
“Maaf sudah mengganggu waktu kalian,” Nyonya William melirik Eros yang duduk tegak di samping Selena dan melipat kedua tangannya. “Emilia bilang ada yang ingin dia sampaikan padamu.”
Semua orang mengalihkan pandangan ke arah Selena yang tiba-tiba berdiri. “Aku harus ke kamar mandi,” katanya sambil tersenyum hambar.
Eros menatap kepergian wanita itu sampai tubuhnya hilang di balik kelokan. Ia tahu bahwa Selena tak benar-benar ingin pergi ke kamar mandi, itu hanya alasan untuk tak terlibat percakapan ini.
Jemari Emilia bertaut gelisah sementara kepalanya mendongak untuk menatap Eros. “Aku ingin...minta maaf.”
“Untuk?”
“Kejadian di makam.”
Bahu Eros terangkat tak acuh. “Lupakan. Itu saja?” katanya seolah tak sabar. Urusannya dengan Selena belum selesai tapi kedua wanita itu tahu-tahu sudah datang begitu saja ke rumahnya.
“Emilia akan tinggal bersama Ibu,” kata Nyonya William kemudian. “Ibu harap, mulai saat ini kau bisa menjaga sikapmu padanya—selain karena dia telah mengandung anak Alex.”
Eros mengangguk tanpa pikir panjang, membuat Emilia sedikit terkejut dengan sikapnya itu. Sungguh sulit ditebak.
“Selama dia tak merepotkanku,” katanya sambil melirik Emilia tanpa minat.
“Kau juga akan menggantikan Alex di kursi direktur.”
Eros tak terlalu terkejut. Ia sudah menduga hal itu. Kekosongan di perusahaan tak bisa dibiarkan terlalu lama.
“Akan kupikirkan.”
“Tak ada waktu untuk berpikir,” sahut Nyonya William cepat. “Besok kau akan bekerja langsung di sana.”
Eros mendelik. Ibunya cukup tegas kali ini. “Ibu lupa bahwa aku juga sedang mengembangkan perusahaanku?”
“Kau punya Steve, bukankah kau selalu mengandalkan pria itu?” Tatapan Nyonya William melunak. “Untuk kali ini, ibu mohon padamu, Nak.” Tangannya terulur untuk menyentuh tangan Eros dan menggenggamnya lembut. “Hanya kau yang ibu miliki sekarang.”
Eros menatap tangan lembut sang ibu yang berada di atas tangannya sendiri. Memang hangat, tapi tidak sampai menghangatkan hatinya. Meskipun kini ia telah menjadi satu-satunya anak dari wanita itu, tapi Eros masih belum bisa memaafkan luka yang ditorehkan oleh ibunya. Masih butuh waktu.
Hatinya belum selapang itu.
**
Selena memandang mobil yang ditumpangi Emilia dan Nyonya William dari balik jendela kamar. Selagi ketiga orang itu bercakap, ia menelepon Sam dan meminta maaf atas kejadian tak mengenakkan yang diterima pria itu.
__ADS_1
Selena tak habis pikir. Mengapa Eros terlihat sangat marah? Dan apa-apaan itu? Miliknya? Cih. Seenaknya saja kalau bicara!
BRAK!
Selena terperanjat. Ia langsung menoleh begitu mendapati pintu kamarnya terbuka dan Eros tengah berjalan menghampirinya dengan langkah tak sabar.
“Ada apa?” Selena berdiri dari kursi dan menatap pria itu tanpa minat.
“Urusan kita belum selesai,” kata Eros kukuh. Ia melirik ponsel yang digenggam Selena dan merebutnya dalam hitungan detik.
“Hei!” protes Selena tak terima.
“Mulai sekarang aku akan menyita ponselmu lagi.”
Selena tersenyum jengah. “Apa sih maumu?!”
“Mauku?” kata Eros sambil memajukan langkah. “Kau harus diam dan turuti semua perkataanku.”
“Kenapa aku harus?” Selena menatap kedua mata itu dengan berani.
“Sudah kukatakan bahwa kau milikku, masih belum jelas?”
“Iya, belum!” kata Selena setengah berteriak. “Kau pikir aku akan diam saja setelah kau perlakukan sesuka hati?” Wanita itu tertawa kering. “Alex sudah mati, kau bisa menikahi Emilia sekarang—“
Selena menoleh dengan tatapan datar. “Maksudku, lebih baik kita bercerai saja,” katanya nyaris tanpa emosi.
