
Tidak ada yang berubah sejak ikatan Eros dan Selena telah resmi menjadi sepasang suami istri. Di balik dinding rumah mewah itu, mereka tetap tidur terpisah dan bertingkah layaknya orang asing. Tidak pernah ada hal yang berbau romantis layaknya pengantin baru. Selena juga tak perlu repot berperan sebagai seorang istri karena sudah begitu banyak pelayan yang telah menyiapkan segala kebutuhan dan perlengkapan Eros di rumah. Begitu pun dengan Eros, setelah menikah, pria itu menjadi lebih sering pulang larut malam. Tampaknya sang pria sedang sibuk-sibuknya mengurusi bisnis yang cukup berkembang dengan pesat.
Mengenai hubungan keluarga William, tampaknya memang semakin renggang. Meski Nyonya William, Alex dan Emilia hadir ke acara pernikahan Eros dan Selena, tapi seperti ada jarak yang kentara di antara mereka. Tak terlihat menegur atau bercakap seperti biasa. Yang paling jelas hanya ekspresi kekecewaan Nyonya Emilia saat memandang Alex atau Eros sekali pun.
“Kau mau ke mana?”
Pagi itu, Eros hendak memasuki mobil ketika mendapati Selena sudah berpenampilan rapi dengan tas yang tersampir di bahu.
Wanita itu menghentikan langkahnya sejenak. “Aku harus membeli beberapa kebutuhan.”
“Kenapa tidak menyuruh pelayan saja?”
“Kenapa aku harus menyuruh pelayan sementara aku bisa membelinya sendiri?”
Eros memalingkan wajah sambil mengumpat pelan. Ia paling tidak suka pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan.
Selena hanya mengernyit ke arah pria itu sebelum kembali melanjutkan langkah. Namun sebelum ia mencapai pintu gerbang, tubuhnya tiba-tiba saja terangkat ke udara dan wajahnya menabrak sesuatu yang keras.
“H-hei!”
Selena mengerjap. Benda yang ada di hadapannya adalah sesuatu yang keras dan berbau wangi. Ia benci mengakui bahwa dada Eros sangatlah bidang dan lebar. Bahkan dari balik kemeja berwarna putih itu Selena bisa merasakan lekukan yang terbentuk sempurna. Pipinya merona, ingin berontak tapi Eros sudah terlebih dulu memasukkannya ke dalam mobil.
Pria itu mengunci semua pintu setelah duduk di bangku kemudi, membuat antisipasi bila mana Selena berniat kabur.
“Diam di sana dan pakai sabuk pengamanmu.”
Selena hanya menghela napas pelan sebelum memasangkan sabuk pengaman dengan wajah cemberut.
“Tak peduli di dalam rumah seperti apa, saat di luar kita harus berperan sebagai suami istri yang baik, bukan begitu?”
Selena tersenyum kecut. “Berperan ya...” katanya mangut-mangut. “Baiklah kalau begitu.” Wanita itu memajukan tubuhnya dengan cepat dan memberikan satu kecupan mesra di pipi Eros.
Pria itu mematung. Sedikit tak menyangka akan mendapat 'serangan’ mendadak seperti itu. Ia melirik ke arah Selena yang masih berada di dekat wajahnya dan kini sedang tersenyum manis.
“Ayo jalan, Suamiku. Nanti kau bisa terlambat.”
Sungguh, seharusnya Selena mendapat penghargaan untuk aktingnya yang begitu sempurna.
__ADS_1
**
Leo dan Steve sedang bercakap di ruangan Eros ketika si empunya datang dengan menenteng tas kerjanya.
“Yo! Pengantin baru!” Leo selalu menjadi pihak yang paling heboh. Sementara Steve hanya angkat bahu melihat kelakuan pria itu.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Eros sambil menyimpan tasnya ke atas meja.
Pertanyaan itu tentu saja untuk Leo. Si tunggal Smith dengan ringan menjawab, “tentu saja sedang ‘berburu', apalagi memangnya?”
Sebelah alis Eros terangkat. “Kau berkencan dengan salah satu karyawanku?”
“Bukan karyawan biasa,” timpal Steve yang sedang menyeduh kopi di ujung ruangan. “Manajer Divisi Keuangan yang baru, Angelica Kim.”
“Wanita berdarah Korea itu?” Eros menyeringai. “Sejak kapan kau menyukai tipe polos seperti itu?”
“Sejak melihat Selena.”
Steve nyaris menumpahkan kopinya sementara Eros dengan cepat mendelik. “Si*lan.”
Leo terbahak mendengar umpatan pria itu. “Cemburu, eh?”
