Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 44


__ADS_3

Selena mengerjap pelan. Cahaya dari lampu kamar menyorot, membuat matanya kembali menyipit. Aroma ini jelas bukan rumah sakit, melainkan kamarnya.


Saat mencoba untuk bergerak, ia melenguh merasakan sakit pada punggungnya. Ia ingat pria berambut merah yang sudah menendang punggungnya hingga ia tersungkur ke tanah.


Tunggu—kandungannya?!


“Dia baik-baik saja.”


Suara berat itu menyahut seolah menyadari ekspresi panik Selena. Wanita itu dengan cepat menoleh untuk melihat Eros yang berdiri di samping jendela dan menatap ke arahnya.


Syukurlah...jika bayinya baik-baik saja.


“B-bagaimana dengan Jessica?” tanya Selena khawatir.


“Dia juga baik-baik saja. Aku sudah memecatnya.”


“Apa?”


Eros mendekat dengan langkah pelan. “Dia sudah lalai dalam menjagamu. Mengapa dia harus membawamu melalui jalan pintas?”


“Aku yang meminta,” kata Selena tegas. Ia tidak suka cara Eros yang memecat Jessica seenak hati padahal wanita itu jelas-jelas telah mencoba untuk melindunginya. “Jadi kau tidak usah memecat Jessica. Semua itu bukan salahnya.”


“Keputusanku sudah mutlak.” Eros duduk di sisi ranjang dan menyentuh kaki Selena yang tertutupi selimut. “Kenapa kau masih saja suka menentangku? Lihat apa yang telah terjadi karena kecerobohanmu?”


Selena baru menyadari bahwa tangan Eros yang membelai kakinya kini tengah dibalut sebuah perban. Ia memalingkan wajah, mau tak mau harus mengakui bahwa pria itu telah menyelamatkannya.


“Kenapa? Menyesal?”


Entah bagaimana pria itu kini sudah berada di depan wajahnya. Jemarinya membelai lembut di sepanjang leher hingga rahang Selena. Napasnya hangat, beraroma mint dan citrus yang menyegarkan—dan Selena benci mengatakan bahwa ia menyukai aroma itu.


“Selena...”


Seolah terhipnotis, Selena memalingkan wajah. Menatap langsung pada dua bola mata hitam kecokelatan yang misterius itu.


Eros memang tampan. Sangat tampan malah. Matanya yang tajam dan menghanyutkan, hidungnya yang mancung dan lurus, bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda—meski pria itu sempat terlihat merokok beberapa kali. Namun auranya selalu dingin. Gelap. Hitam. Kadang selalu membuat Selena bertanya, apakah dia adalah pria yang pernah ia cintai dulu?


“Mengapa...” Tangan Selena yang hangat kini berganti membelai rahang Eros yang terbentuk dengan sempurna. “Mengapa, Eros?” tanyanya penuh keputusasaan.

__ADS_1


Eros menarik tangannya saat ia melihat tatapan sendu wanita itu. Wajah Selena seolah bersinar meski cahaya lampu tertutupi oleh punggungnya yang lebar. Terlihat pasrah dan lemah. Terlihat kecil dan rapuh. Tanpa pertahanan seperti itu...sangat ‘berbahaya' sekali.


“Kau...” Tenggorokan Selena tercekat. “Bukan pria yang telah membuatku jatuh cinta.”


Eros meraih tangan Selena dan mengecupnya. Pria itu tersenyum hambar. “Tidak masalah,” katanya saat melihat kedua mata Selena yang mulai kembali meredup—karena pengaruh obat yang diberikan dokter. “Karena kau juga bukan wanita yang telah membuatku jatuh cinta.” Eros berganti mengecup kening sang wanita ketika kelopak matanya telah menutup sempurna.


Lama, ia menatap Selena yang sudah kembali terlelap. Lalu tatapannya turun pada perut wanita itu.


Apa yang membuat Selena begitu khawatir pada janin yang tumbuh dari sebuah hubungan yang tidak pernah dia inginkan?


Terkadang Selena membuat Eros tidak mengerti, seperti wanita itu yang tidak mengerti dengan semua sikapnya.


Di saat semua pikirannya terpusat pada Selena, di saat itu juga ia mulai terbiasa dengan kehadiran wanita itu. Berdebat dengannya karena hal sepele dan saling melemparkan kata-kata tajam, semua itu terasa lebih baik dari pada beribu ungkapan cinta dan sayang namun nyatanya hanya ucapan belaka. Kosong.