Eros tercenung. Pria itu susah payah menelan ludah setelah tenggorokannya terasa begitu kering. “Apa katamu?”
“Ayo kita bercerai.”
Eros tiba-tiba saja tertawa.
Selena menutup matanya, mencoba menahan emosi yang kembali memenuhi dadanya. Sejak hamil suasana hatinya sering sekali berubah-ubah dan mood-nya tidak bisa terkendali dengan baik.
Lalu Eros menghentikan tawanya dan mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat. “Jangan harap!” katanya dengan nada yang begitu dingin. “Di dalam perutmu ada anakku. Bagaimana mungkin aku akan melepaskanmu begitu saja?”
Selena terbelalak. Pria itu tahu?
“Tentu saja aku tahu,” sahut Eros seolah dapat menebak apa yang dipikirkan Selena. Jemari halusnya menyentuh perut datar Selena sehingga wanita itu sedikit tersentak. “Jaga anakku baik-baik.”
__ADS_1
“Anakmu?” Selena menepis tangan pria itu. “Aku yang mengandungnya.”
Eros mangut-mangut. “Well. Sekarang kau mengakuinya? Kupikir kau akan membencinya seperti kau membenciku.”
Selena memalingkan wajah. Tentu saja ia masih punya hati. Sebesar apa pun ia benci pada Eros, bayi dalam rahimnya tetap tidak bersalah.
“Jadi,” Eros melipat kedua tangannya di dada. “Kenapa kau menyembunyikan kehamilanmu, hmm?”
Selena tak menjawab.
Eros berdecak. “Para pelayan memberitahuku bahwa kau sering muntah-muntah dan tentu saja mereka juga melihat testpack di dalam kamar mandimu.”
Ya. Tidak ada yang bisa Selena sembunyikan dari Eros. Toh, rumah dan segala isinya termasuk para pelayan itu adalah milik sang pria.
Selena menghela napas dan duduk di tepi ranjang sambil memandang keluar jendela. “Seperti yang pernah kau katakan sejak awal, kau hanya ingin membalaskan sakit hatimu pada Emilia dan kakakmu sendiri. Sekarang Alex sudah tidak ada, lalu mengapa aku masih tetap di sini?” Ada nada lelah di sana. Lelah karena tidak paham atas semua sikap Eros yang menyeretnya sejak awal. Lalu kini mengurungnya seolah ia adalah tahanan. “Aku tahu kau masih mencintainya dan aku tahu Alex juga tak akan keberatan jika kau kembali padanya...”
Eros menarik napas pelan. Ia berjalan menuju jendela sambil menyimpan kedua tangannya di dalam saku. “Mungkin kau benar,” katanya kemudian. “Tapi sayang sekali aku tak sebodoh itu. Mengapa aku harus kembali pada wanita yang jelas-jelas tidak mencintaiku?”
Selena menoleh. Dahinya mengernyit ketika ia melihat Eros yang tampak sedikit menyeringai.
“Justru inilah waktu yang tepat untuk membuatnya lebih hancur setelah kematian Kakakku.”
Selena lupa, ia pernah menjuluki pria itu sebagai iblis—dan memang bukan tanpa alasan, kan?
**
"Ya. Sejauh ini belum ada perkembangan."
"Saya mengerti."
Pria berjas hitam itu memutus sambungan telepon lalu berbalik untuk menatap seorang pria yang terbaring dengan peralatan medis yang menempel di sekujur tubuhnya.
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan menampilkan seorang perawat berwajah oriental. "Bisa keluar sebentar? Saya harus mengecek keadaan pasien."
Pria itu mengangguk singkat, langkahnya terdengar ringan saat meninggalkan ruangan.
**
Eros menatap pantulan dirinya di cermin. Tubuh bagian atasnya tak tertutupi apapun dan rambutnya terlihat basah—menjuntai menutupi sebagian mata.
__ADS_1
Berulang kali pria itu menampilkan eskpresi sedih dengan tatapan sendu, kemudian berganti menjadi ekspresi iba. Sorot matanya berubah-ubah, namun pada akhirnya pria itu hanya terkekeh pelan.
"Sepertinya kemampuan aktingku semakin bagus." Sudut bibir pria itu perlahan melebar. "Gampang sekali membodohi orang-orang itu." Kemudian tatapannya menjadi dingin. "Sekarang semuanya ada dalam kendaliku."