
Eros mengernyitkan kening ketika Selena menyambut kepulangannya dengan gaun hitam dan polesan make up cukup tebal. Terlebih, eskpresi wanita itu terlihat lebih tenang dari yang terakhir kali ia lihat.
"Kau mau kemana?" tanya Eros ketika Selena melewatinya saat menaiki tangga.
"Pergi makan malam."
Tangan Eros bergerak lebih cepat, ia mencekal sebelah tangan Selena dan memaksa wanita itu berbalik. "Apa katamu?!"
Selena memutar mata sambil melepaskan tangan Eros yang menghujamnya dengan tatapan seolah pria itu akan melahap dirinya saat itu juga. "Aku yakin kau bisa mendengarku dengan jelas."
"Kau tahu bukan itu maksudku."
Selena menghela napas. Pengendalian pria itu benar-benar buruk. Ia masih saja heran, kenapa dulu bisa begitu menggilai Eros?
"Aku ingin makan malam di luar," Selena buang muka, "katamu kau akan mengabulkan semua keinginanku, bukan?"
Ekspresi wajah Eros berubah dengan cepat. "Kau ingin makan malam bersamaku?"
Selena mendecih sambil berbalik. "Aku yakin sekarang, kau benar-benar tuli."
Eros menatap punggung Selena yang terekspos ketika wanita itu berjalan memunggunginya. Ini aneh. Meski Selena sudah tak mendebatnya lagi, tapi situasi ini sangat aneh.
Entah, Eros harus merasa senang atau...yang jelas semuanya terasa aneh.
***
Eros menuruti keinginan Selena. Makan malam mewah dengan ruangan VVIP dan pemandangan malam kota dari ketinggian, ditemani steak yang dipadukan dengan anggur kualitas tinggi. Ada seorang pemain biola yang berdiri tak jauh dari meja. Menambah kesan romantis jika saja Selena dan Eros memiliki perasaan istimewa satu sama lain.
Itu pasti akan menjadi kenangan yang tak terlupakan seumur hidup, khususnya untuk Selena.
"Seharusnya kau menembakku disini, bukan malah pamer di acara reuni yang membosankan itu." Selena memecah keheningan dan melirik Eros yang tengah mengiris steak-nya dengan gerakan elegan.
__ADS_1
"Kau ingin aku mengulanginya disini?"
Selena tertawa hambar. "Tidak perlu."
"Kupikir kau tidak suka hal-hal yang berbau kemewahan."
"Sudah kukatakan, jangan menilaiku seolah kau sangat mengenalku," kata Selena memperingati.
Eros mengangkat kepala dan meliriknya sejenak, "bukankah aneh saat kau tiba-tiba meminta untuk pergi makan malam denganku?"
"Bukankah ini yang kau inginkan?" Selena balas menatap pria itu dengan senyum sinis. "Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang kau berikan padaku."
Semua perkataan Selena adalah sindiran mutlak. Wanita itu belum berubah, hanya berusaha terlihat berbeda. Karena Eros melihat keterpaksaan yang begitu jelas disana.
"Ah!" Selena tiba-tiba menjentikkan jarinya dan tersenyum aneh, "sekadar memberitahu, aku sudah menghancurkan foto terakhirmu bersama mantan kekasihmu yang jadi kakak iparmu sekarang." Selena tak memberikan kesempatan pada Eros untuk menyela. "Akan repot kalau orang tahu bahwa kau masih menyimpan kenangan bersama mantan kekasihmu. Jadi kuharap kau mengerti."
Eros mengerjap. Ia bisa menangkap nada puas dan sedikit amarah disana. Tapi untuk apa? Kecemburuan, kah?
Selena mengunyah dagingnya sambil menanti respon pria itu. Tapi Eros malah terdiam dan sesekali hanya menyesap anggur seolah apa yang dikatakan Selena beberapa saat lalu tidak berpengaruh baginya. Padahal tadi pagi, Eros terlihat sangat murka. Apa mungkin pria itu mempunyai kepribadian ganda?!
"Tidak perlu," sahut Eros tanpa pikir panjang.
Selena dengan cepat mengangkat kepala. "Apa maksudmu? Kita tidak bisa tinggal bersama terlalu lama tanpa ikatan apapun."
"Kita bisa menikah."
Selena tersedak. Ia memukul-mukul sebelah dadanya sambil meraih minuman dan meneguknya dengan rakus. Ucapan pria itu benar-benar... "Berhentilah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal!"
Eros menghela napas pelan. Sejujurnya hari ini ia sangat lelah. Bahkan steak dengan daging kualitas terbaik itupun terasa sangat hambar di lidahnya. Ia sudah kehilangan selera makannya saat ia bertemu dengan Emilia dan menabraknya tadi.
"Kau pikir menikah itu main-main?!" Rahang Selena mengeras. "Hidupmu sepertinya memang hanya untuk main-main saja—"
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau main-main?" Potong Eros dengan nada datarnya. "Bukankah dunia ini juga mempermainkanmu?" Pria itu terkekeh sambil menuntaskan anggurnya dalam sekali tegukan. "Mengapa kau dibiarkan hidup jika hanya untuk ditinggalkan seorang diri di dunia ini? Bukankah itu sangat kejam?"
"Kau mabuk," tuding Selena sambil buang muka.
"Aku tidak," tegas Eros. Ia memanggil pelayan untuk kembali menuang anggur pada gelasnya.
Selena melotot. Ia dengan cepat merebut gelas berisi anggur yang akan di teguk oleh pria itu. "Tidak. Kau harus menyetir."
Eros tak peduli. Ia kembali meraih gelasnya dan meneguknya dengan cepat.
"Hei!"
Eros mendelik setelah Selena berteriak, "kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mabuk."
Selena mendengus sambil kembali mengiris dagingnya dengan kesal. "Terserah!"
***
"Terima kasih, maaf merepotkanmu." Selena membungkuk pelan ke arah pelayan yang baru saja membantunya membopong tubuh Eros yang tiba-tiba ambruk di meja. Pria itu terkulai tak berdaya di samping bangku kemudi. Dan Selena hanya bisa kembali menghela napas, sudah ia duga bahwa Eros bukanlah pria yang bisa dipercaya.
Selena memasuki mobil dan bertugas untuk menjadi supir malam ini. Sebenarnya ia bisa memanfaatkan situasi ini untuk kabur dan kembali ke apartemen. Tapi setelah dipikir-pikir risikonya terlalu besar, Eros bisa saja melukai orang terdekatnya jika ia nekat melakukan semua itu.
"Merepotkan sekali, mengapa aku mau melakukan semua ini untuknya?" Selena tertawa pahit. Ia bergerak ke arah Eros untuk memasangkan sabuk pengaman, namun sebelum tangannya sempat meraih benda itu mata Eros tiba-tiba terbuka.
Selena membeku. Ia terlalu terkejut.
"Hmm?" Eros bergumam tidak jelas, kedua matanya menyipit. Sebelah jarinya bergerak untuk mengelus wajah Selena diantara cahaya temaram di dalam mobil itu. Wajah mereka sangat dekat, sehingga keduanya seolah bisa bertukar napas.
"A-Aku hanya ingin memasangkan sabuk—"
"Ssst." Telunjuk Eros menyentuh bibir Selena hingga kedua belah bibir mungil itu tertutup, melarangnya untuk mengatakan apapun. Kedua mata pria itu sangat sayu dan ini adalah pertama kali Selena melihatnya. "Jangan berkata apapun, jika itu adalah hal yang akan menyakitiku..."
__ADS_1
Kedua bibir itu bertemu. Hangat dan lembut.
"...Emilia."