
“Bisakah...kau tersenyum padaku?”
Selena mengernyit lebih tajam. Di satu sisi ia ingin terbahak dan berkata kepada Eros dengan nada lantang seperti: “APA KEPALAMU TERBENTUR SESUATU?!”
Tapi Eros sepertinya tak sedang bersandiwara. Tatapan itu bukan seperti Eros yang angkuh, tapi seperti tatapan...seorang anak kecil yang kesepian.
Selena menelan ludah, lalu memalingkan wajah. “Aku...lelah.” Ia terburu membuka pintu dan meninggalkan Eros yang masih berdiri dengan tangan yang menggenggam udara.
Apa yang baru saja terjadi?
Selena menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Matanya menatap langit-langit kamar yang temaram sementara tangannya menyentuh bibirnya sendiri. Bibir Eros begitu lembut namun sangat dingin. Setiap sentuhan pria itu seolah mengandung bara api padahal setiap celah tubuhnya terasa sangat dingin.
Sesaat, ia pikir pria itu terlihat gusar. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Eros seharian ini. Tapi Selena yakin itu bukanlah sesuatu yang baik.
**
Nyonya William menangis tanpa suara. Tangannya membelai pigura yang menampilkan potret keluarga saat pertama kali Eros lahir.
Eros berada di pangkuannya, sementara Alex dan suaminya berdiri di belakang dengan senyum lebar.
Apakah ini karma untuknya? Apakah ini karma untuk keluarganya? Karma untuk dirinya yang meninggalkan suami pertama demi mengejar cinta pria yang lebih kaya, lalu karma karena telah menutupi kematian ayah Selena?
Tangis Nyonya William menjadi lebih keras. Ia terisak sambil mendekap pigura itu, seakan-akan bisa memeluk seluruh keluarganya. Ambisi, takhta, harta, semuanya tak bisa mengembalikan kepercayaan orang-orang yang dikasihinya. Semua itu bukan jaminan untuk hidup yang lebih baik meskipun setiap hari ia bisa memakan hidangan yang lezat dan berpakaian mewah.
Eros adalah bukti kegagalannya. Cinta yang dimiliki Eros sangatlah besar untuk keluarga dan orang yang dikasihinya, karena itulah saat ia ‘jatuh’ lukanya akan lebih dalam dari siapa pun. Semakin dalam perasaan cinta, semakin sakit luka yang dirasakan.
“Nyonya, makanannya hampir dingin...” Suara cemas seorang pelayan terdengar dari balik pintu.
Tak ada jawaban. Hanya terdengar isak tangis yang memilukan.
**
Selena terperanjat. Ia nyaris melompat dari kursi setelah melihat Eros duduk di kursi penumpang.
“Apa yang dia lakukan di sini?” tanyanya kepada Sam yang duduk di bangku kemudi.
Pria itu angkat bahu. “Dia mengancam akan membakar mobilku jika aku tak mengizinkannya untuk duduk di sana.”
Selena melirik Eros yang duduk tenang sambil mengotak-atik tabletnya. Setelan pria itu terlihat rapi seperti biasa, namun rambutnya tidak disisir ke samping melainkan dibiarkan terurai ke depan.
“Kau mau ke mana?” tanya Eros sambil menahan tangan Selena yang hendak keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
“Aku akan duduk di depan.”
“Tidak perlu. Di sini saja.” Eros menutup pintu mobil dengan sebelah tangannya dan memaksa Selena untuk duduk kembali di sampingnya.
“Kita berbeda arah. Jadi kau tidak boleh merepotkan Sam,” kata Selena tegas.
Sambil tak acuh Eros menjawab, “kata siapa tidak searah? Hari ini aku akan menemanimu.”
Sam nyaris tersedak, sementara Selena tampak melotot tak percaya. Sepertinya kepala pria itu benar-benar terbentur sesuatu!
Selena menghela napas kasar. Mood-nya tidak boleh buruk pagi ini, kalau tidak pemotretannya bisa kacau.
“Terserah!” kata Selena kemudian sambil memalingkan wajah ke luar jendela.
Sam memijat keningnya sebentar sebelum melajukan mobilnya. Kedua orang itu benar-benar membuat kepalanya pusing seketika.
**
Pemotretan kali ini dilakukan di sebuah kolam renang besar di sekitar resort. Eros sedikit mengernyit ketika melihat Sam membuka jubah berwarna putih dari tubuh Selena saat wanita itu bergerak ke sisi kolam renang.
Eros tertegun. Selena masuk ke dalam air dengan sebuah *swim*suit berwarna hitam. Dari balik air kolam renang yang jernih, siapa saja bisa melihat lekukan tubuh wanita itu. Si*l! Ia lupa bahwa Selena adalah seorang model majalah dewasa. Mungkin wanita itu pernah mengekspos tubuhnya lebih dari apa yang dilihatnya sekarang.
