
Alex menatap bayi mungil itu dari balik inkubator. Hatinya terenyuh. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyentuh kaca inkubator dan tersenyum dengan mata memerah, menahan tangis.
Kasihan sekali anak itu. Siapa yang harus disalahkan? Kadang cinta membuat orang lupa diri dan tenggelam terlalu dalam sehingga tak menyadari mara bahaya di sekitarnya. Terkadang juga cinta menciptakan benci yang tak bisa dihapus begitu saja. Semakin dalam cinta semakin dalam juga sakit yang dirasakan.
Alex berjanji ia akan merawat anaknya dengan baik, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tidak perlu dengan segala kemewahan seperti dirinya dulu.
Andreas mengusap setitik air yang keluar dari sudut matanya. Hatinya sakit melihat pria yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri—yang biasanya berdiri tegak—kini terlihat begitu rapuh dan tak berdaya.
“Kau mau menamainya?” tanya Andreas dengan suara serak.
Alex tersenyum pahit. “Aster William, apakah itu nama yang bagus?” tanyanya diselingi kekehan pilu.
Andreas cepat mengangguk. Kepalanya tertunduk karena tak mampu menyembunyikan air mata yang tiba-tiba mengalir deras.
**
Steve gusar. Berulang kali ia mencoba untuk menghubungi Leo, namun pria itu tak lekas menjawab panggilannya. Sementara Eros sudah digiring ke kantor polisi tanpa melakukan perlawanan apa pun.
Steve kembali mendesah. Ia menggenggam ponselnya sambil berjalan seperti setrikaan di depan meja kerjanya. Lalu tiba-tiba ia teringat seseorang—yang kemungkinan mengambil peran besar dalam penangkapan Eros. Sambil sedikit tergesa ia mencari nama kontak seseorang di ponselnya.
Setelah beberapa lama menunggu teleponnya diangkat, seseorang itu kemudian menjawab.
“Halo?”
“Bisa kita bertemu sekarang?”
**
“Bisa kita bertemu sekarang?”
Andreas tak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia melirik Alex yang masih berdiri di depan inkubator dan menatap heran padanya.
Menarik napas pelan, Andreas menjawab, “ya.”
Kemudian sambungan ditutup secara sepihak.
“Siapa?” tanya Alex penasaran.
Andreas menjilat bibir. “Steve.”
Sepertinya sesuatu memang sudah terjadi.
**
Mereka bertemu di kafe, dekat perusahaan induk William Enterprise.
Steve mengetukkan jemarinya tak sabar dia atas meja kayu berwarna cokelat itu. Sudah seperempat jam dan Andreas baru terlihat memasuki kafe dengan langkah tergesa. Karena kafe itu didominasi oleh dinding kaca yang memungkinkan Steve bisa melihat apa saja di luar, maka ia bisa dengan mudah melirik mobil yang baru mengantarkan Andreas dari tempat duduknya. Sebelum jendela mobil itu tertutup ia sempat melirik Alex yang duduk di kursi penumpang.
“Apa kau menunggu lama?” Andreas menarik kursi dengan wajah yang dipenuhi keringat, padahal ini adalah penghujung musim gugur.
Steve menegakkan tubuhnya dan menarik napas pelan. Ia bilang bahwa ia tak akan terlibat dengan masalah Eros, namun nyatanya tetap tak tega melihat pria itu dibawa oleh polisi tadi.
__ADS_1
“Langsung saja, beberapa jam yang lalu Eros ditangkap polisi.”
Andreas menelan ludah. Ia sudah menduga dan ia mengerti apa yang dikatakan oleh Steve. Dan sekarang ia juga mengerti bahwa pria itu tak mengetahui perihal Alex. Sepertinya Eros memang berniat merahasiakan semua ini dari siapa pun.
“Apa kau yang melaporkannya ke polisi?” tanya Steve dengan ekspresi serius.
Andreas menundukkan kepalanya sejenak, sebelum mendongak dan menatap Steve. “Iya.”
Steve menghela napas kasar dan memijat keningnya. “Kenapa...?”
Rahang Andreas mengeras. “Kau tahu bahwa Alex masih hidup?!” Pria itu menutup matanya. “Bagaimana mungkin dia tega memalsukan kematian kakaknya sendiri...”
“Eros punya alasan.”
“Apa?” Andreas kembali mengangkat kepala. “Alasan apa yang membuatnya sampai harus membuat pemakaman palsu atas nama Alex?!”
“Emilia.” Steve meneguk ludah.