“Sepertinya kehidupan pernikahanmu berjalan dengan lancar,” kata Leo sambil mendekati Eros dan menyentuh bahu pria itu dengan sebelah tangannya. Jemarinya bergerak turun—terus—hingga sampai di bagian bawah dada Eros yang keras. Leo menyeringai. “Tak kusangka dia begitu agresif.”
Steve mendekat dan benar-benar menyemburkan kopinya saat menemukan bekas lipstik yang tercetak cukup jelas di kemeja putih Eros. Sementara si empunya hanya melengos tak acuh sambil menepis tangan Leo yang tak berhenti terbahak.
**
Selena sesekali mendesah sambil melirik seorang pria berjas hitam yang sedang mengawasinya dari balik pilar-pilar besar sebuah pusat perbelanjaan itu. Eros bisa melihat segala hal yang dilakukannya meski pria itu tak melihat langsung, sebab kaki tangannya tersebar di mana-mana.
Memilih untuk tak acuh, Selena memasuki sebuah etalase yang menyediakan berbagai pilihan lipstik dari brand ternama. Sudah lama sekali sejak ia bisa berbelanja seperti ini. Menghirup udara bebas tanpa harus melihat wajah datar Eros yang kini terpampang di hadapannya setiap hari.
“Sepertinya warna ini cocok untuk Anda, Nyonya.”
Selena menoleh ketika seseorang tak sengaja menyenggol lengan kirinya dan hampir membuat tas yang tergantung di bahunya jatuh.
“Oh maaf—“ Pandangan mereka bertemu. “—Selena?”
__ADS_1
**
Seorang pelayan menaruh dua cangkir cokelat hangat di antara Selena dan Emilia yang masih sama-sama merapatkan bibir. Tak jauh dari meja yang mereka tempati, ada seorang wanita paruh baya yang menatap was-was ke arah mereka. Menerka-nerka siapa wanita yang mampu membuat Emilia menampilkan ekspresi terkejut saat tak sengaja bertabrakan tadi.
Emilia menjilat bibirnya, merasa tidak nyaman dengan kecanggungan yang terjadi setelah beberapa menit berlalu. “Sebelumnya, selamat atas pernikahanmu,” katanya memulai percakapan.
Selena melirik Emilia saat tengah menyesap cokelat hangatnya dan mengangguk pelan. Ia ingat, sebelum pesta pernikahannya berakhir, Alex dan Emilia memang sudah tidak terlihat lagi.
Keduanya kembali terlibat keheningan. Selena tak terlalu antusias untuk mengisi percakapan karena tidak ada hal yang perlu ia sampaikan. Pun karena mereka tidak terlalu akrab, meski kini sama-sama menyandang nama William.
Tapi Emilia benar-benar tak bisa membiarkan kecanggungan itu kembali menyelimutinya. “Apa pun yang terjadi,” Emilia kembali melirik Selena. “Aku harap kau dan Eros bisa berbahagia.”
Selena meletakkan cangkirnya dan menatap Emilia. Wanita itu memang baik, parasnya cantik dan setiap tutur katanya sangat sopan. Seperti para putri yang terlahir dari keluarga bangsawan. Nyaris tidak ada cela, bahkan dengan hanya mendengar kelembutan suaranya, siapa pun bisa jatuh cinta. Tapi keceriaan yang dulu sering ditampilkannya kini redup. Selena merasa ia sedang berhadapan dengan orang lain.
“Ya. Kuharap kau dan Alex juga berbahagia.”
Emilia tersenyum tipis. Dalam sudut pandangnya, Selena yang saat ini duduk di hadapannya adalah sosok wanita yang sangat tenang dan berkepala dingin. Dan ia pikir, Eros memang membutuhkan sosok yang seperti itu. Yang tahan banting, yang tak akan terus-terusan menangis saat disakiti. Karena Selena tidak mungkin membiarkan dirinya disakiti dua kali setelah penolakan cinta beberapa tahun lalu.
Tapi Emilia masih tidak mengerti alasan apa yang membuat Eros sampai-sampai mau menjilat ludahnya sendiri dengan menjadikan Selena istrinya padahal dulu telah ditolak mentah-mentah.
“Maaf mengganggu.”
Keduanya menoleh saat wanita paruh baya itu menghampiri mereka berdua. Emilia mengatakan bahwa wanita itu adalah asisten rumah tangganya.
“Tapi, ini sudah waktunya check up, Nyonya.”
Selena mengernyit. “Kau sakit?” katanya pada Emilia.
Emilia menggeleng sambil mengelus perutnya. Senyum malu-malu tampak di bibir wanita itu. “Tidak.”
“Kau...hamil?” Selena menyimpulkan.
“Sudah dua bulan.”
Selena tercenung. Dua bulan? Berarti saat di pesta ulang tahun Orlando waktu itu Emilia sedang mengandung?
Tidak mungkin.
__ADS_1
Eros...tidak mengetahuinya, kan?