
“Hmm?” Selena beranjak dari kursi dan menghampiri Eros. “Bunga dari siapa?”
Mawar-mawar itu tampak merah dan segar, aromanya juga harum. Meski sebenarnya Selena tidak terlalu menyukai mawar karena duri-durinya yang merepotkan. Tapi bagi Eros, yang merepotkan baginya adalah arti dari bunga mawar itu sendiri. Bunga mawar merah melambangkan cinta. Dan Orlando secara terang-terangan mengirimkan bunga itu kepada seorang wanita yang telah bersuami.
Sebelum Selena berhasil merebut buket mawar itu, Eros dengan cepat berbalik dan berjalan ke arah tong sampah, mengabaikan sang wanita yang menatap bingung ke arahnya.
Selena melebarkan matanya saat melihat Eros membuang bunga mawar itu ke dalam tong sampah dan menepuk kedua tangannya setelah itu.
“Bukan dari siapa-siapa,” kata Eros sambil melengos. Pria itu menaiki tangga dengan tenang dan sesekali melirik ke arah Selena yang sedang berdiri di dekat tong sampah.
“Dasar pria itu, kenapa harus dibuang?“
Telinga Eros memang tajam. Pria itu mengentakkan kakinya saat mendengar ucapan Selena—membuat wanita itu menoleh ke arahnya dengan kening mengernyit.
“Dia sedang PMS, ya?” katanya sedikit kesal.
**
Tak.
Tak.
Tak.
Ketukan sepatu hak tinggi itu membuat siapa pun menoleh ke arah sumber suara. Orang-orang yang berlalu lalang itu terpaku, terpesona dengan senyum ramah yang tertuju pada mereka.
“Siapa dia?”
“Aku tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.”
“Mungkin kolega bisnis Tuan Steve.”
Bisikan-bisikan terdengar di sepanjang lorong menuju satu ruangan yang begitu privat di kantor itu.
“Hn. Semoga liburanmu menyenangkan.”
__ADS_1
Wanita itu tersenyum simpul sambil mengintip sosok Steve yang tengah menelepon seseorang sambil membaca sebuah lembaran kertas dan sesekali mencoret benda itu dengan pena.
Ia memelankan langkahnya, menyelinap bagaikan kucing.
Steve memutuskan sambungan teleponnya dan belum menyadari sosok wanita yang tengah berdiri di depan pintu. Namun ketika ia tak sengaja mengangkat kepala, pria itu tampak sangat terkejut, sampai-sampai pena yang dipegangnya jatuh ke lantai.
“K-kau...”
Wanita itu tersenyum lebar sambil menghampiri Steve dengan langkah anggun. “Hai, Steve. Lama tak bertemu.”
**
Selena menghela napas pelan. Ia benar-benar bosan setengah mati. Matanya melirik Eros yang duduk dengan menyilang kaki di depan perapian.
Mereka sedang berada di lantai dua, duduk di sebuah sofa tunggal berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil. Ketika musim dingin tiba, perapian di rumah itu akan selalu menyala. Dan Selena baru tahu bahwa Eros bisa bersantai seperti itu dengan sandal rumah berbahan bulu dan jubah tidur yang belum diganti.
Di tengah-tengah sofa yang mereka tempati, ada sebuah meja bundar berukuran kecil yang diisi dengan dua buah cangkir teh yang hampir dingin. Sementara piring berukuran sedang yang tadi terisi oleh potongan kue kini hanya menyisakan garpu dan sisa-sisa krim cokelat. Tentu saja Selena menghabiskan semuanya sendiri karena sejatinya Eros tak terlalu menyukai makanan manis.
“Benar-benar membosankan...” Selena bergumam pelan sambil melirik jendela. Salju turun semakin lebat dan ia tiba-tiba saja teringat akan danau yang terdapat di belakang rumah itu.
Selena beranjak dari kursi, membuat Eros mengalihkan tatapan dari buku bisnis yang dibacanya kepada sang jelita.
Selena menoleh sebentar. “Ke balkon,” katanya sambil melengos.
Alis Eros terangkat. “Ke balkon? Dengan pakaian seperti itu?”
Tidak ada jawaban karena Selena sudah menghilang dari pandangannya.
Eros menghela napas pelan. Ia menyimpan bukunya dan beranjak dari kursi untuk mengikuti Selena.
