Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 25


__ADS_3

Selena menaruh bunga lili di atas makam ayah dan ibunya setelah memanjatkan doa. Angin berembus, menerbangkan dedaunan kering yang berserak di sekitar kakinya. Layaknya dedaunan itu, begitulah manusia hidup. Tumbuh, melewati beberapa musim, lalu gugur ke bumi. Tidak akan selamanya hidup, pasti akan ada yang mati dan tumbuh sebagai pengganti.


Selena kadang bertanya, mengapa ia masih bertahan meski kedua orang yang dicintainya telah pergi. Apa alasan ia hidup? Padahal orang yang mengenalkannya pada kehidupan ini nyatanya sudah tidak ada.


Ibunya selalu berpesan agar Selena bisa menemukan orang yang akan tulus mencintainya. Tapi tentu tak semudah itu. Meskipun orang punya hati, tapi mereka juga memiliki ego. Yang baik bisa jadi buruk, begitu pun sebaliknya. Intinya, semua orang bisa berubah kapan pun, bahkan secepat kedipan mata.


Selena tak pernah memikirkan pernikahan, karena ia pikir tak akan menemukan pria yang begitu baik seperti ayahnya. Tetapi setelah ia semakin dewasa, ia mengerti bahwa ia tak perlu mencari pria yang sama seperti ayahnya. Hanya perlu mencari pria sederhana yang mau menerima segala kekurangannya, Selena pikir itu sudah cukup.


Lalu di ujung jalan pemakaman ini Selena baru menyadari bahwa Eros sudah berdiri di sana dengan setelan hitam dan kaca mata hitam. Ia tak peduli bagaimana caranya pria itu ada di sini. Asalkan Eros tak mengganggunya hingga ia selesai berdoa.


“Pasti rasanya sangat sulit untuk hidup seorang diri,” kata Eros ketika Selena berjalan melewatinya begitu saja. Pria itu melepas kaca matanya. “Kuakui kau memang wanita yang kuat.”


Selena tak melirik sedikit pun apalagi menghentikan langkah, tapi ia bisa mendengar suara ketukan sepatu Eros di belakangnya.


“Apa aku sudah pernah bilang bahwa aku benci diabaikan?” sindir Eros sambil mempercepat langkah.


“Apa aku juga sudah pernah bilang bahwa aku benci padamu?” tukas Selena memutar mata bosan.


“Benci? Kenapa?”


Kini langkah mereka sejajar.


Eros sempat melirik mobil yang baru saja dilewatinya sebelum menarik Selena agar wanita itu menghentikan langkah.


Seperti biasa, wanita itu menepis tangannya dengan cepat, meski langkahnya benar-benar terhenti.


“Kau bilang kau benci padaku? Kenapa?”

__ADS_1


“Lupakan.” Selena mengibas. Hendak berbalik tapi Eros keburu menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil.


“Hei!”


Eros menutup pintu mobil dengan cepat sementara dirinya sendiri duduk di bangku kemudi. “Jangan berontak jika kau tidak ingin merasakan kecelakaan yang kualami beberapa waktu lalu.”


Selena tertawa sinis. “Dulu menolakku mentah-mentah, sekarang terus mengekor seperti anak ayam.”


“Kau memang masih dendam padaku, ya?”


“Tidak usah banyak bertanya, cepat antarkan aku ke apartemen. Aku harus bekerja.”


“Bekerja?” tanya Eros sambil melajukan mobilnya. “Kau menjadi model lagi?”


“Bukan urusanmu,” balas Selena tak acuh.


Wanita itu terperanjat. “KAU—“


Eros mendelik. “Diam atau aku akan melemparmu keluar sekarang juga.”


**


Eros bersiul saat Selena keluar dari kamar ganti dengan gaun berwarna maroon yang memiliki kerah rendah. Rambut panjang wanita itu dibuat bergelombang dengan riasan bold dan polesan gincu sewarna merah darah.


Berbeda sekali dengan Selena yang sering tampil tanpa riasan make up—Eros mengerti sekarang mengapa Leo tertarik menawari wanita itu untuk bekerja sama. Kesan polos yang melekat pada diri Selena seolah lenyap begitu saja, berganti dengan aura dan karisma yang begitu kuat. Sejak dulu wanita itu mungkin sudah cantik, hanya tampilannya saja kurang modern.


“Sebenarnya kita mau ke mana?” Selena menyadari bahwa Eros juga telah berganti baju. Tuksedo hitam dan tatanan rambut yang rapi terlihat sangat formal sekali. Sesekali para pelayan wanita melirik ke arah pria itu dengan pipi bersemu.

__ADS_1


“Kau hanya cukup mengapit lenganku dan kupastikan semuanya akan selesai lebih awal.” Eros menekuk sebelah tangannya, menunggu tangan Selena untuk menyambutnya.


“Kau telah membuatku kehilangan banyak dolar hari ini.”


“Akan kuganti. Kalo perlu sepuluh kali lipat.” Eros meraih tangan Selena dengan paksa. Menautkan tangan kurus itu pada lengannya sendiri.


Selena buang muka. Saat berjalan menuju mobil, ia melihat beberapa orang memandang sinis ke arahnya sambil berbisik-bisik. Oh, itu pasti karena gosip yang beredar waktu itu. Tapi Eros seolah tak peduli, justru ia mendapat tatapan simpati dari orang-orang.


Andai saja mereka tahu kenyataannya, akankah para wanita itu akan tetap menggilai seorang Eros William?


**


Leo dan Steve tiba lebih awal di acara ulang tahun putra sulung pemilik Cloe Enterprise, Orlando Cloe. Mereka memang satu sekolah tapi tak terlalu akrab, kecuali orang tua mereka yang sama-sama akrab karena urusan bisnis. Acara itu digelar di sebuah ballroom hotel milik keluarga Cloe sendiri. Mengusung konsep sederhana tapi mewah, tamu-tamu yang diundang juga bukan sembarang orang. Seharusnya Leo dan Steve juga tahu bahwa Alex dan Emilia juga akan datang, termasuk Nyonya William.


“Tinggal menunggu Eros datang dan keluarga William akan benar-benar berkumpul di pesta ini,” kata Leo melirik ketiga orang yang baru masuk itu.


Steve tersenyum tipis. “Seandainya bukan Nyonya William yang menjadi dalang penyebar gosip itu, mungkin dia sedang terbaring di rumah sakit sekarang.”


Leo mendelik. “Jangan sama kan aku dengan Eros.”


Steve angkat bahu. Lalu melirik dua orang yang baru saja datang dan mendapat perhatian lebih.


Eros dan Selena.


“Bagus sekali, sepertinya malam ini akan seru.” Leo menyeringai sebelum menghampiri kedua orang itu. Sementara Steve memutar mata bosan sambil mengekor di belakang.


Ia harap tidak akan ada drama yang terjadi—lagi.

__ADS_1


__ADS_2