Mungkin Eros telah menolak pernyataan cintanya dengan kejam. Tapi ia telah mengamati wanita itu sejak lama—tanpa ia sadari. Dan ia tahu Selena adalah wanita yang kuat. Sebab setelah segala hal yang Selena lewati, wanita itu masih bisa berdiri tegak sampai sekarang.


Itulah alasan...mengapa Eros memilihnya. Karena Selena adalah cerminan dirinya.


Dua orang yang sama-sama kesepian dan tak mempunyai cinta. Sama-sama korban dari kekejaman dunia. Kini mereka mempunyai satu alasan untuk mencintai—yakni janin yang perlahan tumbuh di dalam rahim wanita itu.


Namun terkadang Eros lupa, bahwa cinta sejatinya bukanlah miliknya sendiri. Ia hanya menyangkal, agar tak merasakan sakitnya lagi.


**


Selena kembali terbangun dengan tubuh yang sudah tidak sesakit saat ia pertama kali sadar dan hanya menyisakan sedikit rasa ngilu di punggungnya.


Saat ingin beranjak dari tempat tidur, Selena terperanjat oleh embusan napas yang menyentuh tengkuknya, juga tangan kekar yang melingkar di atas perutnya.


Tanpa harus menoleh, Selena tahu bahwa pria itu adalah Eros. Namun ia tidak mengerti mengapa sang pria bisa tidur sambil memeluknya sementara Eros bisa saja tidur di kamarnya sendiri?!


Selena menghela napas pelan. Ia mencoba lepas dari jerat pria itu meski usahanya sia-sia karena Eros malah kembali memeluk tubuhnya dengan erat.


“Jangan pergi...”


Selena menelan ludah. Bibir pria itu bahkan menyentuh tengkuknya. Ini terlalu dekat!


“Eros?” Selena mencoba membangunkan pria itu.

__ADS_1


Hening. Kini tubuh Selena malah tenggelam di dalam dekapan Eros. Terasa hangat dan nyaman. Tapi untuk dua orang yang saling membenci apakah tidak terlalu aneh?


Selena hanya kembali menghela napas. Percuma saja berontak, lengan-lengan kekar itu kerasnya seperti baja. Pada akhirnya ia kembali menutup mata dan menyusul Eros ke alam mimpi.


Dan melewatkan sebuah gumaman yang keluar dari pria itu setelahnya.


“Jangan pergi...Selena.”


**


“Sepertinya keadaan Nenek menjadi lebih baik.” Orlando tersenyum lembut sambil melirik wanita paruh baya yang bersandar di kepala ranjang.


“Akan lebih baik lagi jika kau lebih sering berkunjung kemari.” Neneknya mendelik dari balik kaca mata bundarnya.


Orlando tertawa sejenak sebelum memberikan satu kecupan di pipi neneknya. “Nenek tahu sendiri aku sibuk karena menggantikan posisi Ayah di perusahaan. Lagi pula Singapore itu cukup jauh, Nek.”


Neneknya hanya berdecak pelan. “Cucu laki-laki memang berbeda dengan perempuan,” sindirnya seolah menyesal karena telah memiliki seorang cucu laki-laki yang selalu sibuk dan tidak peka.


Orlando hanya kembali terkekeh. Tak lama seorang perawat masuk ke dalam kamar inap.


“Sudah saatnya minum obat.”


Neneknya langsung cemberut.


“Nenek harus minum obat kalau ingin cepat pulang,” kata Orlando sebelum keluar dari dalam ruangan karena ponselnya tiba-tiba bergetar di dalam saku.


“Ya?”


Orlando menjauhi kamar sambil menempelkan benda persegi panjang itu ke telinga. Takut bahwa suaranya akan mengganggu ketenangan rumah sakit.


“Aku sedang menjenguk Nenek di Singapore.”


Kakinya terus berjalan menyusuri koridor khusus ruang inap VVIP itu.


“Iya, nanti sore aku—“ ucapan Orlando terhenti. Ia kembali memundurkan langkahnya untuk menengok sosok yang terbaring di salah satu ruangan dari balik jendela buram.


Matanya menyipit. Orang itu...

__ADS_1


“Halo? Kau di sana?”


__ADS_2