Hawa dingin langsung terasa ketika pintu kaca itu terbuka—mengantarkan pada Selena yang berdiri di tepi balkon tanpa terlihat menggigil sedikit pun. Eros berdecap pelan. Dengan langkah tergesa ia berdiri di belakang tubuh Selena dan menyentuh kedua bahunya.
“Kau bisa kedinginan,” katanya dengan nada datar, namun kedua matanya menunjukkan kekhawatiran.
Selena menggeleng cepat. Lalu telunjuknya mengarah pada permukaan danau yang mulai membeku. “Lihat danau itu!” katanya antusias, matanya berbinar karena takjub. “Setiap musim dingin kau selalu melihat pemandangan seperti ini?” Selena mendongak.
__ADS_1
Eros menundukkan kepala, sempat terpaku oleh kedua mata yang seakan berisi jutaan bintang di dalamnya. Pria itu mengerjap pelan, lalu menatap danau yang sudah ada semenjak ia belum dilahirkan.
“Ya. Setiap tahun danau itu akan membeku.” Eros ingat, ia juga akan berdiri di balkon dan menatap danau itu setiap kali musim dingin tiba. Bahkan sesekali ia sempat mencuri kesempatan untuk mencoba memancing di danau tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.
Selena kembali mengalihkan perhatiannya dan berkata, “kau membuatku iri.” Pipinya merona, separuhnya karena hawa dingin, separuhnya lagi karena malu oleh perkataannya barusan.
“Kenapa kau iri untuk hal sepele seperti itu?” Eros menggenggam kedua tangan Selena, membungkus jemari lentiknya ke dalam kepalan tangan besarnya yang hangat.
Selena membalikkan tubuhnya dan menatap Eros dengan tatapan teduh. “Karena yang kau kira sepele itu adalah hal yang terkadang bisa membuatmu tersenyum.”
Eros menatap wanita itu dalam diam, lalu melirik tangannya yang menggenggam tangan Selena dengan erat.
Wanita itu...tak pernah menolak genggaman tangannya lagi.
**
“Jadi akhirnya kau kembali?”
Jasmine William.
Wanita itu pernah hadir dalam kehidupannya, juga dalam lingkup pertemanannya dengan Eros dan Leo. Wanita itu merupakan kerabat jauh Eros yang tiba-tiba saja memutuskan untuk pindah ke luar negeri saat mereka masih begitu muda.
Dulu, wanita itu adalah sosok yang tomboy—tidak seperti sekarang—bahkan Steve tidak yakin bahwa wanita itu tengah mengenakan gaun di balik jaket bulunya dan sepatu hak tinggi.
Jasmine mengangguk pelan sambil menyesap cokelat hangatnya sebentar. “Sebenarnya sudah dua hari yang lalu,” katanya menjawab pertanyaan Steve. “Aku mendengar banyak kabar buruk saat tiba di sini.”
Steve menghela napas pelan, mencoba untuk tak membahas beberapa kejadian yang sempat membuatnya nyaris jantungan akhir-akhir ini. Pria itu memilih untuk mencari topik lain. “Kau tinggal di hotel?”
“Untuk sementara waktu,” Jasmine tersenyum tipis. “Aku berencana membuat kejutan untuk Eros.” Tatapannya sendu, teringat pada Eros kecil yang selalu kesepian. “Dia pasti sangat sedih karena kehilangan Bibi dan Alex.”
Gerakan Steve terhenti ketika pria itu hendak menyesap kopinya. Ia kembali mendongak, “dia sudah punya ‘obat’ untuk rasa sedihnya,” katanya penuh arti.
Jasmine mengernyit sambil memiringkan kepala. “Hmm?”
Steve angkat bahu, lalu menyesap kopinya dan Jasmine menunggunya dengan tatapan sabar. Menghela napas pelan, pria itu kemudian berkata, "kau bilang kau akan memberinya kejutan? Aku bertaruh kau yang akan terkejut nanti." Pria itu meletakkan cangkirnya.
__ADS_1
Jasmine semakin mengernyit. "Aku dengar Emilia sudah menikah bersama Alex..."
Steve tersenyum kecil. Rupanya Jasmine lebih peka dari yang ia kira. "Mungkin saja bukan karena Emilia..."