"Iya boleh kakak kerumah aja."


📞"Oke see you tomorrow."


Tuttt. .


"Astagfirullah bukannya ucapin salam malah langsung di matikan." Gerutu adiba karena terkejut leo mematikan sambungan telpon sepihak.


Drttt. . .


📞"Maaf diba assalamu'alaikum."


📞"waalaikumsalam udah basi salamnya kak."


Tuttt. . . Diba mematikan sambungan telponnya.


"Dasar aneh, tapi lucu juga sih heheh."


Karena malam juga semakin larut adiba memilih untuk segera tidur karena besok dia harus menampilkan penampilan yang bagus di pentas seni kampus. Adiba begitu greget dan sedikit nervous mengingat hari esok, namun bila mengingat pengorbanan leo dia jadi semakin yakin dan semangat.

__ADS_1


"Pokoknya aku bisa ya aku pasti bisa, semangat for me." Gumamam adiba sebelum matanya terpejam dan masuk ke alam mimpi.


Pagi menjelang adiba baru selesai menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah yang taat. Kemudian memilih outfit mana yang akan dia kenakan hari ini, adiba begitu semangat ingin segera tampil dan memberikan penampilan yang terbaik untuk leo khususnya.


Setelah melihat penampilannya sudah perfect, adiba turun ke bawah untuk ikut sarapan bersama kakek dan juga kakaknya abi.


"Good morning all." Sapa adiba dengan senyuman terbaiknya.


"Morning dek tumben happy begitu, kesambet apa."


"Ih kak abi, hari ini aku tampil di kontes seni kampus tau."


"Serius kamu dek, si cewek ember itu ada tampil enggak." Adiba mengerlingkan matanya mendengar panggilan abi ke rina sahabatnya.


"Enggak dia cuma nyaksiin aku doang. Kak abi kenapa sih manggil rina pakek sebutan begitu." Ujar adiba kesal.


"Ya memang dia ember mulutnya kalau udah ngomong susah diem dek." Jawab abi sambil memakan sandwich miliknya.


"Serah deh, aku pergi duluan ya. Assalamu'alaikum kek ummah." Adiba pamit pada kakek dan mencium pipinya.


"Iya sayang, semoga sukses." Kakek mengelus pucuk kepalanya adiba.


"Eh dek abang ikut." Abi terburu-buru mengambil tas miliknya dan mengejar adiba.


"Diba tungguin." Teriak abi namun tak di hiraukan oleh adiba.


Dia langsung melajukan mobilnya tanpa memperdulikan panggilan abi yang terus berteriak memanggilnya.


Karena setiap berangkat ke kampus adiba pasti menjemput rina terlebih dulu, setiap harinya mereka selalu berangkat bersama.


"Morning bestie." Rina membuka pintu mobil dan memasukinya.


"Iya bestie, aku greget tau rin." Adiba kembali melajukan mobilnya menuju kampus.


"Yaelah tinggal di asah aja kali bestie."


"Asah apaan emang pisau pakek di asah."


" Ingat kak leo aja waktu tampil pasti bikin full semangat hehe." Ledek rina yang membuat adiba jadi bersemu.


"Apaan sih rin."


"Tapi kayak ada yang kurang deh apa ya." Rina terlihat berpikir.


"Ekehm kak abi kali yang kurang ahahahah." Adiba membalas ledekan rina.


"Amit amit jabang bayi." Rina menoyor kepala adiba dengan kesal.

__ADS_1


Tanpa terasa mobil yang di kendarai adiba telah memasuki parkiran kampus, mereka segera turun dan menuju aula kampus. Saat di perjalanan ke aula adiba di sapa oleh seorang maha siswa yang di ketahui merupakan kakak tingkat kelas mereka.


"Hai ketemu lagi kita."


"Eh iya kak." Adiba kaget melihat kedatangan Glenn.


"Hai kak glen selamat pagi, boleh minggir gak tanpakak soalnya kita buru buru hehe." Ujar rina bada basi yang membuat glen menggaruk tengkuknya.


"Maaf ya kak kita sedang buru buru karena di tungguin sama kak leo." Adiba dan rina kembali meneruskan jalannya tanpa menghiraukan glen yang terlihat kebingungan.


Ruangan yang di pakai untuk di selenggarakan kontes sudah di rias dan di dekor sebagus mungkin. Adiba semakin deg degan saat melihat ruangan tersebut,sebentar lagi dia akan tampil di depan sana sebagai peserta.


"Liatin apa hm bawa santai aja rileks." Leo berbisik di telinganya adiba hingga membuat adiba merinding dan menoleh ke belakang.


"Astagfirullah kak Kirain siapa." Adiba memegang jantungnya yang berdetak tak karuan.


"Yuk ke ruang seni kita latihan sebentar sebelum kontes di mulai." Adiba mengangguk dan mengekor dari belakang leo.


Lima menit setelah mereka latihan di dalam ruang seni, pentas pun di mulai dan MC mulai mengisi acara tersebut.


"Aduh kak aku gugup gimana ini." Adiba mondar-mandir di belakang panggung leo sampai pusing melihatnya.


"Liat sini." Sontak adiba melihat ke arah leo yang semakin membuatnya tak karuan karena mereka saling bertatapan.


"Tarik nafas hembuskan tarik lagi hembus. Optimistis aja jangan gugup, mau aku temanin." Leo menawarkan dirinya.


"Nanti kakak ngapain disana."


"Kita kolaborasi kamu yang gesekin biola nyanyinya kita berdua gimana." Tawar leo sambil menaik turunkan alisnya.


Adiba tampak mencerna ide dari leo, dirasa tak ada salahnya jika mereka kolaborasi pasti akan lebih indah dan mengesankan.


"Ide bagus kak, diba setuju aja pasti kalian akan sangat cocok." Tiba terlihat sangat antusias mendengar ajakan leo.


"Oke deh, jadi sekarang gimana kak. 5 menitan lagi aku yang tampil."


"Aku ke si beno dulu biar dia reschedule punya aku." Leo pun menemui MC supaya menukar nomor antriannya dan menggabungkannya bersama adiba.


"Lo serius yo bakal duet sama tu bocah." Beno memastikan.


"Udah ko ngikut aja apa yang gue bilang." Beno pun hanya menuruti apa yang leo sampaikan.


Leo kembali bergabung bersama adiba dan juga rina, dia mulai membahas lagu apa yang akan mereka janjikan dan part mana saja yang akan menjadi tukaran nya.


"Gimana guys untuk penampilan yang tadi pasti seru dong hehe, okey untuk yang sekarang pasti kalian akan di buat baper oleh pasangan ini. Kita sambut duelnya ketua BEM kita bersama adik kelasnya, Leo dan adiba beri tepuk tangannya."


Prok prok prok prok Ruangan aula mulai terdengar riuh dengan suara tepuk tangan para penonton dan juga peserta yang berada di belakang panggung.

__ADS_1


Adiba dan leo mulai menaiki panggung dan mengambil posisi mereka Masing-masing, banyak dari penonton maha siswi yang histeris melihat leo bersama adiba.


#Bersambung


__ADS_2