
Musim gugur menyapa.
Awan terlihat lebih kelabu diiringi hawa yang cukup dingin. Sedingin hubungan Eros dan Selena setelah kejadian di gereja.
Mereka hanya berpapasan di pagi hari, saat Eros hendak pergi ke kantor. Atau di malam hari saat Eros tak sengaja mendapati Selena terbangun karena merasa lapar.
Kandungan wanita itu semakin besar, namun Eros seolah menarik diri. Menjaga jarak dan memilih membisu setiap kali mereka tak sengaja berpapasan.
Selena sering kali melamun, memikirkan semua nasibnya setelah ini. Apa lagi, Eros terlihat berubah. Namun wanita itu tidak tahu, jika hampir setiap malam, Eros akan pergi ke kamarnya dan mengecup bibirnya ketika ia tengah tertidur lelap.
Selena berpikir bahwa semua ini sudah selesai. Eros mungkin sudah berdamai dengan hatinya, tapi Selena masih tidak mengerti, kehadiran dirinya di rumah itu dipandang sebagai apa sekarang.
Maka pagi itu, ia mengambil secarik kertas dan pena. Menulis beberapa baris kalimat sebelum pergi meninggalkan rumah dengan dalih ingin pergi ke pemakaman kedua orang tuanya.
Selembar tiket menuju sebuah negeri yang jauh di sana telah disiapkan oleh Sam yang sebenarnya sangat menentang keputusannya untuk pergi. Apalagi Selena dalam kondisi hamil, ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu.
“Aku hanya ingin hidup dengan damai.” Selena mengulas senyum tipis saat Sam menatapnya setelah suara operator bandara mengumumkan pemberangkatan.
Pria itu memeluknya dengan erat. “Semoga kau bahagia di sana.”
Selena kembali tersenyum namun air mata tak dapat dibendung. Ini berat. Tapi ia tidak bisa terus-terusan hidup seperti itu.
Selena menyeret kopernya dan melirik ke arah Sam sekali lagi sebelum menghilang dari pandangan pria itu.
**
“Separuh hatiku mungkin masih membencimu, namun aku senang ketika kau mulai berubah. Jangan pernah mencariku lagi, biarkan kau berdamai dengan hatimu. Aku akan melupakan semua kesepakatan kita. Sebagai gantinya aku akan merawat bayi ini dengan baik. Aku berjanji aku akan selalu mencintainya dan menyayanginya.”
Eros tercenung menatap selembar kertas dengan tulisan yang begitu rapi—tergeletak di atas tempat tidurnya bersama sebuah cincin.
Tangannya meremas lembar kertas itu. Meremukkan sampai tak berbentuk lagi. Namun hatinya seolah ikut hancur. Perasaan tak nyaman dan gelisah memenuhi relung hatinya. Menolak keputusan Selena yang secara tak langsung telah mengakhiri pernikahan mereka.
“Beraninya kau...” Eros tercekat. Ia menatap cincin yang tak bertuan itu. Dadanya sesak. Matanya memerah dan sedetik kemudian ia melemparkan vas bunga yang ada di dekatnya ke arah cermin.
PRANG!
Hancur. Pecah. Kepingannya berserak ke mana-mana.
Lalu bunyi pecahan lain menyusul. Eros menghancurkan segala yang ada di kamar itu, bahkan saat tangannya tergores pecahan kaca, pria itu tak peduli.
Napasnya terengah. Bayangan wanita itu terus melintas di kepalanya. Selena yang menatapnya penuh benci, Selena yang sedang tersenyum, Selena yang sedang menangis, Selena yang putus asa, Selena yang—
“DASAR WANITA S*ALAN!”
PRANG!
__ADS_1
“BERANI-BERANINYA KAU PERGI!”
PRANG!
“KEMBALI KAU S*ALAN!”
Tubuh Eros ambruk di samping tempat tidur. Ia menekuk lutunya dan memegangi kepalanya yang terasa pening. Dadanya terasa lebih sesak dan napasnya menjadi tersengal.
Tok!
Tok!
Tok!
“Tuan, Anda baik-baik saja?!”
Suara gedoran pintu dan seorang pelayan yang berseru penuh kekhawatiran terdengar dari luar.
