
Tanpa terasa perjalanan yang begitu lama kini membuahkan hasil yang maksimal, leo mendapatkan gelar mahasiswa terbaik di tahun ini. Kedua orang tuanya juga sangat bangga terhadapnya, mereka turut hadir menyertai anaknya.
Namun satu hal yang membuatnya sedih, yaitu kehadiran adiba sangat kekasih. Adiba hanya bisa menyaksikan dari kejauhan saja dengan sebuah senyuman bahagianya.
Semenjak mereka memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing, kini jarak keduanya sudah tidak terlalu dekat. Apalagi leo, dia selalu di mata matai oleh orang suruhan orang tuanya.
Sesekali mereka hanya bisa bertukar kabar melaui ponsel, tidak ada kata benci untuk keduanya. Yang ada mereka sama-sama tersiksa dengan keadaan namun karena rasa cinta yang begitu besar mampu membuat keduanya untuk tetap bertahan.
"Diba kamu gak papa disini aja."
"Gak papa kok rin, aku senang akhirnya leo kembali di Terima sama keluarganya." Rina hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Aku salut sama hubungan kalian, semoga kalian cepat di persatukan ya."
"Amin."
"Yuk kita balik." Rina mengangguk dan mereka menuju parkiran untuk mengambil mobil.
"DIBA TUNGGU." Terlihat leo yang tergopoh gopoh berlari mengejar adiba.
"Huh hah huh hah. . . Dirinya ngos-ngosan karena lelah berlarian."
"Bby kamu kenapa." Adiba mendekati leo dengan khawatir.
Tanpa menjawab pertanyaan dari kekasihnya, leo masih betah menatap betapa indahnya wajah sangat kekasih.
"Aku kangen." Adiba menanggapi dengan senyuman seperti biasanya.
"Aku juga, jangan lama lama bby. Nanti kamu di cariin aku juga mau pulang."
"Sayang nanti malam temuin aku di tempat biasa, ajak rina juga untuk menemani kamu."
"InsyaAllah bby, aku usahain. Kamu balik gih sebelum ada yang liat."
Selepas kepergian leo, mereka juga memasuki mobil dan menuju jalan pulang. Rina bisa melihat jika adiba sedang tidak baik-baik saja, dia juga merasa kasihan pada sahabatnya.
"Are you okey." Adiba menoleh kearah rina dan tersenyum.
__ADS_1
"Iam okey." Ucapnya lemah.
"Kamu sanggup diba, apa hubungan kalian masih bisa di teruskan. Maaf bukan maksud aku begitu tapi kamu kan tau sendiri gimana."
"Insya Allah rin. Leo juga cinta pertama aku dan semoga dia juga bisa menjadi cinta terakhir ku."
"Semoga diba, aku do'ain yang terbaik buat kalian."
"Makasih rin."
*
*
*
Leo dan keluarganya juga sudah menuju jalan pulang, namun yang membuat leo heran papanya tidak memasuki komplek perumahan nya. Mobil yang mereka naiki malah menuju jalan bandara, hatinya menjadi tak tenang dan gelisah.
"Pa, apa kita salah jalan."
Deg. . .
Badannya menjadi panas dan hatinya terasa sangat gelisah dan tidak tenang. Leo tidak bisa berbuat apa-apa, jantungnya juga berdetak sangat cepat.
"Bukankah kita berangkat besok."
"Iya, hanya saja papa sengaja akan sangat lama jika kita menunda sampai besok."
Leo melihat ke arah mamanya dengan mata yang memerah karena menahan tangis, sebenci itukah mereka terhadap kekasihnya. Dia kembali menetralkan perasaannya yang tidak karuan karena kejadian mengejutkan ini.
"Maafkan aku sayang, bukannya aku mengingkari perjanjian kita. Tapi keadaan yang memaksa ku untuk pergi."
"Mana ponsel kamu." Leo kembali terkejut dengan permintaan papanya.
"Buat apa."
"Jangan banyak tanya, sini kan ponsel mu." Dengan pasrah dia terpaksa menuruti papanya.
__ADS_1
Papanya mengambil sim card dari ponselnya dan membuangnya. Leo melotot tak percaya dengan tindakan yang keterlaluan dari papanya.
"Papa kenapa sih pa, kenapa harus di buang."
"Nanti kamu juga akan ganti kan. Duduk aja kita mau sampai kamu jangan banyak bertingkah."
Hancur sudah kini hidupnya papanya benar-benar kelewatan, hingga ponselnya saja harus di sita. Apa sebegitu hinanya adiba di mata mereka semua, dia tidak habis pikir jika mereka sangat egois.
Tak berselang lama kini mereka kembali menaiki pesawat, habis sudah harapannya. Entah akan seperti apa pemikiran adiba terhadapnya setelah ini.
Pesawat mulai take off meninggalkan ibu kota Jakarta, tinggallah kenangan indah yang pernah dia lalui saat masih bersama kekasihnya. Pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, leo termenung dan tidak banyak berkata.
Malam tiba adiba sedang bersiap untuk menemui kekasihku di tempat yang telah mereka janjikan.
Tiba disana dia dan juga rina masih menunggu, namun belum juga terlihat adanya leo disana.
"Coba kaku hubungi ponselnya."
Adiba mengikuti sarannya rina, namun sudah beberapa kali di hubungi nomornya masih tidak aktif.
"Masih gak aktif rin." Adiba terlihat gelisah dan khawatir.
"Tenang diba jangan panik oke, mungkin aja batrenya habis. Kita tunggu aja sampek jam 10, kalau leo masih belum bisa di hubungi baru kita pulang."
"Iya rin."
Namun jam hampir menunjukkan pukul 11 malam leo masih belum hadir. Adiba semakin cemas dan khawatir apakah pertemuan malam ini ada kaitannya dengan ketidak hadir anak leo.
"Kita pulang aja rin, percuma juga kita nunggu mungkin leo lagi sibuk." Rina dapat melihat raut kecewa di wajah sahabatnya.
"Iya diba, kamu sabar mungkin leo sedang ada masalah."
"Iya aku ngerti kok."
"Apa aku harus berhenti berharap bby, apa kamu tidak punya waktu untuk menghubungi ku."
#Bersambung
__ADS_1