Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 57


__ADS_3

Eros hendak mengetuk pintu kamar Selena ketika ponselnya bergetar dalam saku.


Pria itu mendesis pelan, sebelum meraih benda persegi panjang itu dan menempelkannya ke telinga.


“Halo, Steve?”


Eros mengernyit sambil mendengar ucapan Steve. Saat itu Selena keluar dari dalam kamar dan menatap heran padanya yang berdiri di depan pintu.


Ekspresi Eros terlihat tegang setelah itu. Sambil memutuskan sambungan teleponnya pria itu berkata, “Selena, kita pulang sekarang.”


**


“Jadi...kau—“ Nyonya Swan meneguk ludah. “Aku jelas-jelas melihat jasadmu dikebumikan...bagaimana mungkin...?”


Andreas menarik napas setelah melirik Alex yang hanya terdiam tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin menjawab. “Terlepas dari semua situasi rumit ini, saya dengar Emilia sudah melahirkan.”


Nyonya Swan tersenyum pahit. “Ya. Bayinya sekarang masih di rumah sakit dan memerlukan perawatan khusus karena dia terlahir prematur.”


Alex mengangkat kepala. Tenggorokannya tercekat. Ya. Ini belum waktunya Emilia melahirkan.


Nyonya Swan menipiskan bibir. Ia merasa masih tak percaya tapi juga bersyukur saat melihat Alex masih hidup. Ia benar-benar tidak tahu bahwa Emilia merencanakan semua pernikahan itu untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya. “Aku minta maaf,” katanya kemudian sambil menunduk dalam. “Aku mohon tolong maafkan Emilia. Dia hanya korban dari dendam yang ditinggalkan ayah dan ibunya.”


Alex memalingkan wajah. Susah payah ia menelan ludah, bersama semua kenyataan pahit yang terjadi dalam hidupnya. Ia memang masih hidup, tapi rasanya seperti mati. Tidak tahu apa yang dirasakan, tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus bagaimana. Kakinya seolah tak menapak. Kepalanya pening dan dadanya tak berhenti berdenyut. Ditambah Eros yang memalsukan kematiannya secara diam-diam. Ia tidak tahu apa yang direncakan Eros tapi jika melihat Andreas, Alex meyakini bahwa pria itu berprasangka buruk pada adiknya. Meski Alex telah meyakini bahwa Eros telah berubah, tapi ia tidak bisa menebak apa yang ada dalam kepalanya. Satu dari sekian, Eros adalah sosok yang paling sulit dipahami.


Andreas menatap Alex dengan penuh simpati. Pasti sulit bagi Alex untuk menerima kenyataan bahwa istrinyalah yang berniat membunuhnya dan telah berhasil membunuh ibunya sendiri. Tapi di kedua mata pria itu masih ada cinta yang amat besar.


“Lebih baik sekarang kita pergi ke rumah sakit, Alex pasti ingin bertemu dengan anaknya.” Andreas memecah keheningan. Ia tidak ingin membiarkan percakapan ini lebih jauh mengingat kondisi psikis Alex yang belum stabil semenjak pulih dari koma.


Nyonya Swan mengangkat kepala dan melirik Alex dengan tatapan penuh penyesalan. Wanita itu kemudian mengangguk dan tersenyum tipis. “Dia sangat mirip dengan Alex.”


**


Selena menutup matanya sejenak sebelum melirik Eros yang berdiri dengan sabar menunggunya untuk keluar dari dalam mobil.


Rumah itu masih sama. Kokoh dan begitu besar. Namun saat berada di dalamnya kau hanya akan merasakan kesepian. Sebagai bukti bahwa kemewahan saja tidak cukup untuk membuat seseorang bahagia.


Selena menyambut uluran tangan Eros dengan ragu-ragu.


Pria itu tersenyum tipis sambil merangkul Selena yang memalingkan wajah. “Gadis baik.”


“Aku bukan seorang gadis lagi,” sahut Selena dengan pipi merona.

__ADS_1


Eros mengangkat bahu tak acuh. Ia memapah Selena dengan hati-hati, memastikan bahwa setiap pijakannya benar.


Tapi Selena benci diperlakukan seperti orang penyakitan. Meskipun ia hamil, ia masih bisa berdiri dengan tegak. Jadi saat mereka melewati pintu masuk, Selena berusaha untuk melepaskan tangan Eros yang melingkar di bahunya.


“Kenapa?”


Selena menoleh sebentar. “Jangan berlebihan.” Ia mendesis pelan. “Aku bisa jalan sendiri.”


“Hmm? Kupikir kau suka diperlakukan dengan lembut.” Eros mengekor dengan kedua tangan yang tersembunyi di balik saku celana.