Eros merasakan napasnya semakin menipis dan tubuhnya tiba-tiba menggigil seperti orang kedinginan.
“Tuan!”
Pintu diketuk dengan tidak sabar.
“Berdamailah dengan hatimu...”
Semakin lama semuanya terlihat semakin gelap. Eros mencoba meraih bayangan itu namun semuanya begitu cepat menghilang.
Saat matanya tertutup, setitik air mata mengalir di pipinya.
Maafkan aku, Selena.
**
Langit di atas negara bernama Singapore itu terlihat cerah. Di salah satu ruangan VVIP sebuah rumah sakit Internasional, pria itu masih setia berbaring dengan damai.
Namun jemari yang ditempeli selang infus itu mulai menunjukkan sebuah pergerakan. Kelopak matanya mengerjap pelan, sedikit demi sedikit terbuka, menampilkan manik hitam yang telah lama tak menyapa dunia.
**
Eros terperanjat. Ia langsung terduduk dan menyadari bahwa ada selang infus yang menempel di tangan kirinya. Pria itu meringis, merasakan kepalanya yang masih pening. Namun ia menyadari bahwa ruangan itu bukanlah rumah sakit, melainkan kamarnya sendiri.
“Kau sadar?”
Steve yang sejak tadi hanya berdiri di dekat pintu mulai mendekat.
__ADS_1
“Apa yang terjadi padaku?”
Steve memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan mengangkat bahu. “Yah, kau tak sadarkan diri—selama dua hari.”
Eros mengangkat kepala. “Dua hari?” katanya tak yakin.
Steve mengangguk. “Tidak kusangka kau bisa sakit juga.”
Eros menutup matanya lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Terakhir kali ia ingat bahwa ia telah menghancurkan kamarnya sendiri. Namun kamar itu telah kembali seperti semula—bahkan cerminnya sudah diganti dengan yang baru. Bedanya tidak ada perabotan dan vas bunga yang ditaruh di atas nakas atau laci.
Steve menghela napas. “Sepertinya kau masih membutuhkan waktu istirahat.” Pria itu berbalik dan berjalan menuju pintu.
Eros tak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah ketika Steve menutup pintu. Lalu saat matanya tak sengaja melirik nakas di samping tempat tidurnya, benda itu ada di sana.
Cincin pernikahan mereka ada di sana.
Eros kembali memijat pelipisnya saat sakit mendera. Namun sedetik kemudian ia mencopot selang infusnya dan meraih long coat berwarna cokelat dari dalam lemari.
Steve yang berdiri di luar pintu terperanjat saat Eros keluar dengan langkah cepat.
“Kau mau ke mana?!”
Teriakan itu tak ia acuhkan.
**
Selena menarik napas pelan ketika taksi yang ditumpanginya berhenti. Ia menyerahkan beberapa lembar uang sebelum keluar dan menarik kopernya.
Angin musim gugur bertiup, membuat Selena mengeratkan syal berwarna cokelat yang melingkari lehernya. Ia tersenyum tipis saat menatap rumah mini malis dengan halaman yang cukup luas. Seperti rumah yang selalu diimpikannya sejak dulu. Ia akan menanam bunga dan berbagai sayuran di sana.
Selena berharap, kali ini ia benar-benar bisa menemukan kebahagiaannya.
**
Sam sudah menduga bahwa pria itu akan mendobrak pintu apartemennya—cepat atau lambat. Tapi ini sudah dua hari sejak Selena meninggalkan negara kelahirannya, terhitung sedikit lambat memang. Tapi jika Eros datang ke apartemennya, itu berarti si pria belum menemukan keberadaan Selena.
“Di mana Selena?!”
Seperti dugaan Sam.
Eros dengan tidak sabar mencengkeram kerah bajunya. Rahangnya terlihat mengeras.
“Katakan di mana dia, s*alan!”
Sam menghempaskan tangan Eros lalu menepuk bajunya. Pria itu mendelik. “Kau tidak pernah mencintainya tapi kau selalu mencarinya seolah ia adalah milikmu. Sebenarnya apa yang kau inginkan?”
__ADS_1