Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Alhamdulillah


__ADS_3

Begitu waktu dhuha ustad ali mengumpulkan seluruh santri dan juga santriwatinya di mesjid, dia tidak berhenti untuk tersenyum. Leo juga sudah berpakaian dengan rapi dan berdiri di samping ustad ali, jantungnya terasa tidak karuan antara gelisah dan juga gugup. Namun hati kecilnya seperti tidak sabaran untuk segera menuju mesjid, dia berusaha untuk tetap tenang.


Mesjid sudah penuh dengan kehadiran para santriwan dan juga santriwatinya ustad ali, mereka duduk secara terpisah karena perempuan dan juga laki-laki tidak di bolehkan duduk bersamaan. Hanya ada kain yang menjadi pembatas buat mereka, dan mereka bisa sama sama menyaksikan ustad ali yang sedang berdiri di hadapan mereka semua.


Leo masih berada di luar karena ustad ali akan memberikan ceramah singkat terlebih dulu sebelum memasuki acaranya. Dengan senyum merekah ustad ali mengucapkan puji syukur dan sedikit berpidato singkat di hadapan mereka semua. Dan tanpa memperpanjang ceramahnya dia segera memanggil leo agar memasuki mesjid.


Dengan hati yang mantap leo memasuki mesjid dia berjalan dengan tegap dan juga tegas. Santriwati pada berbisik bisik melihat pemuda tampan yang berjalan melewati mereka semua. Leo berdiri di Sampingnya ustad ali dengan wajah menghadap ke depan, terlihat jelas wajahnya yang tegas dan berwibawa. Namun dia sama sekali tidak tersenyum karena memang sejatinya leo adalah pria yang sangat dingin terhadap lingkungan barunya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ustad ali kembali memberikan salam.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Ustad ali mulai memperkenalkan leo dan menjelaskan semuanya kepada seluruh santri dan juga santriwatinya. Mereka semua tampak takjub sekaligus kagum terhadap leo, ustad ali kembali memberi arahan untuknya diapun mengikuti semua arahan dari beliau.


Beliau juga terkejut ternyata leo melafalkan syahadat dengan sangat fasih dan juga benar, seluruh santri, santriwati dan juga para ustad dan ustazah yang menyaksikan, mereka semua bershalawat bersama karena hari ini adalah hari kebahagiaan seluruh umat muslim. Mereka telah kedatangan seorang muallaf yang dengan ikhlas telah memeluk agama IsIam tanpa terpaksa ataupun paksaan.

__ADS_1


Tak jauh dari mereka semua, ternyata adiba meneteskan air matanya bukan karena terharu melainkan dia sedih karena merasa telah di bohongi oleh kekasihnya. Siang tadi adiba berencana ingin melaksanakan shalat zuhur nya di mesjid tersebut, namun hal yang terduga dilihat nya hari ini.


Adiba pergi dari sana sambil menangis dia pergi membawa rasa kecewanya, leo tidak menyadari jika adiba menyaksikan semuanya. Setelah bimbingannya selesai leo meminta izin untuk membacakan beberapa ayat alquran.


"Ustad apakah saya boleh menyentuh alquran, saya ingin membacakan beberapa ayat." Ustad ali mengangguk.


Leo mengambil sebuah alquran yang terletak di mimbar, semua santri dan santriwati pada heboh melihat leo dengan beraninya mengambil alquran dan ingin mengaji. Beberapa dari mereka juga ragu apakah leo akan bisa menegerti dengan tulisan Arab tersebut, hanya waktu yang akan menjawabnya.


"Anak muda bacakan di mimbar saja." Titah ustad ali yang di angguki leo.


"Saya juga ngerti pasti kalian bertanya-tanya kenapa seorang muallaf yang baru saja memeluk islam, tapi dengan fasih nya mengucapkan syahadat, basmallah dan lainnya. Perlu kalian ketahui sudah lama saya mencari tau tentang islam dan seluruh ajarannya, Alhamdulillah sebelum saya tiada akhirnya niat hati saya tersampaikan."


"Bolehkah saya mengaji." Tanya leo kepada seluruh penghuni mesjid yang sedang menyaksikannya.


"Boleh." Jawab mereka serentak.

__ADS_1


Dia pun mulai membuka alquran dan membacakan basmallah, dengan sekali tarikan nafas leo mulai membacakan basmallah dengan suara yang begitu merdu hingga membuat mereka semua merinding. Ternyata leo memiliki suara yang begitu sangat merdu, mereka semua tercengang mendengar suara leo yang begitu merdu dan membuat mereka bergetar karena menangis.


Hingga lantunan terakhir akhirnya leo menutup bacaannya, dilihatnya jam ternyata jam hampir memasuki waktu zuhur. Leo kembali meminta izin untuk menjadi muazzin yang pertama kalinya, dengan senang hati ustad ali mengizinkan.


Dia kembali mengambil air wudhu dan berjalan ke mimbar, dan lagi suara azan yang di kumandangkan leo membuat mereka semua terkagum-kagum dan tidak berhenti memujinya.


"Masha Allah zurina, ternyata pemuda itu mempunyai suara yang sangat merdu." Puji temannya zurina.


"Iya bukan hanya wajahnya saja yang tampan, ternyata suaranya juga sama bagusnya hihi."


Mereka sangat mengagumi seorang leo, walaupun muallaf ternyata santri yang disini bisa di kalahkan olehnya. Zurina juga tidak memalingkan wajahnya dari leo, jujur dia sangat mengagumi pemuda tersebut.


Adiba masih terisak mengingat kekasihnya yang tega telah membohongi dirinya, tanpa di sangka ternyata leo adalah seorang Kristiani dulunya, walaupun sekarang dia telah sah menjadi seorang muslim. Namun adiba masih sakit hati karena merasa telah di bohongin, apakah perasaan yang di miliki leo untuknya juga palsu.


"Kenapa kamu tega berbohong by hiks hiks, kenapa kamu gak bilang dari dulu hiks hiks aku kecewa sama kamu." Adiba memesan taksi online dan langsung pulang kerumah dengan perasaan kecewanya.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2