
Selena menatap hotel mewah itu dengan mulut terbuka. Masih tak percaya bahwa ia sedang menginjakkan kaki di Maldives. Bagaimanapun Maldives adalah tempat wisata yang menjadi impian semua orang, khususnya para pasangan yang ingin berbulan madu. Tapi, ia kesini tentu saja bukan untuk melakukan hal 'itu', melainkan karena paksaan Eros. Padahal pria itu sangat sibuk kemarin, tapi tiba-tiba saja mengajak liburan.
Dan semua itu tentu saja bukan tanpa alasan...
Selena memelankan langkah ketika Alex dan Emilia keluar dari dalam kamar hotel yang terletak disebelah kamarnya. Sekarang ia tahu apa alasan Eros membawanya jauh-jauh ke Maldives, tentu saja untuk mengacaukan bulan madu kedua orang itu.
Alex dan Emilia juga tampak terkejut saat menyadari kehadirannya. Namun, secara tak terduga, Alex menyapanya terlebih dahulu, "hai, Selena."
Selena mengerjap kemudian mengangguk dengan cepat. Eros masih berada di bawah, entah apa yang pria itu lakukan, sehingga Selena harus menghadapi pasangan itu seorang diri.
"Kau...sendiri?" tanya Alex ragu, namun pria itu dengan cepat meralat ucapannya, "maksudku kau kemari untuk berlibur?"
Selena sempat melihat tangan Emilia yang meremas lengan pria itu. "Aku—"
"Dia bersamaku."
Yang ditunggu telah tiba. Suara langkah Eros terdengar begitu nyaring bagi mereka bertiga yang sama-sama merasa sedikit khawatir. Selena khawatir karena Eros bisa saja melakukan hal yang tak diinginkan, sementara Alex dan Emilia khawatir bahwa Eros sengaja merencanakan semua ini untuk mengganggu mereka.
"Kebetulan sekali, senang melihat kalian berada disini, aku harap kalian menikmati liburannya." Alex tahu itu bukan sebuah kebetulan, tapi walau bagaimanapun Eros adalah adiknya. Mereka telah berbagi darah dan marga. Apapun yang sudah terjadi diantara mereka, Alex tak mau menambah masalah dengan memancing Eros yang memiliki perangai begitu buruk. Apalagi ketika ia merasakan cengkeraman Emilia di lengan kirinya.
Selena jelas merasakan atmosfir ketegangan itu, Eros berhenti disampingnya dan merangkul bahunya dengan posesif. "Tentu saja, kami akan bersenang-senang. Karena kalian ada disini, mungkin kita bisa berlibur bersama."
Alex terdiam sebentar, sempat melirik Emilia sebelum menjawab, "kurasa itu bukan ide buruk," ada jeda dalam ucapannya, "jadi kapan kalian akan menikah?"
Selena mengerjap saat Eros semakin merapatkan tubuh mereka sehingga ia bisa merasakan hembusan napas pria itu. "Secepatnya. Selena menginginkan pesta pernikahan yang mewah, sehingga kami membutuhkan sedikit waktu untuk mempersiapkannya."
"Baguslah, aku harap Selena benar-benar menjadi pelabuhan terakhirmu."
__ADS_1
Ekspresi Eros berubah dalam beberapa detik, namun kembali menyeringai sambil mengecup singkat pipi Selena. "Ya, tentu saja."
Selena tertawa dalam hati. Sungguh orang-orang ini pandai sekali bersandiwara dan s*alnya ia juga harus memainkan peran untuk memuluskan skenario yang dirancang Eros. Kenapa mereka tidak jadi aktor saja? Senyuman dan sapaan ramah itu benar-benar membuat Selena merasa lelah sendiri. Seingatnya, Emilia juga bukanlah wanita yang pendiam. Dulu wanita itu adalah primadona sekolah yang juga sempat menjadi panutannya. Cantik, ceria, cerdas, kaya, semuanya ia miliki. Bahkan kedua kakak-beradik William pun tak sanggup menolak pesonanya.
Lalu Selena? Ia hanyalah wanita miskin, tidak menarik, tidak mempunyai keluarga dan tidak ceria seperti Emilia. Terkadang dunia memang tidak adil, tapi sekarang Selena mengerti, dunia memang tidak pernah memihak pada siapapun. Sesempurna apapun Emilia atau bahkan Eros, masalah akan selalu ada.
