
“Ayah?”
“Ibu?”
Ruangan itu gelap. Hanya cahaya petir dan kilat yang sesekali menyambar di atas langit memberikan sedikit penerangan untuk menuntun langkah kecilnya.
Ke mana perginya semua orang?
“Ayah?”
“Ibu?”
Suaranya gemetar karena takut. Kaki kecil tak beralas menyentuh lantai marmer yang dingin. Kedua tangan meraba setiap benda yang berada dalam jangkauan, hingga ia menemukan sebuah pintu.
“Ibu?”
Krieeet.
Pintu terbuka perlahan. Kilat terbentuk di atas langit menyusul suara gemuruh yang menakutkan.
Anak itu menjerit sambil menutup kedua telinganya.
Air mata bercucuran menatap kedua mayat yang tergantung di hadapannya dengan mata terbuka.
**
Saat itu Selena sedang duduk di balkon kamar sambil menikmati sepotong kue ketika seorang pelayan memberi kabar bahwa Emilia berkunjung ke rumah.
“Ingin bertemu denganku?” tanya Selena bingung.
Pelayan itu mengangguk.
“Dia sendirian?”
“Ya, Nyonya.”
Selena mengerjap. Apakah Emilia hanya merasa kesepian? Dan aneh sekali ketika wanita itu berkunjung tanpa Nyonya William. Meski begitu, tamu adalah raja. Selena tidak mungkin mengusir wanita itu, kan? Apalagi dia sedang hamil—sama sepertinya.
“Suruh dia masuk.”
Pelayan itu dengan cepat undur diri, tak beberapa lama kemudian, Emilia masuk ke dalam kamar dengan langkah yang nyaris tak terdengar.
Klek.
Pintu dikunci dengan rapat.
Selena belum menyadari kehadiran wanita itu dan tetap santai mengunyah potongan kuenya sambil menatap langit yang begitu cerah.
“Kena kau.”
**
BRAK!
__ADS_1
“Apa maksud perkataan Anda?!”
Eros dan Orlando menoleh ke arah pria yang baru saja masuk dan nyaris menghancurkan pintu.
“Apa benar Tuan Alex masih hidup?!” Andreas melotot. “Jawab saya!” Ia melirik Eros dengan nyalang. “Jawab saya Tuan!” katanya sambil mengguncang tubuh pria itu.
Eros menepisnya dengan cepat. “Itu bukan urusanmu,” jawabnya tak acuh.
Andreas tertawa kering. “BAGAIMANA MUNGKIN ITU TIDAK MENJADI URUSAN SAYA?!”
“Kau tidak tahu apa-apa,” sahut Eros sambil berbalik. “Alex sudah mati. Kau lihat sendiri kuburannya, kan?”
Orlando menghela napas pelan sambil menutup matanya. Sebenarnya ia tidak ingin terlibat apa pun. Tapi memalsukan kematian seseorang termasuk ke dalam kejahatan dan Eros bisa saja dikenai hukuman penjara. Orlando yakin pria yang terbaring di salah satu rumah sakit di Singapore itu adalah Alex—meski wajah pria itu nyaris tak bisa dikenali karena bekas luka dari kecelakaannya.
Andreas menelan ludah. “Lalu apa yang dikatakan Tuan Orland—“
“Kau bekerja di sini bukan untuk menguping,” sela Eros cepat. “Sadarlah di mana posisimu berada.” Nadanya penuh dengan peringatan.
Andreas terbelalak. Ya. Eros bisa menendangnya kapan saja dari perusahaan ini. Satu lagi kalimat keluar dari mulutnya mengenai Alex, hari ini juga Andreas pasti akan pulang lebih cepat.
“Kembali ke ruanganmu dan anggap kau tak pernah mendengar apa pun.”
Andreas mengatur napasnya. Pria itu menutup matanya sejenak sebelum membungkuk pelan. “Maaf atas kelancangan saya.” Ia berbalik dan langsung meninggalkan ruangan setelah itu.
Eros kembali berbalik dan menatap Orlando yang melemparkan tatapan datar padanya. “Kurasa kau tak ingin terlibat masalah apa pun denganku, bukan begitu?”
Orlando mengerjap dan memalingkan wajah. “Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan atau apa yang sedang kau tutupi.” Lalu tatapannya berubah serius saat kembali bertemu dengan kedua manik kehitaman milik Eros. “Jangan sampai Selena terluka, atau...”
“Atau?”
Eros sempat tercenung hingga akhirnya terkekeh pelan. “Tidak aku sangka pria sepertimu menyukai istri orang.”
