Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir

Terhalang Perbedaan Disatukan Oleh Takdir
Mencoba Menghindar


__ADS_3

Keesokan harinya adiba berangkat ke kampus seperti biasanya namun kali ini dengan hati yang hampa. Dia masih belum bisa melupakan leo walaupun dia sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Hatinya paling tidak bisa menerima sebuah kebohongan, karena rasa cintanya untuk leo bukanlah sekedar rasa suka dan mengagumi.


Dia benar-benar sangat menginginkan leo menjadi partnernya hidupnya. Adiba sangat merindukan moment yang selalu membuatnya dapat tersenyum saat bersama leo. Dia bukan hanya sebatas pacar namun juga sebagai kakak dan juga guru baginya. Leo berbagi banyak hal untuk adiba, dia selalu bisa memberi motivasi terbaik untuknya.


Bahkan dia sangat bisa menasehatinya dengan kata kata yang bijak dan lemah lembut. Namun yang membuatnya hancur saat ini adalah karena ternyata leo bukanlah seorang muslim saat pertama kali menjalin sebuah hubungan dengannya. Untuk apa dia membohonginya apa keuntungan buatnya, apakah leo mendekatinya karena ada maksud tersendiri.


Segala pikiran buruk berkecamuk dalam pikirannya. Dia tidak bisa berpikir dengan baik karena hatinya masih belum bisa menerima semua ini. Rina yang sedang memperhatian adiba jadi bingung sendiri, tidak biasanya dia jadi pendiam begini.


"Eh bestie kamu kenapa sih. Perasaan dari kemaren diam mulu emang ada apa sih, lagi berantem ya ma leo." Rina tidak tahan jika tidak langsung bertanya.


"Satu satu kali rin. Udah kosong belum kita ke taman bentar yuk ada yang mau aku ceritain." Rina melihat jadwal kelas terlebih dulu sebelum menerima ajakan adiba.


"Oke kebetulan kita free." Mereka berdua menuju taman belakang kampus supaya bisa leluasa untuk bercerita.


Sesampainya di sana kebetulan sedang sepi dan mereka bisa duduk dengan tenang. Adiba mulai menceritakan semuanya kepada rina sambil menahan tangis. Rina juga tidak menyangka jika leo adalah seorang Kristiani.


"Kamu serius." Adiba mengangguk lemah.


"Hiks hiks aku harus gimana rin." Rina tampak berpikir.


"Kecewa sih iya diba. Tapi kamu udah tanya belum apa alasannya leo melakukan semua ini." Adiba menggeleng sehingga membuat rina menghela nafas pelan.


"Diba dengerin ya bestie. Kalau bisa kamu jangan langsung memvonis leo begitu, karena apa yang kamu pikirkan itu belum tentu benar dengan fakta yang sebenarnya." Adiba masih menangis dan terus mendegar kan penjelasan rina.


"Aku juga gak nyangka kalau leo non muslim. Karena dia juga sangat paham tentang ajaran kita, bahkan dia juga sering mengikuti seminar di jurusan keagamaan. Mungkin dia juga sedang mencari jati dirinya, kita kan gak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi."

__ADS_1


"Tapi kan dia bisa jujur sama aku rin, enggak seharusnya dia berbohong begini."


"Kalau misalkan dia jujur kamu bakal mau gak nerima dia." Adiba terdiam karena tidak bisa menjawab.


"Makanya bestie dia tidak mau kehilangan kamu. Lagian sekarang dia udah muslim masak kamu malah mojokin dia dengan kata kata putus sih. Aku aja senang dengarnya kasian tau leonya."


"Hiks hiks aku bingung rin. Aku gak Terima aja kalau dia bohong begitu, aku harus apa dong rin."


"Kamu masih sayang gak sama dia." Goda rina yang mendapat anggukan dari adiba. Dia pun memutar malas bola matanya.


"Dasar kamu. Yaudah ajak ketemu dulu baru bisa di bicarakan baik baik, ingat jangan egois."


"Makasih rin kamu memang best buat aku. Nanti aku pikirin dulu, jujur ya aku belum siap untuk ketemu dia."


"Iya semuanya pasti butuh waktu." Adiba tersenyum dan memeluk rina.


Karena suasana taman yang semakin terik, mereka memilih untuk pergi ke kantin. Adiba juga sangat ingin memakan seblak buatan buk kantin. Baru saja ingin duduk tak sengaja dia melihat leo yang juga sedang menatap ke arahnya, adiba merasa sedikit gugup dan juga salah tingkah.


"Rin balik aja yuk aku gak jadi lapar." Adiba membuang pandangannya ke arah lain.


"Apa sih bestie. Aku laper diba sayang kamu ini gak jelas, tadi ngajakin makan lah sekarang ngajak pulang." Cibir rina bingung.


"Kita pesan aja terus makan di kelas." Adiba menarik lengan rina dan membawanya pergi.


"Buk nitip seblak 2 ya antar ke kelas." Setelah memesan mereka berdua kembali ke kelas.

__ADS_1


Leo yang melihat adiba pergi merasa sedih. Apa sebegitu kecewanya dia sehingga memilih menjauh setelah melihat kehadirannya. Leo menyugar kasar rambutnya dia tidak menyangka jika adiba akan sekecewa ini terhadapnya.


"Yo kenapa lo. Oiya akhir akhir ini lo udah jarang ngumpul ama kita kemana sih lo." Ujar reno.


"Gue sibuk."


"Yaelah sibuk apa sih emangnya. Pokoknya entar malam lo harus dateng ya si Elsa ngadain party."


"Gak janji." Leo bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan teman temannya.


Mereka merasa heran melihat perubahan sikap leo yang sekarang. Tidak biasanya leo makin sedingin ini saat ngumpul sama mereka.


"Kalian ngerasa ada yang aneh gak sih." Tanya reno pada teman temannya.


"Iya ren kayaknya leo agak beda. Kemaren pas gue ke rumahnya kata si mbok leo udah gak tinggal di sana." Jelas romi.


"Iya sama. Kata mamanya juga gitu pas gue nanyain dia tinggal di mana malah mereka gak jawab."


Mereka semakin penasaran sama leo mereka menduga pasti ada sesuatu yang sedang di sembunyikan olehnya.


"Nanti lah kita cari tau. Balik ke kelas yuk mungkin leo udah di sana."


Suasana taman yang sangat sepi mewakili perasaannya yang juga terasa sangat sepi tanpa kehadiran adiba. Dia menatap langit yang tampak sangat cerah di siang hari ini. Leo ingin mengirimkan pesan untuk adiba namun dia segan dan takut bila adiba akan semakin marah padanya.


"Hufft semoga kamu mengerti dan mengajakku untuk bicara sayang. Kamu adalah motivasi terbesar dalam hidupku sayang." Leo berbicara sambil mengusap foto milik adiba yang ia jadikan sebagai wallpaper di ponselnya.

__ADS_1


**Jangan lupa selalu tinggalin jejak ya readers tersayang 🥰🥰🥰


#Bersambung**


__ADS_2