Selena tiba-tiba berhenti sebelum menaiki tangga, ia baru menyadari bahwa rumah itu lebih sepi dari biasanya. Tak terlihat pelayan yang berlalu lalang di sekitar ruang tengah.


“Perasaanku saja atau rumah ini memang terasa lebih sepi dari biasanya?” katanya sambil memberi pandangan menyelidik pada Eros.


Eros berhenti di depan Selena dan memiringkan kepala. “Mungkin perasaanmu benar.”


“Kau memecat mereka.” Selena menyimpulkan.


“Ya. Karena kau.”


“Aku?” tanya Selena tak percaya. Wanita itu menaiki tangga dengan langkah kasar. “Apa yang sudah kulakukan memangnya?!”


Selena menghentikan langkah di depan pintu kamarnya dan menatap Eros dengan sengit. “Apa?!” Wanita itu tertawa kering. “Kau melimpahkan semua kemarahanmu pada mereka, kan? Jadi jangan menyalahkanku!”


Wanita hamil memang sensitif.


Selena mendengus kasar sambil memutar kenop pintu di hadapannya. Namun benda itu tidak mau terbuka.


“Berikan kuncinya!” Selena berbalik untuk menatap Eros dengan sebelah tangan yang menengadah.


Eros hanya menampilkan ekspresi puas sambil berusaha untuk menahan senyum.


“Berikan kuncinya, cepat!” kata Selena geram.


“Mulai hari ini kita akan tidur bersama,” kata Eros tenang. Mengabaikan ekspresi Selena yang seolah ingin mencekik pria itu sekarang juga.


“Aku tidak mau.”


Eros menggeleng pasti. Pria itu mengangkat Selena ala bridal style dan masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan amukan sang wanita.


“Lepaskan aku!”

__ADS_1


Selena diturunkan di atas ranjang besar itu dan menatap Eros dengan sengit. “Dasar pemaksa.”


“Dasar keras kepala,” balas Eros sambil menyeringai. Pria itu mengulurkan sebelah tangannya untuk mengacak puncak kepala sang istri. “Aku ada urusan. Kau tidak bisa kabur ke mana-mana karena akan ada seorang penjaga yang berdiri di depan pintu kamar.”


Selena membuka mulutnya, hendak melayangkan segala serapah untuk Eros tapi ia tahu itu hanya akan sia-sia.


“Beristirahatlah.” Eros mengecup dahi Selena sebelum wanita itu sempat berpaling.


**


Steve dengan cepat berdiri dari kursinya ketika Eros masuk dengan gestur terlampau santai. Kondisi sang pria tampak begitu baik-baik saja dan segar. Bahkan wajah Eros terlihat lebih semringah dari terakhir kali ia bertemu dengan pria itu. Dan Steve bisa simpulkan bahwa Eros berhasil menemukan 'pujaan hatinya'.


"Yo," sapa Eros sebelum berjalan ke arah kursi.


"Apa yang sebenarnya terjadi?!" kata Steve tanpa basa basi. "Apa kau telah merencanakan sesuatu yang tidak kuketahui?!"


Eros duduk di sofa dan menyilang kaki. "Kau tampak marah."


Steve menghela napas kasar dan menghampiri pria itu. "Ini bisa menjadi masalah untukmu."


Eros mendongak. "Kau bilang Alex bersama Andreas?"


Steve mengangguk. Pria itu duduk di seberang kursi dan menatap Eros dengan serius. "Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan, tapi aku tak akan ikut campur dalam masalah ini. Aku serius."


Eros menghela napas pelan. "Aku akan mengurus semuanya." Pria itu berdiri. Lalu menoleh ke arah Steve sebentar sebelum berjalan ke arah pintu. "Kau fokus saja urusi perusahaan."


Steve menggeleng tak habis pikir. "Dasar pria ini. Merepotkan saja."


Eros mengangkat bahu tak acuh lalu membuka pintu.


Trak.


"Jangan bergerak."


Steve yang baru saja berbalik mengurungkan niatnya untuk kembali ke kursi dan terbelalak saat melihat Eros mematung di depan pintu dengan beberapa orang berseragam polisi yang berdiri di hadapannya. Mereka mengacungkan senjata api.


S*al. Firasatnya buruk tentang ini.


"Ada apa ini?" Steve berjalan cepat ke arah mereka dengan ekspresi bingung.


Polisi yang paling berdiri paling depan menunjukkan kartu identitasnya. Namanya Jordan. "Tuan Eros dituduh memalsukan kematian kakaknya sendiri, Alex William. Untuk itu Anda harus ikut kami untuk keterangan lebih lanjut."

__ADS_1


__ADS_2