Eros mendelik, tatapannya tak bersahabat. “Apa konsepnya harus seseksi itu?”
Orlando mengerjap, tapi ia langsung mengerti dengan ucapan sang pria. Sambil sedikit tersenyum geli, Orlando menjawab, “tidak mungkin kan Selena memakai gaun di dalam kolam renang?”
Eros mendengus. “Lebih dari itu, apa tidak terlalu berlebihan jika presdir utama menangani hal sepele seperti ini?”
Cemburu, kah?
Orlando tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Hmm, berlebihan, ya? Kurasa tidak.” Orlando memiringkan kepala untuk melirik Eros yang setia meluruskan pandangannya ke arah Selena. “Malah kupikir kau yang berlebihan.”
Eros menoleh, tatapannya datar. “Dia calon istriku.”
Telinga Orlando seolah berdengung. “Apa?”
“Kubilang dia calon istriku.” Eros mengambil sesuatu dari balik jasnya dan mengulurkan benda itu ke arah Orlando. “Meski kau mengatakan tidak, matamu tidak bisa berbohong. Jangan sampai kau jatuh cinta padanya.”
Orlando melirik kertas tebal berwarna hitam yang terulur ke arahnya. Sedikit ragu ia mengambil benda itu.
Eros menepuk sebelah pundaknya sebelum melewati tubuhnya dan menjauh dari sana.
__ADS_1
Orlando tercenung. Dalam kertas itu tercantum nama Eros dan Selena yang diukir dengan tinta emas. Bersanding dengan apik dan serasi membentuk sebuah surat undangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Eros...pria itu benar-benar sudah move on?
**
Terjebak bersama Eros dalam mobil—lagi. Hanya berdua. Sam sudah pulang lebih dulu setelah diancam oleh pria itu.
Eros benar-benar menemaninya sampai pemotretan selesai dan bukannya tak menyadari bahwa Selena sempat melihat pria itu bercakap bersama Orlando tadi.
Sudah lima belas menit berlalu sejak mereka memasuki mobil dan terlibat dalam keheningan. Eros sesekali melirik Selena—yang seperti biasa—melemparkan tatapan pada pemandangan di luar. Hiruk pikuk kota dan jalanan yang padat, apa bagusnya semua itu?
Eros berdeham pelan, bahkan nyaris tanpa suara. Ia tidak pernah merasa canggung terhadap siapa pun. Tapi akhir-akhir ini Selena menjadi lebih pendiam dari biasanya, meski saat berbicara wanita itu akan mengatainya habis-habisan.
“Undangannya sudah disebar,” kata Eros merujuk pada pesta pernikahan yang tinggal menghitung hari. “Tidak perlu fitting baju, aku sudah hafal ukuran tubuhmu.”
"Hn."
Sebenarnya Selena tidak terlalu peduli karena seperti apa pun pesta pernikahannya, mereka tidak saling mencintai. Ia tahu, sudah terlambat untuk memulihkan harga dirinya. Tapi apa yang bisa ia lakukan lagi? Terlebih ia bisa hamil kapan pun. Ia tahu Eros selalu mengawasinya, sehingga Selena tidak mampu bergerak untuk melakukan sesuatu untuk mencegah kehamilannya, seperti meminum pil anti hamil diam-diam.
Melihat Selena yang hanya diam saja, Eros berdecak. Menepikan mobilnya dengan kasar di depan sebuah katedral yang di kelilingi pepohonan asri. Tampak tua namun terawat dengan baik sehingga menampilkan kesan klasik yang begitu kental.
“Kita akan menikah di tempat ini,” kata Eros sambil memalingkan wajah.
Selena terpaku. Ia keluar dari dalam mobil dengan tatapan yang tak sedikit pun beralih dari katedral tua itu.
“Ayah...Ibu...”
Eros terkesiap saat Selena tiba-tiba saja berlari ke dalam katedral. “Hei!” Pria itu buru-buru membuka pintu dan menyusul ke dalam. Langkahnya memelan ketika ia mendapati Selena berdiri di antara jajaran kursi panjang dan menghadap ke depan.
“Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?”
Eros mengernyit. “Apa maksudmu?”
Selena berbalik dan menoleh dengan mata berkaca-kaca. “Di tempat ini...Ayah dan Ibuku menikah.”
Sungguh, Eros tidak tahu.
Sepanjang sore itu ia hanya menghabiskan waktu untuk menatap punggung Selena yang bergetar karena menangis. Namun entah mengapa, hatinya ikut berdenyut nyeri. Seharusnya, ia sudah terbiasa melihat wanita itu menangis. Seharusnya, hatinya sudah mati.
Seharusnya. Ya. Seharusnya.
__ADS_1