“Itu tidak masuk akal.” Andreas tersenyum pahit. “Dia tidak seharusnya membuat kematian palsu hanya untuk menjebak Emilia, kecuali... Eros memang memiliki niat lain.”
“Niat lain apa maksudmu?!” kata Steve geram.
“Menguasai seluruh aset perusahaan.”
Steve tertawa kering. “Jangan berbicara apa-apa jika kau tidak tahu apa pun tentangnya.”
“Aku tahu semua tentangnya dari Alex.”
Ya. Eros bisa melakukan apa pun. Tapi hukum tidak akan kebal bagi orang berduit sekalipun.
“Kadang kita harus memberinya pelajaran,” kata Andreas—yang membuat Steve menghentikan langkah. “Ini demi kebaikannya juga.”
Steve mendelik. “Dan aku berkata seperti ini demi kebaikanmu juga.”
**
Ini sudah malam. Selena melirik jam berulang kali dan melihat ke arah jendela yang terbuka.
Kenapa Eros belum pulang?
Dan kenapa ia gelisah seperti itu?
Selena menggigit bibir. Perasaannya tidak enak. Ia kembali duduk di tepi ranjang dan menghela napas pelan. Tangannya meraih gelas berisi air putih yang terletak di atas nakas dan meneguknya perlahan.
Namun perasaannya tak kunjung tenang. Seperti ada sesuatu yang membuat hatinya gelisah. Apa semua itu memang bawaan bayi saja?
Kembali berdiri, Selena berjalan ke arah pintu dan menarik benda berbahan kayu itu. Orang suruhan Eros masih berdiri di sekitar kamarnya. Pria itu terlihat tengah memegangi ponsel dan bercakap dengan seseorang.
Namun kalimat terakhir yang diucapkan oleh pria itu membuat Selena mematung.
"Apa?! Tuan Eros ditangkap polisi?!"
__ADS_1
Ditangkap...polisi?
Kenapa?
Selena meneguk ludah merasakan tenggorokannya tiba-tiba menjadi kering. Ia tidak salah dengar, kan?
"Apa...yang kau katakan?"
Pria itu menoleh. Eskpresinya menunjukkan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. "Nyonya..."
"Aku bilang apa yang kau katakan?" kata Selena menghampiri pria itu dengan tidak sabar.
Pria itu menunduk. "Saya hanya diberitahu bahwa Tuan Eros telah ditangkap polisi."
Selena mengerjap. Ini bukan mimpi. Tapi kenapa Eros bisa ditangkap polisi? Apa yang telah pria itu lakukan sebenarnya?
"Kita harus ke sana sekarang juga." Selena tidak tahu mengapa ia begitu peduli. Tapi perasaannya sungguh tidak merasa baik setelah mendengar hal itu.
Pria itu menatapnya ragu-ragu. "Tapi Nyonya—" ucapannya terhenti ketika ia melihat ekspresi Selena yang begitu panik. Menghela napas pelan, pria itu kemudian mengangguk pasrah. "Baiklah. Saya akan siapkan mobil."
**
"Apa yang Steve bicarakan?"
Andreas melirik Alex ragu-ragu. Pria itu melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil, menatap langit malam yang tampak muram.
"Sebenarnya..." Lambat laun Alex pasti akan mengetahui hal ini, kan?
"Sebenarnya apa?" kata Alex ketika Andreas tak kunjung melanjutkan ucapannya. Pria itu menoleh dengan tatapan yang belum berubah sejak pria itu kembali ke tempat kelahirannya.
Andreas membungkukan badannya secara tiba-tiba. "Maafkan aku. Aku telah melaporkan Eros karena ia telah memalsukan kematianmu."
Alex tercenung. "Apa...?"
**
Ketika Selena tiba di kantor polisi, ia melihat Eros sedang duduk sendiri di dalam sebuah ruangan setelah seorang polisi keluar dari ruangan itu.
Pria itu tak menoleh sedikitpun saat Selena masuk dengan langkah pelan.
Namun ketika ia semakin dekat dengan pria itu, tiba-tiba saja Eros menoleh dengan eskpresi datar. Selena meneguk ludah dengan susah payah. Ia senang bahwa pria itu tidak terluka sedikitpun. Tapi—
"Selena."
Selena menghentikan langkahnya. "Ya?"
Eros menghela napas pelan sambil memalingkan wajah. "Ayo kita bercerai."
Dan saat itu Selena sadar bahwa hatinya merasakan sakit.
Sakit karena ia baru menyadari bahwa ia telah kembali jatuh kepada pria itu.
__ADS_1