“Selena tidak mencintaimu.” Sejak pertama kali mereka bertemu di pesta, Selena tidak pernah menatap Eros dengan tatapan hangat atau pun kagum. Ekspresi wanita itu lebih terlihat seperti orang tertekan daripada jatuh cinta. Dan Orlando bisa menarik kesimpulan dengan mudah.
Eros mendelik. “Jangan berkata seolah kau telah mengenal Selena begitu lama.”
“Aku pernah—secara tak sengaja—menyelamatkan seorang gadis yang terkurung di gudang sekolah lima tahun lalu, kupikir gadis itu adalah Selena.” Itulah mengapa Orlando pernah bertanya kepada Selena, apakah sebelumnya mereka pernah bertemu atau tidak. Meski berubah drastis, tapi Orlando adalah orang yang sangat jeli.
Eros tertegun.
Dunia memang sempit sekali, ya?
Namun bukan Eros jika pria itu tak mampu mengubah ekspresinya dengan cepat. “Apa pun yang terjadi aku tidak akan melepaskan Selena.” Pria itu maju satu langkah untuk berdiri tepat di hadapan Orlando dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Cukup sampai di sini. Pintu keluarnya ada di sana.”
Orlando tersenyum miring. Dengan santai pria itu berjalan menuju pintu keluar. “Satu yang perlu kau tahu, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.”
**
Eros mengernyit ketika ia melirik mobil dengan nomor plat asing yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya. Memutar kemudi dengan cepat, ia sengaja memberhentikan mobil di depan rumah. Tatapannya langsung tertuju pada kamar Selena.
Perasaannya kalut. Eros tergesa membuka sabuk pengaman dan membanting pintu.
Ia melihat Selena yang sedang duduk di balkon dan menyuapkan sesuatu ke dalam mulut sambil memandang langit.
__ADS_1
Lalu di belakangnya—
“SELENA!”
**
“Nyonya bilang kita tidak boleh mengganggunya.” Kedua pelayan itu saling berbisik. Salah satunya tampak ingin mengetuk pintu namun kembali mengurungkan niatnya.
“Tapi Nyonya sudah terlalu lama berada di kamar,” pelayan yang tidak jadi mengetuk pintu itu menyahut. “Nyonya bahkan melewatkan makan siang dan kali ini Nyonya tidak boleh melewatkan makan malamnya.”
Pelayan yang berambut pirang menghela napas. Tampak berpikir sejenak, tapi pada akhirnya hanya mengangguk pasrah.
“Baiklah, kalau begitu ketuklah pintunya.”
Pelayan berambut hitam langsung mengetuk pintu tanpa ragu. “Nyonya? Mohon maaf atas kelancangan saya, tapi Anda tidak boleh melewatkan makan malam.”
Hening.
“Nyonya?”
Kedua pelayan itu saling berpandangan.
“Nyonya?”
Keduanya mendadak panik. “Panggil Tuan Arthur cepat!”
Si pelayan berambut pirang tunggang langgang mencari pria 'berkepala' tiga yang menjadi kepercayaan Nyonya William.
“Nyonya!”
Pintu terus diketuk dengan brutal.
“Nyonya!”
“Ada apa?” Arthur datang dengan napas terengah.
Pelayan itu berbalik dengan wajah panik. “Nyonya...dia—“
Arthur dengan sigap memasukkan kunci dan mendobrak pintu.
Kedua pelayan wanita di belakangnya tampak langsung menutup mulut dengan mata terbelalak saat memasuki kamar itu.
“Oh Tuhan...”
Arthur terbelalak. Pria itu langsung menghampiri Nyonya William yang tergeletak di bawah tempat tidur dengan mulut berbusa. Lalu matanya melirik pil yang berserakan di sekitar tubuhnya.
Tidak mungkin.
Nyonya William tidak mungkin mengakhiri hidupnya sendiri.
"Cepat hubungi dokter!" kata Arthur sambil mencoba menyentuh denyut nadi wanita itu.
Tidak berdenyut. Nadinya tidak berdenyut sama sekali.
__ADS_1
"Nyonya!" Ia menepuk-nepuk kedua pipi wanita itu dalam kegelisahannya yang semakin menjadi. "Nyonya! Saya mohon!" Arthur terduduk di samping tubuh wanita itu dengan kaki yang mendadak lemas.
Ketika pelayan kembali, pria itu berkata dengan suara lirih, "Nyonya William sudah tidak ada."