
“Jadi, Nyonya William yang menyebarkan semua gosip itu?” Kedua tangan Selena bertaut, tatapannya jatuh pada lantai. “Bagaimana mungkin dia bisa melakukan semua ini?” katanya tak habis pikir.
“Aku sudah menyuruh orangku untuk men-take down semua gosip itu,” kata Leo coba menenangkan. “Aku sebenarnya juga tidak mengerti, tapi aku rasa Nyonya William tidak menyukaimu.”
“Ya, aku pikir begitu. Mungkin dia tidak menyukai latar belakangku.” Selena melirik Leo. “Tapi tetap saja, rasanya dia terlalu berlebihan.”
Sam tiba-tiba keluar dari kamar dengan pakaian dan rambut yang sudah rapi. Sempat melirik dua orang yang duduk di sofa sebelum berjalan menuju pintu. Kalau dipikir-pikir Leo dan Selena terlihat cocok. Dibandingkan dengan Eros, Leo sedikit lebih memiliki ‘sisi kemanusiaan’. Tapi sayang sekali, sebaik apa pun Leo, pria itu adalah sahabatnya Eros. Intinya, sama saja, kan?
“Jika kalian ingin makan malam, delivery saja, ya.”
Keduanya menoleh.
“Kau mau ke mana?” tanya Selena penasaran.
Sam angkat bahu. “Bekerja, tentu saja.” Pria itu tampak memilah sepatu di rak sebelum memakainya. Pekerjaan sebagai asisten Selena hanya sampingan saja, sebenarnya Sam sudah lama berprofesi sebagai seorang barista di salah satu kafe.
“Perlu kuantar?” tawar Leo.
Sam menunjukkan kunci mobilnya. “Cicilannya masih setengah tahun lagi.” Sam kembali menyembulkan kepalanya sebelum benar-benar pergi. “Aku tinggal, oke?”
Selena dan Leo mengangguk.
“Sebenarnya aku juga tidak bisa berlama-lama di sini.” Leo menyempatkan waktu untuk berbicara dengan Selena karena ia tahu bahwa wanita itu tidak salah, juga karena mereka pernah bekerja sama. Eros tidak pernah berpikir bahwa dengan menyeret Selena hanya akan menimbulkan masalah lain. Dan siapa sangka bahwa namanya akan terseret juga?
“Ya, kau pasti sangat sibuk. Maaf untuk semua kejadian ini,” kata Selena tidak enak. Bagaimanapun, jika memang benar apa yang dikatakan Leo, berarti sasarannya memang dirinya.
__ADS_1
Leo tersenyum canggung. “Kenapa kau meminta maaf? Itu semua bukan salahmu. Aku juga tidak menyesal karena sudah mengantarmu pulang waktu itu. Semua ini hanya salah paham, tidak usah khawatir.”
***
“Hmm? Selena tidak ada di apartemen?” Eros menatap mobil yang membawa Emilia dari balik jendela kamarnya. Sementara sisa pecahan cangkir yang ditinggalkan oleh wanita itu masih dibersihkan oleh seorang pelayan.
“Baiklah, aku mengerti.” Sebelum menutup panggilan telepon Eros kembali berkata, “cari tahu juga mengapa Ibuku menyebar gosip itu. Tetap awasi Emilia dan Alex. Saat ini kupercayakan semuanya padamu.”
Tut.
Eros meraih sesuatu dari dalam saku celananya dan mengamati benda itu dengan mata berkilat.
“Selena...kau pikir semua ini sudah berakhir?”
***
Nyonya Swan menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca, sementara Emilia tak mampu berkata apa-apa lagi. Terlalu terkejut dan bahagia.
“Oh, Tuhan...” Nyonya Swan memeluk putrinya dengan penuh haru. “Akhirnya aku akan menjadi nenek.”
Dokter wanita itu ikut tersenyum melihat kebahagiaan dua wanita berbeda usia yang saling berpelukan di tempat tidur. “Usia kandungannya baru dua minggu dan masih sangat rawan sekali. Saya harap Nyonya banyak beristirahat dan tidak terlalu stres,” kata sang dokter sambil membenahi peralatan medisnya ke dalam sebuah tas jinjing.
Emilia melepaskan pelukannya dan mengangguk. Sekali lagi wanita itu tersenyum, ia tak sabar untuk memberi tahu kabar bahagia ini pada Alex.
Tapi...jika mengingat bagaimana ia sudah muntah di kamar Eros tadi, Emilia jadi merasa tidak enak. Apalagi ia sempat melihat tatapan Eros padanya waktu itu.
__ADS_1
Dokter itu pamit dan Nyonya Swan mengantarnya sampai pintu. Emilia bergerak menuju cermin tinggi dan melirik tubuhnya sendiri. Karena terlalu memikirkan banyak hal ia sampai tidak sadar bahwa telah ada janin yang tumbuh di dalam perutnya. Ini bukan yang pertama kali, tapi rasanya tetap saja membahagiakan.
***
Malam itu, beberapa minggu sebelum pesta perpisahan sekolah, Eros mengajak Emilia, Steve dan juga Leo untuk mengadakan acara barbeque di rumah lamanya. Ditemani beberapa kaleng bir untuk menghangatkan tubuh, hanya Emilia yang tampak tumbang. Gadis itu tidak bisa minum sama sekali. Leo dan Steve menyusul ambruk setelah menghabiskan beberapa gelas vodka. Keduanya tergeletak tak berdaya di ruang tengah.
Karena malam yang sudah larut, Eros menggendong Emilia yang setengah sadar ke dalam kamarnya. Membaringkan sang gadis yang wajahnya sedikit memerah karena mabuk.
“Eros? Kau mau—hik—ke mana?” Emilia menarik sebelah tangan Eros yang hendak keluar dari dalam kamar.
Pemuda itu menoleh. “Aku akan tidur di bawah, bersama Leo dan Steve.”
Bibir Emilia mengerucut. “Kau akan meninggalkanku?” katanya merajuk seperti anak kecil.
Eros tersenyum, lalu mengusap puncak kepala gadis itu. “Kau mabu—“
“Aku tidak mabuk!”
SRET!
Semuanya terjadi bagaikan mimpi. Emilia mendaratkan satu ciuman yang merambat kepada hal yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan. Mereka berpelukan, berbagi kehangatan di antara dinginnya malam dan tersenyum seolah mereka akan bahagia selama-lamanya.
Sampai satu kalimat—sebelum Emilia benar-benar terlelap—membuat Eros hancur. Meski samar namun masih bisa ditangkap indera pendengarannya.
“Aku mencintaimu...Alex.”
__ADS_1