
Eros menatap puluhan pesan dan panggilan yang masuk ke dalam ponsel Selena. Tak lama, ia kembali menaruh benda itu ke dalam laci kecil di samping tempat tidurnya.
Selena tak butuh ponsel sebab ia tak butuh orang lain. Eros akan memberikan segalanya di rumah ini. Pakaian, uang, perhiasan, makanan lezat, semuanya hanya tinggal menjentikkan jari.
Untuk alasan apa Selena pergi dari rumahnya sementara wanita itu tidak mempunyai siapa-siapa lagi? Eros bisa melakukan apa pun dan memberi segalanya. Tidak ada alasan baginya untuk kembali ditinggalkan dan dikhianati.
Sudah cukup semua orang memandangnya sebagai bayangan Alex yang tidak berguna. Eros bisa bersinar dengan sendirinya. Eros bisa memiliki seorang wanita yang setia padanya. Ia bisa membangun ‘kerajaannya’ sendiri tanpa bantuan keluarganya. Hubungan darah yang terjalin di antara mereka memang hanya sebatas berbagi marga. Embel-embel cinta dan kasih sayang itu hanya alibi untuk menutupi banyak kebohongan di dalam keluarga. Satu dari sekian, Eros telah menjadi korbannya.
Ibunya meninggalkan suami terdahulunya demi mengejar cinta seorang duda kaya beranak satu bernama Antonius William. Kelahiran Eros seolah tak terlalu disambut dengan gembira sebab Alex telah lahir terlebih dulu. Meski Alex bukan lahir dari rahim ibunya, tapi wanita itu sangat mencintai Alex, bahkan mungkin melebihi cintanya kepada Eros. Begitu pun Alex yang sejak lahir tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
Eros pernah mengagumi Alex melebihi ia mengagumi ayahnya sendiri. Tak pernah ada rasa iri meskipun ia sering menghabiskan waktu bersama para pelayan daripada ibunya sendiri—yang malah selalu mendampingi Alex di segala situasi.
Lalu semakin lama, semakin Eros mengerti, mungkin sejak awal kehadirannya tak pernah diinginkan. Masih teringat ketika ayah dan ibunya memuji Alex dan memeluk pria itu karena Alex berhasil menjadi juara umum saat sekolah menengah pertama.
Mereka bertiga tampak bahagia. Tampak baik-baik saja tanpa kehadirannya. Jika Eros saja tak pernah diinginkan mengapa pula ia harus bersikap baik seperti Alex? Toh kedua orang tuanya tak peduli.
Sejak hari itu Eros mulai sering membolos sekolah, jarang pulang ke rumah, pergi main game seharian, nongkrong di kelab dan merokok. Kenakalan remaja seperti itu memang terlihat biasa, tapi bagi keluarga konglomerat adalah hal yang sangat memalukan. Ayahnya murka saat mendapat laporan dari pihak sekolah ketika Eros berkelahi dengan salah satu siswa karena hal sepele. Pria itu mengemudikan mobilnya sendiri dan berakhir dengan menabrak salah seorang pejalan kaki sebelum sampai di sekolah.
Pejalan kaki itu tewas, sementara ayahnya harus dirawat, hingga beberapa minggu kemudian ayahnya meninggal dunia. Semua kejadian itu ditutup dengan rapat—berkat uang yang dimiliki keluarganya. Demi reputasi perusahaan dan nama baik keluarga. Orang-orang hanya tahu bahwa ayahnya meninggal dunia karena gagal jantung.
Setelah ayahnya meninggal dunia, ibunya membawa mereka pindah ke sebuah rumah bergaya modern di tengah kota, tapi Eros tetap tinggal di rumah lamanya. Ia benci berada di tengah keramaian, apalagi setelah mengetahui bahwa Alex dan sang ibu telah berbohong perihal Emilia.
__ADS_1
Dan kini Eros mempercayai Selena untuk tinggal di rumahnya, bahkan tidur di tempat kedua orang tuanya sering menghabiskan waktu bersama.
Apa yang Eros harapkan?