Memikirkan semua hal itu membuat Selena tak menyadari bahwa Alex dan Emilia telah meninggalkan mereka. Rangkulan Eros terlepas dari bahunya dan pria itu kembali memasang wajah datarnya.
"Menguntit bulan madu kakakmu sendiri, sungguh tindakan yang sangat terpuji." Emilia menarik kopernya dan menempelkan kartu untuk membuka pintu kamar hotel, sementara kamar Eros sendiri terletak disamping kamarnya.
Eros mengangkat bahu tak acuh. "Itulah kegunaanmu disini, untuk menemaniku menguntit mereka."
Selena mendelik. "Dasar psikopat," katanya sambil memasuki kamar dan menutup pintu dengan keras.
Eros terkekeh. Sebelum memasuki kamar, ia sempat melirik kamar Alex dan Emilia sekali lagi.
***
Eros mengekor dibelakang dengan kemeja pantai dan celana putih selutut. Mata elangnya tersembunyi dibalik kacamata hitam yang bertengger indah di hidungnya yang mancung. Seandainya pria itu adalah Eros dengan temperamen yang tidak begitu buruk, Selena pasti sudah jatuh cinta padanya. Lagi.
Tapi tidak ada kata 'seandainya', karena pada kenyataannya cinta tidak pernah memandang seberapa buruk atau baik karakter seseorang, seperti Selena jatuh cinta pada pria itu beberapa tahun lalu.
"Kekanakan sekali," komentar Eros ketika melihat Selena yang melempar kedua sepatunya dan bertelanjang kaki. Mengejar ombak kemudian berlari saat ombak itu kembali ke tepian. Tapi anehnya ia tersenyum tanpa disadari, meskipun itu hanya sebuah lengkungan tipis.
Melihat Selena tenggelam dalam dunianya sendiri, Eros memilih untuk berjalan-jalan disekitar pantai yang tidak begitu ramai. Kawasan itu memang menyatu dengan hotel yang mereka tempati, jadi tidak sembarang orang bisa masuk.
"Eros! Eros!" Sayup-sayup suara Selena terdengar. "Eros!"
__ADS_1
Saat suaranya terdengar cukup jelas, Eros berbalik. Dahinya mengernyit ketika melihat Selena yang lari tunggang langgang ke arahnya.
"Eros!" Wajah wanita itu panik. "D-Disana!" Telunjuknya mengarah pada suatu tempat.
"Apa?"
"Ada seseorang yang tenggelam!"
Ingin bersikap tidak peduli, namun Selena sudah menarik tangannya terlebih dulu.
***
"Ya, aku mengerti." Alex menghela napas pelan. Panggilan kerja disaat bulan madu memang terasa menjengkelkan, tapi ia tidak bisa mengabaikan hal itu karena ribuan orang bekerja dibawah namanya.
Saat Alex kembali ke tepi pantai, ia tak menemukan Emilia disana. Namun kerumunan orang yang berkumpul tak jauh dari tempatnya membuat Alex panik.
"Permisi, apa yang—" Alex bungkam saat wanita yang menoleh itu adalah Selena. Dan lebih terkejut lagi saat menyaksikan Eros sedang memberi nafas buatan untuk Emilia. "Tidak..." Ia dengan cepat membungkuk, mencoba merebut Emilia dari pangkuan adiknya. "Apa yang kau lakukan?!"
Eros tak berkata apapun. Keadaannya benar-benar kacau. Seluruh tubuhnya basah kuyup tanpa terkecuali. Ia hanya melayangkan tatapan datarnya ketika Alex membopong tubuh Emilia menuju hotel.
Selena menahan sebelah tangan Eros ketika pria itu berjalan melewati tubuhnya. "Seandainya itu bukanlah Emilia, apa kau tetap akan menyelamatkannya?"
Eros melepaskan genggaman tangannya dan bergumam, "kau yang memaksaku untuk menyelamatkannya." Setelah itu dia pergi.
Selena menatap punggung pria itu dengan tatapan sendu. Cahaya matahari yang mulai terbenam menyorot mereka berdua. Mengapa ia hanya selalu bisa menyaksikan punggung lebar pria itu dari kejauhan? Dan mengapa...perasaan tidak nyaman itu hinggap saat mengetahui bahwa Eros masih begitu peduli pada Emilia?
Semua ini hanya permainan. Ya. Eros hanya menganggapnya sebagai alat. Tidak lebih. Dan meskipun ia berkata tidak peduli, nyatanya rasanya masih saja sakit.
__ADS_1