Membawa orang asing bukanlah tipenya, tapi setiap kali melihat Selena, ia seolah telah mengenal wanita itu sejak lama dan begitu memahaminya. Melihat bagaimana wanita itu tetap menyelamatkannya meski mungkin berdoa untuk kematiannya juga.
Eros tak peduli.
Tujuannya hanya satu, membangun ‘kerajaannya’ dan melahirkan penerus.
Penerus yang benar-benar akan ia bahagiakan dengan segenap jiwa dan raganya. Yang akan menghormatinya, mencintainya, setia sampai mati kepadanya.
**
Mimpi hanya sebatas mimpi. Sekalipun buruk, semua itu akan berakhir ketika Selena terbangun. Tapi, justru saat ia terbangun, semua yang ada di hadapannya lebih buruk dari mimpi itu sendiri. Tidak ada jalan keluar, tidak ada tempat berlindung, dalam rumah serupa istana ini ia malah merasa tidak aman.
Perlakuan Eros jelas sangat tak bisa dimaafkan, tapi jika Selena terus terpuruk seperti orang yang hampir gila, pria itu pasti akan lebih mudah mengendalikannya.
Mencoba berpikir jernih, Selena mulai menyentuh makanan yang dibawa oleh para pelayan, membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian terbaik yang telah disiapkan.
Lalu, di sore itu ia berdiri di depan cermin sambil memegang sebuah gunting. Seorang pelayan yang berjaga di dekat pintu tampak memandangnya was-was, takut bahwa Selena akan berbuat gegabah dan memancing kemarahan Tuannya.
__ADS_1
Tapi nyatanya pelayan itu hanya mendapati Selena yang memangkas rambut panjangnya hingga sebatas bahu, lalu membentuk poni yang tampak menutupi kening dan matanya.
“Cukup sudah. Jika ini yang dia inginkan, aku tak akan segan-segan lagi.”
**
Eros sedang membaca buku favoritnya ketika suara langkah kaki terdengar di belakang tubuhnya. Itu jelas bukan seorang pelayan, jadi ia tahu tanpa harus membalikkan tubuh sekalipun.
Hanya satu orang selain dirinya yang tidak berstatus pelayan. Wanita itu—
“Jika aku terpuruk lebih lama, aku hanya akan mati dengan sia-sia.” Selena berdiri di hadapannya dengan tatapan sengit. Wanita itu meletakkan sebuah kertas di atas meja yang terletak di hadapan Eros. “Itu adalah kesepakatan yang harus kau tandatangani.”
"Kesepakatan?" Eros melirik kertas itu lalu mengangkat kepala. Sempat sedikit terusik oleh rambut pendek Selena yang baru dilihatnya.
“Aku tidak perlu mengulangnya dua kali, kan?” sindir Selena. “Karena kau sudah melakukan hal yang tidak senonoh, aku meminta untuk melakukan pernikahan secepatnya. Setelah menikah aku tidak ingin kegiatan modelku dibatasi dan jika aku sampai hamil, waktunya hanya dua tahun—maksudku untuk membalaskan dendammu pada Emilia. Setelah itu aku akan pergi dari rumah ini bersama anak yang aku lahirkan. Ah, juga bersama 50% dari saham yang kau miliki.”
Rahang Eros mengeras. Pria itu meletakkan bukunya dengan kasar dan berdiri. “Omong kosong apa yang kau katakan itu?!”
Selena tersenyum kecut. “Kenapa? Tidak terima?” Kemudian senyumnya menghilang—berganti dengan ekspresi dingin yang membuat Eros tertegun. “Segala ancamanmu sudah tidak mempan padaku, karena aku sudah tidak takut lagi pada kematian. Kau pikir aku akan membuat semua ini menjadi lebih mudah?” Selena mendekat, mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh dada bidang Eros, tepat di mana jantungnya berdetak. “Sudah kubilang, aku bukan Selena yang dulu lagi.”
Dulu, ia yang mengemis cinta pada Eros dan berakhir dengan cinta sepihak. Suatu saat, akan ada masa di mana Eros yang berlutut di bawah kakinya.
__ADS_1
Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa semuanya adil dalam cinta dan perang?